Cincau Terakhir

Oleh :
Fahrul Khakim

Mungkin minggu ini bukan keberuntunganku. Aku mengusap peluh di keningku dengan frustasi. Barang daganganku belum habis terjual. Wisatawan yang datang juga sepi. Terjual sedikit berarti hanya segelintir uang yang aku dapat. Belum lagi yang harus aku setorkan. Puyeng kepalaku memikirkan semua itu. Aku haus sekali.

“Bang, es cincau satu.” pintaku pada tukang es. Aku butuh istirahat sebentar. Sudah tiga jam aku keliling area wisata Sunan Bonang menawarkan daganganku, membuatku lelah sekali. Aku sesap es cincau itu dengan penuh kenikmatan. Kesegarannya membanjiri kerongkonganku yang tadi gersang. Aku hembuskan napas panjang beberapa kali. Menenangkan diri. Setelah minumanku habis, aku mulai bekerja kembali. Tubuhku terasa lebih baik sekarang.

* * *

Kalau saja aku bisa jadi seperti Leonel Messi, pemain bola itu? Pasti aku nggak perlu capek-capek kerja. Duit mengalir deras ke kantong seperti air. Kalau tidak salah gajinya seminggu lebih dari 2 milyar, ya!

Ya Tuhan, aku sendiri seminggu paling banyak dapat seratus ribu. Sayangnya, aku ditakdirkan jadi pedagang asongan. Penjual makanan ringan keliling. Sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi jadi pedagang asongan. Sudah capek, labanya seuprit. Bapak juga pernah menawariku untuk bergabung dengannya ke Surabaya, jadi kuli bangunan di sana. Sepertinya lebih enak, makan, tempat tinggal, rokok, semuanya dikasih. Tapi sesuatu yang sudah kita dapatkan harus disyukuri, bukan? Itulah yang membuatku bertahan kerja di sini. Selain itu, aku juga menunggu THR Lebaran sebulan lagi. Tidak banyak, cuma lima puluh ribu rupiah. Tapi lumayan lah buat tambahan beli baju baru.

Terik matahari nyaris membuat rambutku terbakar. Siang ini pun nasibku masih sama seperti kemarin. Padahal aku sudah berjualan di bis kota, lalu ke terminal, balik lagi ke pantai bom, ke alun-alun, lalu ke kawasan Sunan Bonang. Hasilnya, cuma terjual dua-tiga saja.

Aku haus sekali sekarang. Ingin beli es cincau kesukaanku, tapi uangku tinggal sedikit. Kalo nekat, siang nanti aku tidak bisa makan. Paling murah ya minum air dari keran. Lagipula perutku nggak pernah sakit kok. Berarti aman.

Setelah dahagaku sirna, aku segera menuju ke area pariwisata. Sepertinya hari ini keberuntunganku, pengunjung hari ini lumayan banyak. Barang daganganku juga habis terjual.

Aku bahagia sekali karena hari ini aku bisa setor penuh ke pemilik dagangan. Tahu kan, pengasong seperti kami hanya distributor dari produsen makanan-makanan ringan. Aku juga dapat upah yang lumayan.

Menjelang senja aku beranjak ke masjid untuk jama’ah sholat Maghrib. Dalam perjalanan aku bertemu Trisno, temanku sesama pedagang, sedang duduk di trotoar jalan. Raut wajahnya sedih sekali, seperti mau menangis. Aku lirik dagangannya sebelum menyapanya, masih banyak.

“Tris, kenapa kamu?” tanyaku langsung. Dia menoleh lemah, menggeleng pertanda dia tak apa-apa. “Kamu sudah makan. Makan, yuk!” tawarku lagi. Sangat mudah menebak orang yang kelaparan seharian seperti dia.

“Tapi aku ora duwe duwek, Yudhi?” suaranya yang parau membuatku iba. “Yo wis, tak tukokno. Ayo, cepetan!” Aku paksa dia berjalan ke warung sederhana langganan kami. Trisno adalah orang yang baik. Sayangnya, dia juga sering labil dan tertekan. Dia lima tahun lebih tua dariku?yang baru lulus SMA tahun lalu. Dan istrinya sedang hamil tua sekarang.

Kami makan nasi pecel dengan lahap. Segelas air putih menjadi obat penawar dahaga kami. Setelah dia mulai tenang, aku mencoba mencari tahu masalahnya. Bukannya aku sok ikut campur atau apa? Yang jelas aku hanya ingin membantunya. Trisno dulu sudah sering membantuku. Dia lah orang baik yang pertama kali aku kenal sejak aku berkerja di kawasan wisata ini.

Aku ingat saat hari pertamaku kerja di sini, aku belum bisa berdagang dengan baik. Sehingga cuma sedikit uang yang aku dapat. Aku hampir menangis karena tidak punya cukup uang untuk beli makanan. Karena saking laparnya, aku pernah mencuri makanan, tapi kepergok Trisno. Dia benar-benar orang baik, dia membayar makanan yang aku curi dan mengajakku makan. Semenjak itu kami jadi akrab dan saling membantu.

“Istriku sebentar lagi melahirkan,” akhirnya Trisno mengaku juga setelah aku desak dengan halus. “Aku tak punya cukup uang untuk biaya bersalin. Bukannya aku tak mengusahakannya. Tapi seminggu yang lalu emakku sakit, Yud. Uangku habis untuk periksa dan nebus obat.” jelasnya terisak.

“Kan ada Askeskin, Tris. Itu lho, kartu untuk berobat gratis bagi keluarga kurang mampu.” aku malu menyebut kata miskin.

“Aku juga sudah ngurus ke Kepala Desa. Tapi prosesnya malah ribet. Apalagi emak sakit mendadak dan darurat. Aku bingung, Yudhi,” Mata Trisno berkaca-kaca. Ini pilihan yang sulit. Kadang dunia memang kejam. Kenapa orang miskin seperti kami diberi cobaan seberat ini? Dulu aku pernah marah pada Tuhan. Lulus SMA sebenarnya aku berniat kuliah. Merubah nasib keluargaku melalui pendidikan. Apalagi banyak Perguruan Tinggi Negeri yang menawarkan beasiswa bagi pelajar miskin berprestasi sepertiku.

Awalnya, aku tidak bilang pada keluargaku aku akan ikut SBMPTN(Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Tapi dua hari sebelum berangkat tes ke Surabaya aku memberitahu mereka. Bukannya restu dan dukungan yang aku dapat, tapi malah larangan. Mereka kira kuliah itu hanya menghambur-hamburkan uang. Belum lagi harus kos dan tetek bengek lainnya. Tapi aku tak menggubris larangan ortuku, keesokan harinya aku tetap berangkat tes. Biaya akomodasi ditanggung oleh wali kelasku yang sangat peduli padaku.

Sebulan kemudian pengumuman keluar. Aku lulus dengan sempurna. Mendengar kabar baik ini orang tuaku semakin gerah. Mereka secara terang-terangan mengecam tindakanku dan tidak akan membiayai kuliahku. Selamanya. Aku dan orang tuaku (terutama ayahku) sering bertengkar nyaris setiap hari. Guruku juga mencoba membujuk orang tuaku, tapi ayahku keras kepala. Saking sedihnya, aku jadi sakit. Terserang demam berdarah. Niatku untuk kuliah kandas karena kantong ayahku harus terkuras untuk membiayai pengobatanku. Mungkin benar kata pepatah itu. Restu orang tua adalah segalanya. Tak peduli seberapa cerdas dan beruntungnya dirimu. Setelah sembuh aku mencari peruntungan lain. Pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang layak. Ternyata meski di SMA aku cerdas, keberuntungan bukanlah kawanku. Karena hanya penolakan dan penolakan yang aku dapat di setiap tempat yang aku sambangi. Nasib ternyata menjadikanku sebagai pedagang asongan yang beruntung. Beruntung karena aku masih sehat walfiat lahir-batin.

Trisno tampak frustasi berat. Aku mulai mengalkulasi otakku. Berpikir. Aku sebenarnya masih punya simpanan uang dari upah setoran. Mungkin cukup untuk membantu Trisno. Perlahan senyum mengembang di wajahku. “Sudahlah, Trisno. Kamu tak usah sedih. Aku akan membantumu.”

* * *

Rasanya menyenangkan sekali jika kita bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Dadaku serasa mengembang. Aku semakin bersemangat bekerja. Kemarin aku meminjamkan semua simpananku untuk Sutrisno. Karena aku masih belum membutuhkannya. Awalnya dia menolak, tapi mengingat betapa daruratnya hal ini. Dia akhirnya mau. Kabarnya, semalam, sepulang dari kontrakanku, istri Trisno melahirkan putra pertama mereka. Aku turut bersuka cita. Mungkin benar, hidup harus dijalani sepenuh hati. Tak peduli seberapa miskinnya aku.

Bus yang membawaku dari terminal berhenti, aku turun dengan napas lega. Sebagian besar daganganku terjual habis di bis tadi. Aku sekarang bisa membeli es cincau pujaan hatiku. Ku dengar cincau bisa mengobati panas dalam. Aku beranjak pergi memesan es cincau di pinggir jalan. Aku sudah tak sabar menikmati manisnya. Mataku mengawasi sekeliling. Mencari tempat-tempat yang ramai, dimana aku bisa menjual barang daganganku. Aku menengok ke arah kawasan Sunan Bonang. Oh! Di sana ramai sekali. Ada dua bis pariwisata berjejer di sana. Ini rejekiku! Tanpa memperdulikan es cincau yang baru saja ku pesan. Aku segera melesat pergi. Berniat menyeberang jalan, tukang es itu memanggilku, “Mas, esnya gimana?”

“Simpan dulu, Pak. Nanti saya ambil,” jawabku sembari menoleh. Tukang es itu ingin mengatakan sesuatu yang lain, tapi mulutnya cuma ternganga.

Tiba-tiba sebuah mesin besar menghempaskanku. Tubuhku terpental ditabrak truk itu. Darah segar mengalir menghiasi tubuhku. Raga melepaskan jiwaku. Bumi sudah tak menginginkanku hari itu. Langit kota Tuban tiba-tiba mendung. Apakah akan hujan? Aku tidak tahu.

——— *** ———

Rate this article!
Cincau Terakhir,5 / 5 ( 1votes )
Tags: