Dewan Soroti Hutan Oro-Oro Ombo

Kawasan hutan Oro-Oro Ombo yang telah berubah menjadi lahan pertanian dan peternakan kuda pacu mendapatkan sorotan dari Komisi A DPRD Kota Batu.

Kawasan hutan Oro-Oro Ombo yang telah berubah menjadi lahan pertanian dan peternakan kuda pacu mendapatkan sorotan dari Komisi A DPRD Kota Batu.

Batu,Bhirawa
Puluhan hektar area hutan di Desa Oro Oro Ombo telah beralih fungsi. Selama  4 tahun tahun terakhir, upaya penataan kembali atau redesign kawasan yang dilakukan Perum Perhutani belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Akibatnya, beberapa kawasan hutan yang ada telah dimanfaatkan oleh warga untuk bercocok tanam. Bahkan di kawasan hutan tersebut juga muncul area pengembang biakan kuda pacu.
Perubahan fungsi hutan itu mendapat sorotan dari anggota Komisi A DPRD Batu bersama perangkat desa yang kemarin mengunjungi Hutan Oro-Oro Ombo, mereka juga melihat  kawasan tersebut dimanfaatkan oleh penduduk sekitar untuk lahan pertanian dan pengembang biakan kuda pacu yang dikelola oleh PT Mega Star.
Meskipun kawasan hutan yang telah beralih fungsi tersebut telah memberikan manfaat bagi warga sekitar, namun hal ini tetap menimbulkan kekhawatiran. Karena keberadaan kawasan tersebut berada area pegunungan yang kondisi tanahnya miring.  “Akibatnya, kondisi ini menimbulkan potensi terjadinya longsor jika tidak ada pepohonan di sana yang menjadi penahan air,”kata  Sugeng Hariono.
Tak hanya beruabah menjadi lahan pertanian, di kawasan tersebut juga muncul area pemerilaharaan dan pengembangbiakan kuda pacu. Dalam pengembangan kuda pacu dengan nama PT Mega Star sudah terdapat 20 kuda pacu dari luar negeri maupun lokal.
“Baik kawasan hutan yang dijadikan lahan pertanian maupun area pengembangbiakan kuda pacu, status lahannya adalah pinjam pakai. Untuk itu kepada semua pihak terkait harus berhati-hati agar di kemudian hari tidak menimbulkan masalah hukum di sini (di kawasan hutan Oro-oro Ombo-red),”tambah Sugeng.
Sementara itu, Kepala Bagian Hukum dan Agraria di Perum Perhutani, Gatot S mengatakan, pada empat tahun yang lalu terjadi musibah angin putting beliung yang menerjang Desa Oro-Oro Ombo dan sekitarnya. “Akibatnya, banyak pohon di kawasan hutan milik Perhutani di desa ini yang tumbang. Kondisi ini membuat sekitar 35 hektar kawasan hutan menjadi rusak,”ujar Gatot saat meninjau kawasan hutan Oro-oro Ombo.
Sebenarnya, setelah membersihkan kayu atau pepohonan  yang tumbang, Perhutani telah membuat rencana penataan kembali kawasan hutan Oro-Oro Ombo. Mereka merencanakan penanaman kembali kawasan tersebut dengan pepohonan yang bisa menyerap air seperti Pinus.
Namun kenyataannya, saat ini di kawasan hutan tersebut telah beralih fungsi. Warga petani telah memanfaatkan lahan tersebut untuk bercocok tanam. Terlihat para petani tengah merawat beraneka jenis tanaman sayur-mayur di sana.
Terpisah, pemilik PT Mega Star, Budi Pangestu, tidak membantah jika status tanah di sana adalah pinjam pakai. Adapun untuk pemakaian lahan tersebut sudah ada komunikasi dengan Perhutani maupun Pemerintah Desa setempat. “Kita memilih kawasan Desa Oro-Oro Ombo karena untuk pengembangbiakan kuda jenis ini harus ada di ketnggian sekitar 1.000 meter dpl yang memiliki udara cukup bagus,”ujar Pangestu.
Saat ini, katanya, sudah ada 20 kuda yang kini dipeliharan ke kandang miliknya. Kuda-kuda tersebut adalah jenis kuda pacu yang didatangkan dari Amerika Serikat, Inggris maupun Arab. Saat ini kuda-kuda tersebut berusia 7-9 tahun yang harganya bisa mencapai Rp 100 juta per ekornya. [nas]

Rate this article!
Tags: