CORONA

Oleh :
Asep Perdiansyah

CORONA

Corona datang menyerang
Dunia menjadi tak tenang
Tempat keramaian seketika menghilang
Matahari bersinar dengan terang

Keluar rumahpun dilarang
Sekolahpun tak perlu datang
Ada orang yang harus bekerja hingga petang
Agar bisa membayar hutang

Manusia memakai masker sebagai penghalang
Mencuci tangan hingga cemerlang
Corona semakin berkembang
Tenaga medis mulai menghadang

Tenaga Medis berjuang
Namun banyak yang tumbang
Masyarakat perut tak kenyang
Jalanan kini lenggang

Masyarakat jiwanya melayang
Air mata terus berlinang
Akankah Corona segera pulang
Agar virus segera menghilang

Pemerintah mulai tertantang
Bantuan mulai datang
Relawan terus bejuang
Agar Corona segera menghilang

Tuhan apakah Engkau mulai meradang
Melihat dunia yang selalu perang
Nilai moral sudah menghilang
Ribuan nyawa kini melayang

Corona segeralah engkau pulang
Corona segeralah engkau menghilang
Agar dunia ini menjadi tenang
Sudah cukup air mata berlinang

Lampung, 13 April 2020

NADA KEHIDUPAN

Karya Asep Perdiansyah
Terdengar harmonisasi nada
Merasuk dalam palung hati
Mengukir kumpulan irama

Memberikan ketenangan jiwa
Suara petikan gitar nan indah
Membuat cinta mengalir dalam darah
Denting piano berbunyi

Menghilangkan resah dalam hati
Suara manis menggiringi
Memberikan oksigen dalam nafas ini
Lagu itu akan selalu terkenang
Mengikat pada pikiran yang tenang

Kehidupan ini penuh dengan nada-nada
Mengalun seiring jalannya waktu
Mengisi kesedihan dan kebahagiaan
Hingga nafas ini terhenti

Rindu selalu menghiasi
Cinta selalu menemani
Berikan nada terbaik
Untuk menjalani kehidupan ini

BENCANA
Karya Asep Perdiansyah

Insan berhamburan
Anak kecil menangis
Ribuan nyawa melayang

Atap-atap hancur lebur
Hutan kini gundul
Gunung kini tandus
Sungai kini penuh sampah
Laut kini penuh limbah

Dosa apa hambamu ini
Apakah ini ujian
Apakah ini murkaMu
Alam sudah tak seimbang

Engkau salahkan hutan
Engkau salahkan gunung
Engkau salahkan sungai
Engkau salahkan laut

Hutan kau tebangi
Gunung kau rusak
Sungai kau kotori
Laut kau cemari

Maksiat merajalela
Orang tamak dimana-mana
Ampuni hambamu yang lemah ini
Mungkin ini cara untuk mengingatmu

Lampung, 13 Desember 2018

GURU
Karya Asep Perdiansyah

Guru
Embun pagi berkilau
Engkau telah bersiap
Membawa segudang ilmu
Melewati jalan sempit berliku
Engkau selalu tersenyum
Memberikan salam hangat
Kepada generasi penerus bangsa
Semangatmu bagaikan petir
Guru
Berjuang tanpa lelah
Banyak orang sukses dari kepalamu
Sikapmu menjadi teladan
Sebagai bekal mengarungi kehidupan
Guru
Engkau adalah udara
Selalu memberi kesejukan
Kepada insan yang kering
Engkau sirami air agar tumbuh subur
Tapi lihat rumahmu
Atapnya bocor ketika hujan
Engkau menahan perihnya rasa lapar
Namun Engkau selalu ikhlas dan bersabar
Guru
Semoga Allah membalas jasamu
Muridmu selalu mendoakanmu
Engkaulah pelangi
Memberi warna dalam kehidupan ini

Lampung, 20 Februari 2019

HUJAN
Karya Asep Perdiansyah
Angin berhembus
Dedaunan menari
Awan bekejaran
Petir menampakkan kilaunya

Air jatuh ke bumi
Membasahi dedaunan yang mati
Pohon berjatuhan
Gunung kini tak mempunyai rambut

Air mengalir ke jalan
Air mengalir ke rumah-rumah
Jalanan menjadi lumpuh
Rumah-rumah terseret air

Sampah memenuhi sungai
Saluran air terbungkam mulutnya
Anak kecil bermain digenangan air
Ayam dan Bebek berteriak ketakutan

Gunung sudah lelah
Pohon-pohon mati terkubur
Sungai telah bosan
Sampah menjadi hiasan

Hai insan manusia
Hijaukan gunung dan hutan
Jernihkan aliran sungai
Demi masa depan anak cucu

SEPATU
Karya Asep Perdiansyah
Sepatu selalu menemani kaki melangkah
Sepatu selalu berpasangan
Seperti kehidupan ini ada hitam dan putih
Sepatu engkau tetap tegar walaupun selalu diinjak

Sepatu menemani langkah generasi penerusbangsa
Sepatu terkadang engkau tak terawat
Rusak berlubang seperti jalan-jalan di negeri ini
Terkadang engkau bau seperti samaph yang berserakan

Sepatu engkau ada dimana-mana
Terkadang engkau di dalam gedung pemerintahan
Sepatu ada yang bersih
Sepatu ada pula yang kotor

Sepatu ada yang harganya mahal
Hanya bisa dipakai insan bergelimang harta
Sepatu ada yang harganya murah
Hanya bisa diapakai rakyat jelata

Sepatu ada yang dipajang dietalase
Ada pula yang dipajang di kaki lima
Sepatu mewah banyak disukai wanita
Sepatu bekas selalu direndahkan

Sepatu engkau kelak akan terkubur tanah
Sepatu semahal apapun akan tetap menjadi alas kaki
Sepatu melangkah lah kejalan kebaikan
Sepatu memberi makna kehidupan

Tentang Penulis :
Asep Perdiansyah, lahir di Bandar Lampung, 03 Februari 1989. Menempuh Sarjana S1 FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Lampung, dan S2 Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (MPBSI) Universitas Lampung. Beberapa buku antologi puisinya “Cerita Tentang Kita”, “Di Ujung Jalan”, dan “Time Line”. Seorang Kepala SMK Maharati Kalimanatan Tengah

Rate this article!
CORONA,5 / 5 ( 1votes )
Tags: