Ciptakan Layangan Naga, Wage Mampu Bangkit dari Pandemi

Wage seorang sopir truk mengerjakan pesanan layang layang naga. Berkat usaha ini, ia berhasil bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

Belajar Otodidak, Banyak Pesanan hingga Luar Daerah dengan Harga Jutaan Rupiah
Kota Probolinggo, Bhirawa
Layang-layang tidak hanya menjadi mainan anak-anak. Remaja, dan dewasa juga kerap asik mengulur benang main layangan. Jika sudah hobi apapun dilakukan. Tak perduli harga tinggi dibeli juga. Di tengah pandemi Covid-19, beberapa usaha mengalami kehancuran. Tetapi, tidak dengan Wage dan teman-temannya ada peluang bisnis ditangkap remaja asal Wonoasih, Probolinggo ini.
Melihat kegilaan penghobi layangan yang rela merogoh kocek jutaan, membuat Agest, remaja RT 2 Gang Mangga, Kelurahan Sumber Taman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, memilih menjadi pengrajin layang-layang sowangan kepala naga. Sebelum ahli membuat layang-layang sowangan kepala naga, dia hanya membuat layang-layang biasa. Namun, ketika ada yang ngetrend layang-layang besar, diapun membaca peluang.
Tantangan muncul ketika dia mendapat pesanan membuat layang-layang besar atau sowangan. Dia pun berusaha keras, mengais ilmu ke siapapun terutama melalui internet YouTube. Alhasil, dia sudah bisa. “Yaa.. sekarang sudah bisa membuat layang-layang aneka macam. Sudah hampir setahun ini menjadi pengrajin layang-layang sowangan naga,” ujarnya, Selasa (11/1) lalu.
Hasil dari coba-coba dan belajar otodidak ini, Remaja Gang Mangga itu kemudian memperlihatkan hasil kerajinan tangannya itu kepada anggota keluarga dan teman-temannya. Ternyata, keluarga dan teman-temannya mendukung. Hasil kreasinya mendapatkan pujian dan dukungan.
Apalagi ketika dicoba diterbangkan ternyata layang-layang itu melayang dengan elok dan cantik. “Dari sana, saya kemudian mencoba memasarkan layang-layang kreasi saya ini melalui media sosial dan alhamdulillah banyak yang minat,” ujarnya.
Memasuki musim kemarau serta peringatan hari besar seperti Kemerdekaan RI, layang-layang sowangan naga kreasinya pun laris manis.Mereka mengaku sampai kebanjiran order pembuatan layang-layang.
Order layang-layang tidak hanya datang dari Kota Probolinggo saja, bahkan layang-layang Agest sudah terbang menghiasi langit-langit kota lain dengan harga yang bervariasi mulai Rp4 juta hingga Rp5 juta tergantung ukuran, panjang serta tingkat kesulitannya. “Alhamdulillah, saat musim kemarau juga hari besar seperti HUT RI dan lainnya ramai orderan Mas. Tidak hanya dalam kota, pesanan juga datang dari luar daerah,” tututurnya.
Dengan terbuka, Agest menceritakan, bagaimana kesulitan membuat layang-layang sowangan naga. Diakui sebenarnya tidak terlalu sulit karena hanya membutuhkan ketelatenan merangkai satu persatu motif kain parasit bahan layang-layang tersebut.
Tahap awal pembuatan layang-layang ini, dimulai dari membuat rangka dari bambu, lalu pemotongan kain parasut, dan spon api. Spon busa dan benang sesuai bentuk yang sudah dirancang
Untuk menyelesaikan satu buah layang-layang kepala naga dengan panjang 150 sentimeter membutuhkan waktu selama 30 hari. Agest juga menyebut, kreasi layang-layangnya ini bisa membuatnya bertahan di tengah pandemi yang masih melanda. Selama mengerjakan layang-layang ini saya kerjakan bersama anggota keluarga saya yang lain,” ujar Agest.
Berbagai cara untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi dilakukan oleh masyarakat, juga dilakukan Agest bersama Wage Cahyo Laksono. Bapak 3 anak yang sebelumnya bekerja sebagai seorang sopir truk kini mulai mencoba bangkit dengan menekuni hobi masa kecilnya yakni membuat layang-layang naga. Ia melakukannya setelah pekerjaannya sebagai sopir truk terdampak pandemi covid-19.
Keterampilan membuat layang-layang naga ini diperolehnya secara otodidak. Tantangan dari dalam dirinya untuk bisa menjadi pengrajin layang naga ia taklukkan dengan mempelajari cara membuat layang naga tersebut dari laman YouTube. “Hampir satu tahun ini menjadi pengrajin layang-layang sowangan naga,” katanya.
Hasil dari coba-coba dan belajar otodidak itu awalnya memperlihatkan ke anggota keluarga dan teman-temannya. Ternyata keluarga dan teman-temannya memuji hasil kreasinya tersebut dan ketika dicoba untuk diterbangkan ternyata layang naga itu bisa terbang dan nampak indah.
“Dari sana saya kemudian mencoba memasarkan layang-layang kreasi saya ini melalui media sosial dan Alhamdulillah banyak yang minat,” ujarnya. Memasuki musim kemarau serta peringatan hari besar seperti Kemerdekaan RI, layang naga kreasinya pun laris manis, Dia mengaku kebanjiran order pembuatan layang-layang.
Order layang-layang tidak hanya datang dari Kota Probolinggo saja.namun juga kota-kota lainnya, Harga layang-layang naga tersebut bervariasi mulai Rp 4 juta hingga Rp 5 juta tergantung ukuran panjang serta tingkat kesulitannya. “Alhamdulillah saat musim kemarau juga hari besar seperti HUT RI dan lainnya ramai orderan, Mas. Tidak hanya dalam kota, pesanan juga datang dari luar daerah,” ungkapnya.
Wage mengaku bahwa membuat layang-layang sowangan naga sebenarnya tidak terlalu sulit karena hanya membutuhkan ketelatenan dalam merangkai satu persatu motif kain parasit yang menjadi bahan layang-layang. Ia juga mengaku untuk menyelesaikan satu buah layang-layang kepala naga dengan panjang 150 cm membutuhkan waktu selama 30 hari. Kreasi layang-layangnya ini bisa membuat kami bertahan di tengah pandemi yang masih melanda, tambahnya. [wiwit agus pribadi]

Tags: