Demokrat Gagal Manfaatkan Peluang Politik

Dr H Soekarwo

Dr H Soekarwo

(Caleg Tak Turun ke Bawah)
Surabaya, Bhirawa
Kegagalan Demokrat mendulang suara di Jawa Timur dalam Pemilu kali disebut akibat kurang membaurnya para Caleg Demokrat dengan para calon pemilih. Salah satu buktinya menurut ketua DPD Demokrat jatim, Soekarwo, dengan banyaknya pemilih yang mencapai 40 persen lebih hanya mencoblos partai saja.
Soekarwo mengakui, kegagalan para caleg Partai Demokrat di Jatim merebut suara terbanyak dikarenakan mayoritas jarang atau kurang membaur  dengan calon pemilih. Padahal membaur atau bertemu dengan calon pemilih dapat meningkatkan keterikatan emosional dan psikologis karena telah disentuh langsung.
“Kurangnya sentuhan langsung dari para caleg ini saya kira tidak hanya dilakukan para caleg Demokrat, tapi juga partai lain. Seharusnya sejak jauh-jauh hari para caleg ini sudah mempersiapkan diri untuk mendekat pada rakyat agar mereka lebih dikenal,” katanya, dikonfirmasi, Minggu (13/4).
Kekurangan itu, lanjut Pakde Karwo-sapaan lekat Soekarwo, menjadi sebab utama penurunan yang signifikan hampir di seluruh wilayah Jatim. “Hampir 40 persen pemilih di Jatim mencoblos partai, bukan nama calegnya. Ini kan menandakan caleg tidak ada upaya untuk mendekati pemilih,” tegasnya.
Apakah ini bukti kegagalan partai melakukan pembinaan terhadap caleg ?, mantan Sekdaprov Jatim buru-buru membantahnya. Menurut dia, pengalaman di Pemilu sebelumnya yang lebih menjual figur juga turut mempengaruhi.
“Saat ini partai lain memliki kooptasi (pengaruh pemimpin) masing-masing. PDI ada, dan Gerindra juga ada. Nah Pak SBY sudah tidak mencalonkan lagi. Jadi tidak ada kemewahan poltik lagi,” kata Pakde Karwo sambil tertawa.
Kondisi ini, katanya, akan menjadi bahan evaluasi ke depan bagi Partai Demokrat supaya ketergantungan terhadap satu figur saja bisa dihilangkan. Namun Pakde Karwo tetap optimis pada hitung manual nanti perolehan kursi di Jatim bisa mencapai sekitar 14 kursi.
Analisis senada juga diungkapkan pengamat politik Universitas Wijaya Kususma, Andri Arianto. Menurutnya banyak sektor pemilih yang tidak digarap oleh Partai Demokrat justru discover oleh partai lain terutama PDIP dan Gerindra.
Andri menyebut sektor pertanian, kesehatan, mineral dan pertambangan serta kemiskinan tidak banyak dimasuki oleh Caleg Demokrat meskipun sebelumnya berposisi sebagai pemenang Pemilu 2009. Padahal sektor-sektor public yang popular dan membutuhkan penanganan riil ini bakal menjadi persepsi posistif dalam masyarakat.
“PDIP dan Gerindra utamanya melihat peluang ini dan menggarapnya lebih intens termasuk memberikan perlindungan yang kongkret di lapangan. Pel,uangnya sama-sama besar, tapi memang Demokrat tidak memanfaatkannya,” terang pria yang ahli di bidang sosiologi politik ini.
Sementara terkait perolehan kursi Partai Demokrat di DPRD Jatim, ketua DPD Demokrat jatim Soekarwo menyebut perolehan sampai 14 kursi. “Dari hitungan internal Demokrat, kita sudah berada dalam kisaran 13,7 persen. Makanya saya optimis paling tidak kita akan punya 14 Kursi di Dewan Jatim. Memang dibandingkan pemilu sebelumnya jumlahnya merosot tajam,” tegasnya.
Diakui Pakde Karwo, perolehan suara ini di luar target yang di canangkan sebelum Pemilu lalu yakni 22 kursi. “Seperti yang saya katakan tadi, seharusnya variabel dominan yang bisa mempengaruhi adalah caleg, bukan hanya partai. Secara umum lebih disebabkan kekurangan caleg kita dalam mendekati pemilih,” pungkasnya.¬† [iib]

Tags: