Cinta Saidahlan

Oleh:
Hendrianto

Aku hari ini adalah cerminan dari rapalan doa-doa yang kupanjatkan pada-Nya. Aku sangat menyadari bahwa doa menjadi senjata yang sangat rahasia mengubah segalanya. Janganlah pernah berhenti untuk berdoa. Percayalah, setiap doa yang dirapal, selalu didengar-Nya. Setiap doa yang dipanjatkan, pasti dikabulkan-Nya.
Aku sudah membuktikannya. Hal yang dulunya mustahil bagi orang-orang, ternyata jika Dia yang telah berkehendak, maka kun fayakun; terjadi, maka terjadilah. Dan inilah kisahku. Izinkan aku berbagi cerita padamu tentang bagaimana doa bisa mengubah segalanya. Cerita ini kurangkai berdasarkan imajinasiku dari pengalaman suamiku saat ini; suami yang telah menjadi pendampingku yang saleh. Oh, ya, sebelum kukenalkan padanya, sebaiknya aku memperkenalkan diri terlebih dulu. Perkenalkan, namaku Saidah. Kalau nama suamiku, nanti kau juga kenal sendiri.
***

Kirai tak tahan lagi. Sakit hatinya sudah mencapai di ubun-ubun. Saban hari ia selalu dibuat sebal oleh tingkah suaminya. Sudahlah tidak ada lagi memberi uang harian, ini malah emas Kirai akan digadaikan pula.
“Enak saja kau menggadaikan emasku. Laki macam apa kau ini? Sudah tidak memberi uang harian, harta istri pun ikut kau embat! Tidak! Kembalikan emasku itu,” ucap Kirai setengah berteriak. Suara lantangnya, terdengar hingga ke tetangga sebelah.
“Pinjam aku dulu. Nanti akan aku kembalikan,” jawab Dahlan meyakinkan istrinya.
“Tidak!”
Prak! Dahlam naik pitam. Tangannya begitu ringan mendarat di pipi Kirai. Kirai menjerit kesakitan. “Sialan,” Dia merutuk kepada suaminya.
Dahlan berlalu. Ia tidak peduli dengan jeritan istrinya. Yang penting emas itu sudah ada dalam genggamnya. Kemudian ia keluar dari rumah petak sewaannya itu sambil menutup pintu dengan kerasnya.
Kirai tak hanya menangis pilu, tetapi ia selalu mengeluarkan sumpah serapah kepada suaminya. “Laki tak tahu diuntung! Menompang hidup saja dia ternyata samaku. Aku tak sudi lagi hidup bersama lelaki pemalas dan pejudi itu. Sialan, awas kau. Akan kulaporkan perbuatanmu ini kepada polisi.”
Begitulah, hingga akhirnya Kirai melaporkan segala sikap suaminya itu kepada polisi. Namun, berdasarkan keterangan dan alat bukti yang dikemukakan Kirai, polisi beranggapan kasus yang dialaminya belum memenuhi unsur KDRT ataupun pidana lainnya.
“Berdasarkan keterangan dan hasil visum, ini belum memenuhi unsur kekerasan, Bu.”
“Jadi, Bapak menganggap saya menyebarkan informasi bohong? Lihat Pak, emas saya sudah habis diambil laki saya itu. Dan coba lihat ini, pipi saya memerah karena tamparannya. Haruskah tubuh saya dicincang-cincang dulu baru dikatakan kekerasan?” Kirai meradang.
“Maaf, Bu, bukan begitu maksud kami. Sebaiknya ibu selesaikan dulu masalah ini secara kekeluargaan. Ini masih pada ranah internal keluarga, bukan tindak kriminal.”
“Ah, sudahlah Pak. Bapak sama saja dengan laki saya itu!” tegas Kirai. Ia pun meninggalkan kantor polisi dengan kecewa.
Maka, usaha selanjutnya adalah mengadu ke pengadilan agama. Tekadnya sudah bulat untuk melayangkan surat permohonan cerai. “Tiap hari aku makan hati berulam jantung. Sekarang, cukup sudah. Berpisah adalah jalan terbaik buat kita,” kata kirai membatin. Setelah melalui proses panjang yang alot, akhirnya Kirai dan Dahlan bercerai.
***

Panas terik menyengat kulit. Bulir-bulir keringat bercucuran di dahi lelaki bertato itu. Dari sorot matanya, tampak ia sangat lelah sekali. Ia terus mengayuh becaknya di bawah pancaran sang surya. Tenaganya tampak melemah. Hal itu terlihat dari genjotan kakinya. Tapi, demi menjaga pelayanannya kepada penumpang, ia harus kuat menahan lelah.
“Sudah lama membecak, Mas?” tiba-tiba penumpang yang berlindung dari bailk terpal becak berbicara. Mungkin si penumpang ikut merasakan keletihan si abang becak.
“Apa, Mbak…?” abang becak balik bertanya. Deru kendaraan di jalanan membuat suara penumpangnya tidak terdengar jelas.
“Mas sudah lama membecak?”
“Oh, belum terlalu lama, Mbak. Ya, sekitar 2 tahunan,” jawabnya seraya mengusap keringat yang bercucuran di dahi. “Oh, iya, Mbak, rumah Mbak masih jauh?” lanjutnya bertanya kepada si penumpang.
“Tidak, Mas, paling sekitar 10 menit lagi. Nanti ada simpang empat, belok ke kiri. Setelah itu, sekitar 300 meter dari simpang, sebelah kiri jalan akan ada “Pertamini”. Nah, di sanalah rumah saya.” jawabnya. “Sepertinya Mas sangat lelah. Ini saya ada Roti, makanlah dulu untuk mengganjal perut Mas,” lanjutnya seraya mengulurkan tangan di sela-sela terpal memberi roti.
“Aih, tidak usah Mbak.”
“Tidak apa, Mas. Terimalah,” bujuknya.
“Terima kasih, Mbak.” abang becak pun menerima sebungkus roti. Lantas roti itu dimakan sambil mengayuh becak. “Aih, jarang-jarang ada penumpang yang baik hati memberi makanan padaku,” ucapnya dalam hati.
“Bagaimana narik hari ini, Mas? Ramai tidak?” Lagi-lagi pertanyaan seperti itu hanya sekadar berbasa-basi demi menghilangkan keletihan abang becak.
“Untuk hari ini masih sepi, Mbak. Biasanya sih, lumayan Mbak,” jawabnya.
“Oh, begitu. Sabar saja, Mas. Mudah-mudahan setelah mengantar saya ini, penumpang Mas semakin ramai ya,” ucap penumpang berjilbab ungu itu, “oh, ya, Mas, air minumnya ada?”
“Ada, Mbak.”
“Baguslah, saya kira tidak ada pula. Jadi tidak enak saya, roti dikasih tetapi airnya tidak dikasih,” ujarnya.
“Mbak bisa saja. Ini saja sudah cukup, Mbak. Jujur loh Mbak, jarang-jarang ada penumpang yang berbaik hati kepada saya memberi makanan. Yang ada kebanyakan penumpang ilfiil melihat saya karena banyak tato gini,” jawab Abang Becak sembari menghentikan laju becaknya karena memang sudah sampai di tujuan, “Sudah sampai, Mbak,” lanjutnya.
Si penumpang pun turun. “Alhamdulillah … berapa, Mas?” tanyanya.
“Sepuluh ribu saja, Mbak.”
Lantas perempuan bertumbuh langsing itu memeberikan uang kertas nominal Rp10.000. “Ini, Mas,” ucapnya seraya menyodorkan uang, “oh, ya, Mas, saya tipikal orang yang melihat seseorang tidak dari fisiknya. Saya percaya, tampilan Mas yang urakan dan tatoan seperti ini, pasti menyimpan hati yang baik,” sambungnya.
Abang becak itu terlihat malu dan mukanya sedikit memerah. “Ah, Mbak bisa saja. Ya, sudah, saya lanjut dulu.”
“Iya, Mas. Oh, ya, kenalin nama saya Saidah.”
“Iya, Mbak. Saya Dahlan,” ucap abang becak singkat.
***

Dahlan merenung akan segala hal yang telah dilaluinya. Kegagalan rumah tangga bersama Kirai terus membayanginya. Ia sangat sadar bahwa penyebab keretakan dan kehancuran rumah tangganya bersama Kirai karena ulahnya sendiri: suka berjudi, minum-minuman keras, dan menggadaikan harta benda Kirai. Barang kali, wanita mana pun akan berbuat sama dengan Kirai jika diperlakukan seperti itu.
Tetapi begitulah, kejadian masa lalu itu tak lantas memberikan pengajaran bagi Dahlan. Saban hari uang yang dikumpulkannya dari hasil membecak itu habis entah ke mana rimbanya. Kecanduannya bermain judi togel dan segala jenis judi lainnya, serta minum minuman keras membuat hidupnya semakin tersiksa.
Benarkah Saidah mau menerima aku yang memiliki sifat buruk ini? Bisakah aku mengubah sikapku yang buruk ini? Pantaskah jika aku bersanding dengan Saidah yang lembut itu?” tiba-tiba pikirannya menerawang.
Ya, semenjak kedekatannya dengan Saidah, salah seorang pelanggan becaknya, ia acap merenung terhadap masa-masa yang telah berlalu. Hatinya semakin tersentuh ketika mengetahui bahwa kedekatannya dengan Saidah bukanlah sebatas abang becak dengan pelanggan saja, melainkan ada sebuah keinginan besar dari hati Saidah ingin bersuamikan Dahlan.
“Saya juga bingung, Mas. Entah kenapa hati saya ini begitu yakin ingin bersuamikan Mas,” kata Saidah ketika Dahlan menanyakan perihal kesungguhannya ingin menikah.
“Tapi, saya memiliki masa lalu yang buruk dalam berumah tangga. Saya juga memiliki sifat yang buruk, Saidah …” jawab Dahlan.
“Sifat seseorang itu berawal dari kebiasaan, Mas. Jika untuk berbuat buruk saja Mas bisa membiasakannya, tentu untuk membiasakan hal baik juga harus bisa.”
Dahlan diam ketika itu. Kata-kata itulah yang hingga kini terus diresapi dalam pikirannya. Namun, bayangan biduk berumah tangga masa lalu terus menghantui. Di satu sisi ia sangat trauma jika rumah tangga berantakan. Belum lagi kebiasaan buruknya yang hingga sekarang masih belum bisa ia tinggalkan.
Sekarang, keputusan berada di tangannya. Semua kebijakan harus segera diambil. Bagi Dahlan, tentu kesempatan untuk menikah yang kedua kalinya adalah kesempatan yang jarang bagi lelaki seperti dirinya.
***

Kami telah memilih, meski pilihan kami mendapat pertentangan dari berbagai pihak. Terutama pihak keluargaku. Meskipun aku seorang janda yang ditinggal mati suami, namun pihak keluargaku sangat tidak menyetujui rencanaku menikah dengan Mas Dahlan. “Saya yakin, Bu, Mas Dahlan itu adalah orang yang baik dan bertanggung jawab,” kataku ketika itu meyakinkan ibu.
Memilih adalah perkara gampang. Namun, mempertahankan pilihan itu merupakan hal yang luar biasa, dan pilihan kami berdua adalah hidup bersama dalam payung pernikahan. Dalam mempertahankan pilihan yang telah ditentukan itu, tak sedikit ombak dan badai menghadang bahtera rumah tangga kami.
Mas Dahlan masih saja bergelut dengan hobinya minum minuman keras dan berjudi, walaupun tidak sesering dulu. Masih saja ia tergoda dengan judi togel. Ia telah berusaha menguranginya. Akan tetapi, ketika ia didatangi mimpi, maka di sanalah muncul hasratnya untuk berjudi.
“Wah, mimpiku kali ini pasti petanda bagus untuk memasang togel hari ini.” Maka, Mas Dahlan pun memasang taruhannya terhadap tafsir mimpi yang telah didapatkan angka togelnya itu. Tetapi nahas baginya, seminggu beruntun ia memasang angka togel itu, tak kunjung juga ia beruntung; malah semakin buntung. Dan akhirnya, hal itu menimbulkan percik api di rumah tangga kami.
“Berpikirlah secara jernih, Mas. Ini hanyalah tipu daya setan. Tidak akan ada kekayaan dengan hasil berjudi. Percayalah. Aku rela Mas habiskan harta bendaku asalkan di jalan yang benar. Bukan di jalan judi seperti ini. Ambillah uang dan simpanan emasku itu untuk, Mas. Pakailah untuk membuka usaha.”
Begitulah, hingga nasihatku itu berujung pertengkaran dan makian Mas Dahlan padaku. Aku pun dengan sabar meredam emosinya. Jika Mas Dahlan sudah bernada keras, aku pun tiada berani lagi berkata. Diam dan menurti peritahnya, seraya terus merapal doa pada Yang Kuasa, karena kuyakin doa dapat mengubah segalanya.
Batam, Febtuari 2021

Hendrianto lahir di Tanjung Gadang, 12 Januari 1988. Pria yang akrab dipanggil Hendri ini merupakan guru di SMKN 3 Batam. Cerpen-cerpennya terbit di berbagai surat kabar. Novel Pena Arang Rumah Panggung dan kumpulan cerpen Kebaji Tanah Kuburan adalah buah penanya yang terbit pada tahun 2020. Ia bisa disapa di akun facebook dengan alamat akun Hendrianto.

—— *** ——–

Rate this article!
Cinta Saidahlan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: