Degradasi Demokrasi Indonesia ?

hasnan-bachtiarOleh :
Hasnan Bachtiar
Peneliti Filsafat di Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang

DI SATU SISI, semarak pesta demokrasi di negeri ini begitu meriah. Pemilihan Presiden Republik ini, akan segera diselenggarakan. Namun di sisi lain, rencana kenaikan tarif dasar listrik per satu Juli 2014 mendatang, membuat leher rakyat kecil tercekik hebat. Seolah tidak ada hubungan antara jargon politik yang memihak rakyat, dengan penderitaan rakyat itu sendiri.
Sebenarnya, persoalan ini kompleks. Mungkin pemerintah memiliki perhitungan lain, mengenai bagaimana memakmurkan rakyatnya. Tetapi kenyataannya, 16 tahun Reformasi bergulir, harga listrik, terus menukik tajam ke atas. Jelas, kenaikan listrik ini memaksa rakyat miskin menjadi semakin miskin. Walau demikian, hanya para papa dan mereka yang tidak berpunya itulah, yang mampu merasakan penderitaannya sendiri.
Masalah penghapusan subsidi, selalu dijadikan sebagai senjata ampuh, untuk mengafirmasi segala kepentingan politik kekuasaan. Apapun kebijakan pemerintah yang disetujui oleh parlemen negeri ini, nyatanya sama sekali tidak dinikmati oleh seluruh rakyat. Akar persoalannya adalah, tatkala pengambil kebijakan merasa benar sendiri, sementara tidak merasakan jeritan jiwa rakyat kecil, maka sungguh demokrasi Indonesia telah terdegradasi.
Bukankah demokrasi yang sejati memihak seluruh rakyat? Akan tetapi, mengapa hanya memihak kepentingan penguasa semata? Apabila roda pemerintahan berputar, dengan cara menutup mata, hati dan telinga, maka acuh tak acuh adalah panglima dalam membangun Indonesia. Jelas ini bukan program pembangunan bangsa dan negara, tetapi penghancuran. Suara batin rakyat menjelma debu-debu kering di padang tandus, sementara para pemimpin adalah angin yang menghempaskannya.
Degradasi Demokrasi Indonesia
Barangkali demokrasi di negeri ini sedang sekarat. Gejala-gejala yang tampak di permukaan menunjukkan bahwa, terdapat jarak yang begitu jauh, antara janji penguasa dan realisasinya. Mereka berjanji memihak rakyat, tetapi nyatanya menindas rakyat. Mereka juga berkata akan menjamin keadilan sosial dan kemakmuran, tetapi malah otoriter, diskriminatif, melanggar HAM dan memiskinkan rakyatnya sendiri.
Sungguh mengherankan bila negara yang berdasar Pancasila ini, memiliki demokrasi yang terdegradasi dalam jurang kepalsuan. Demokrasi yang seharusnya menjalankan segala “Sabda Rakyat”, malah meminta agar rakyat itu sendiri yang melayani para penguasa. Kredo “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” diselewengkan menjadi “menjerat rakyat, menghisap rakyat dan memiskinkan rakyat”.
Peletak dasar falsafah demokrasi mutakhir, Mahatma Gandhi menandaskan bahwa, tulang punggung demokrasi bukan sekedar kebebasan. Tetapi juga kerja keras untuk membangun diri rakyat sendiri, secara mandiri, merdeka dan otonom. Hal ini, sama sekali tidak membuka ruang, bagi tumbuh suburnya kebebasan untuk “mengakali” rakyat. Sebaliknya, rakyat yang mesti memiliki kemerdekaan untuk menggapai kesejahteraan diri mereka sendiri.
Hal yang sama juga pernah diajukan oleh keempat pendiri bangsa ini, Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir dan Tan Malaka. Kemerdekaan atau kebebasan adalah hal yang sangat fundamental. Demikian pula dengan nasionalisme. Akan tetapi keduanya, harus ditegakkan untuk tujuan utama memakmurkan rakyat. Namun, di tengah kepemimpinan Orde Lama, justru kebebasan dihapus, dengan dalih untuk mempercepat meraih kemakmuran bangsa itu sendiri.
Sungguh ironi ini semakin ajeg, adiluhung dan anti kritik, tatkala ada di tangan pemerintahan Orde Baru. Atas nama pembangunan, kemerdekaan dianggap sebagai suatu bentuk kejahatan. Fakta yang tidak dapat dibantah adalah, lahirnya Undang-Undang “Sapu Jagat”. Melalui ketentuan hukum tersebut, siapa saja yang memiliki pendapat berbeda dengan kepentingan penguasa, maka dianggap subversif.
Pasca 1998, terbitlah Reformasi politik Indonesia. Namun, Reformasi juga tidak merubah hakikat berdemokrasi di negeri ini. Walau kemerdekaan dan kebebasan mendapatkan tempatnya, akan tetapi kemakmuran dan kesejahteraan menjadi mimpi di siang bolong. Semua orang, termasuk para pemimpin, sangat keranjingan untuk memenuhi kepentingan politiknya masing-masing, sayangnya alpa dalam membangun negeri ini. Sekali lagi, kesejahteraan adalah mimpi yang tak pernah diapresiasi.
Menuju Demokrasi Sejati
Fenomena kenaikan harga listrik yang memiskinkan rakyat kecil, jelas menjadi “tanda” akan adanya penghianatan terhadap demokrasi itu sendiri. Dengan kata lain, pemerintah yang selalu saja menyusahkan rakyat, sama sekali tidak layak disebut sebagai agen demokrasi. Dalam konteks ini, pemerintah sama sekali bukan representasi dari rakyat. Dengan demikian, sungguh ironis bila negara ini, bukanlah negara kerakyatan.
Namun, bukan berarti tidak ada jalan keluar. Sesungguhnya, kunci keberhasilan berdemokrasi ada di tangan para pemimpin yang baik. Bila masa lalu bukanlah teladan kebajikan, maka masa kini harus merencanakan masa depan yang cerah. Para calon pemimpin negeri ini, harus memiliki program untuk mengembalikan Indonesia menuju kepada demokrasi yang sejati. Demokrasi yang sejati, adalah demokrasi yang menjunjung tinggi keadilan sosial, martabat kemanusiaan dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Kedua calon pemimpin negeri ini, baik Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla, memiliki segudang keunggulan, yang berpotensi untuk membawa Indonesia menuju demokrasi yang sesungguhnya. Seluruh rakyat, memiliki kemerdekaan utuh dalam memilih, siapa calon pemimpinnya. Keduanya adalah pilihan yang baik, tatkala berjanji menjamin kebebasan dan kesejahteraan rakyat, serta mampu merealisasikan janjinya tersebut.
Walaupun demikian, keduanya akan menjadi pilihan yang sama buruknya, tatkala nanti menjadi pemimpin, yang terus-menerus memiskinkan rakyat jelata. Sebenarnya, rakyat kecil hanya butuh beras yang murah, bensin yang murah, listrik yang murah, biaya kesehatan, pendidikan dan seluruh kebutuhan hidup lainnya, yang terjangkau bahkan oleh orang termiskin sekalipun. Pada akhirnya, marilah bersama-sama bergotong-royong untuk menyelamatkan demokrasi Indonesia.

——— *** ———-

Rate this article!
Tags: