Desa di Kabupaten Malang Berpotensi Jadi Program One Village One Destination

Destinasi Wisata di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, yang berbasis wisata edukasi pertanian yang dibangun NK Café. [cahyono/Bhirawa]

Kab.Malang, Bhirawa.
Kabupaten Malang kini memiliki 378 desa dan ditambah 12 kelurahan, yang tersebar di 33 kecamatan. Setiap desa berpotensi dijadikan Program One Village One Destination atau Satu Desa Satu Destinasi. Program yang akan dikembangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang, diharapkan bisa menaikan Pendapan Asli Daerah (PAD).

Dari masing-masing desa, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebupadayaan (Diparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara, Minggu (24/1), kepada wartawan, memiliki keunggulan sendiri-sendiri, baik itu dari segi ketersediaan alam, wisata, produk hingga Sumber Daya Manusia (SDM). “Sudah ada beberapa desa yang saat ini memiliki desinasi wisata, yang hal itu telah meningkatkan bertumbuhan ekonomi masyarakat setempat,” ujarnya.

Menurut dia, Program Satu Desa Satu Desinasi sudah diajukan kepada Bupati Malang HM Sanusi. Sehingga dengan program tersebut, hal ini sebagai acuan kepada setiap desa untuk berlomba-lomba menampilkan potensi terbaikknya.

Cara yang dapat dilakukan setiap desa agar dapat bekerja sama dengan kepala desa, karang taruna maupun pengusaha. Sedangkan di Kabupaten Malang sudah ada puluhan desa yang sudah mengembangkan desa wisata. Diantaranya, Desa Wisata Gubuk Klakah, di Kecamatan Poncokusumo, Wisata Desa Pujon Kidul, di Kecamatan Pujon, dan Nendhes Kombet (NK) Cafe di wilayah Kecamatan Karangploso.

“Desa-desa yang sudah memiliki desinasi wisata, tentunya sudah menambahkan Pendapatan Asli Desa (PADes). Serta dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat setempat,” papar Made.

Seperti Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, terang dia, kepala desanya dan Camat telah bekerjasma dengan pengusaha, sehingga bisa menciptakan desinasi wisata baru. Sedangkan desinasi wisata yang dibangunnya itu, yakni wisata edukasi pertanian, jogging trak, cafe, lapangan mini soccer, dan landasan olahraga paramotor. Untuk lahan sebagai tempat wisata, sebagian menggunakan tanah kas desa dan tanah milik pengusaha.

“Dengan adanya desinasi wisata baru di wilayah Desa Ampeldento tersebut, maka secara langsung akan mengangkat perekonomian masyarakat ditengah Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), serta telah dapat meningkatkan PADes,” tutur Made.

Secara terpisah, pemilik NK Cafe Joni Sujatmoko mengatakan, jika pihaknya membangu tempat wisata di Desa Ampeldento telah bekerjsama dengan kepala desa dan Camat Karangploso. Sehingga dengan menjalin kerjasama itu, maka telah tercipta desinasi wisata desa.

Namun, dalam kerjasama dengan pihak desa, masih terjadi masalah dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yakni terkait perizinan tanah kas desa. “Dari masalah itu, kadang pengusaha enggan bekerjasama dengan desa, karena masih adanya kepentingan-kepentingan lain,” ungkapnya.

Intinya, lanjut dia, pengusaha tidak hanya mementingkan diri sendiri dalam mendapatkan keuntungan, tapi desa juga mendapatkan keuntungan yang masuk pada PADes. Begitu juga dengan masyarakat, selain tenaga kerja kita rekrut dari warga asli desa setempat, bangunan yang berada diatas lahan milik desa akan menjadi aset desa. Dan tentunya itu telah diatur dalam perjanjian kerjasama antara desa dan pengusaha.

Contohnya, bangunan jogging track, lapangan soccer, dan landasan paramotor kita bangun diatas tanah kas desa, dan itu akadnya kerjasama dengan desa. “Dan selanjutnya nanti perjanjian kerjasama itu habis, maka tanah kas desa akan dan fasilitasnya kita serahkan ke desa, yang nantinya akan dikelola oleh BUMDes,” pungkas Joni.[cyn]

Tags: