Cuaca Ekstrim, Petani Kecamatan Sumber Kec Probolinggo Alami Kerugian Miliaran

Cuaca ekstrim puluhan ha tanaman kentang rusak.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kabupaten Probolinggo, Bhirawa
Awal tahun ini, Kabupaten Probolinggo dilanda cuaca ekstrem. Petani kentang di Kecamatan Sumber pun merasakan dampaknya. Tanaman Kentang banyak yang rusak, akibat hujan yang turun dengan intensitas tinggi. Khususnya Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, mengatakan hampir semua tanaman kentang di Sumber rusak. Sebab, saat ini wilayah Sumber, sering turun hujan deras. Hal ini dikatakan Edi Piter, salah satu petani kentang wilayah Sumber, Kamis 23/1/2020.
“Hampir semua tanaman kentang di Sumber rusak. Salah satu penyebabnya karena hujan terus menerus. Kondisi itu membuat daun tanaman kentang rusak sampai kentangnya habis,” katanya.
Edi mengaku, berbagai upaya telah dilakukan bersama petani lain untuk melindungi tanaman kentang dari cuaca ekstrem. Namun, hasilnya tak memuaskan. Saat ini banyak tanaman kentang mati. “Terlalu sering diguyur hujan deras. Kalau sudah begini, tidak bisa berbuat banyak,” ujarnya.
Akibat kerusakan itu, menurutnya, petani mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Edi mengaku, petani merugi sekitar Rp 50 juta untuk tanaman kentang dengan luas 1 hektare. Untuk petani yang punya tanaman kentang seluar 10 hektare, kerugian bisa sampai setengah miliar rupiah. “Ya, itu untuk biaya bibit, pupuk, dan biaya perawatan lainnya,” jelasnya.
Hal serupa diungkapkan Sudir Supriadi, petani kentang asal Desa Wonokerso. Ia mengaku juga mengalami kerugian karena tanaman kentangnya rusak. Bahkan, tanaman kentang miliknya gagal panen. Padahal, rata-rata di kawasan tempat tinggalnya umur tanaman kentang sudah 50-60 hari. Sebulan lagi, tanaman kentang itu seharusnya sudah bisa dipanen. “Tanamam kentang saya rata-rata berumur 50-60 hari. ternyata kena hujan terus-menerus. Akhirnya rusak,” ungkapnya.
Sebelum kentang rusak, menurutnya, kondisi fisik kentang berubah. Yakni, ada bercak hitam di daun. Kemudian lamban laun, daun membusuk dan itu berlangsung sampai tanaman kentang habis. “Dan ini semua hampir terjadi di seluruh desa di Kecamatan Sumber,” tuturnya.
Petani kentang di Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo mengeluh. Sebab, tanaman kentangnya rusak oleh guyuran hujan dengan intensitas tinggi. Kerugian para petani ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Berbagai upaya terus dilakukan para petani demi mencegah kerusakan. Tetapi hasilnya tak memuaskan, hingga tanaman kentang mereka akhirnya mati. Kebanyakan hujan, ya begini jadinya. Kami sendiri juga tak bisa berbuat banyak, ungkapnya.
Di Kecamatan Sumber, luasan tanaman kentang mencapai ratusan hektar lahan yang tersebar di berbagai desa. Karenanya, kerugian oleh gagal panen kentang ini ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Petani kentang di lereng Pegunungan Tengger gundah gulana. Sebab, intensitas hujan yang tinggi membuat tanaman kentang mereka rusak. Cuan kentang di depan mata pun melayang, tandasnya.
Petani pun, memanen dini umbi kentang meski belum cukup umur. Demi meminimalisir kerugian yang akan didapat. Gagal panen itu, membuat cuan kentang yang siap masuk kantong pun melayang. “Bisa dipanen tapi buahnya kecil-kecil, soalnya masih dalam masa pembentukan buah. Terus rusak, ” tandas Sudir.
Lebih lanjut Edi Piter mengatakan, modal awal untuk bertani kentang sekitar Rp18 juta untuk satu hektarnya. Jumlah itu, membengkak hingga Rp40 – Rp50 juta. Biaya tersebut untuk pembelian bibit tanaman kentang, hingga perawatan dan operasional lainnya.
Sudir, seorang petani kentang mengaku, untuk luas lahan 1 hektare, dibutuhkan modal Rp 25 juta – Rp 35 juta. Itu belum termasuk bibit kentang. Sebab, petani sayur tidak menghitung harga bibit kentang yang bisa Rp 10 juta – 15 juta untuk lahan 1 hektare.
Saat panen dan hasil bagus, petani bisa dapat kentang sampai 10 ton. Sementara harga kentang saat ini hanya Rp 4.000 per kilogram. Dengan hasil panen di atas lahan 1 hektare, penjualan hanya dapat Rp 40 juta. Sedangkan biaya produksi untuk lahan 1 hektare sekitar Rp 35 juta.
Harga kentang sekarang Rp 4.000 per kilogram. Harga itu sangat murah dan petani pasti rugi, kata perangkat desa Wonokerso itu.
Karena itu diakui Sudir, sebagian petani memilih untuk membiarkan kentang mereka atau tidak panen. Sambil menunggu harga kentang naik. Sebab, kentang tidak akan membusuk, walaupun tidak langsung dipanen. Bahkan bisa sampai 2 bulan dibiarkan tidak dipanen, tidak masalah, jika cuacanya baik, lain halnya jika cuaca seperti sekarang ini, kalau tidak segera panen maka akan membusuk akibat cuaca ekstrim ini, tambahnya.(Wap)

Tags: