Di Bawah Pohon Kemala

Oleh :
Winar Ramelan.

Setelah melakukan perjalanan panjang
Menempuh jarak berlaksa
Naik turun jurang terjal dan dalam
Kelok dan tanjakan sepi

Mari duduk di sini di bawah pohon kemala teduh
Untuk merunut bahasa laut
Dengan ombaknya yang senantiasa membentur tebing
Mengeluarkan asap putih
Bagai asap tungku pemujaan
Bahasa sungai dengan gemericik bening
Menghanyutkan daun hingga ke muara
Setelah melalui bebatuan
Yang senyatanya bukan halangan
Hingga tarian angin
Silirnya memainkan bunga randu tua
Menerbangkannya
Laksana hujan salju di seberang

Mari kita bahasakan dengan keindahan
Bukan nestapa atas musibah
Pasangnya bukan badai
Meluapnya bukan bandang
Kencangnya bukan lesus
Mereka membawa titah musim
Akan sasih dan penanggalan

Pohon kemala, menjadi penyaksi
Bahwa semesta senantiasa memberi
Meski sekali waktu mengadili
Atas polah dan laku diri

SYAHRAZAD

Tergenapi di 1001 malam
Ia terjaga untuk berkisah
Meninabobokkan srigala di tubuh manusia
Ia kerangkeng satwa itu
Dengan tutur lembut
Imajinasi yang menghanyutkan
Menyejukkan
Laksana di bawah teduh pepohonan

Syahrazad
Entah lampau atau kini
Perempuan menjadi pawang si penjagal
Bahasa kasih, sentuhan
Dongeng fabel, mitos
Menjadi jalinan kisah purba
Yang mampu meluluh lantakan angkara
Hingga kasih membumi
Dan penguasa menjadi ayah ibu
Melindungi dan mengayomi penduduk seluruh negeri

?
KUKENANG KAU

Kukenang engkau sebagai rumah tempat aku pulang
Memberiku ruang hangat ketika gigil mendera
Tersebab hujan yang tak kunjung reda
Membasahi sekujurku dengan suka cita

Rasanya mantel pun tak mampu jadi pelindungku dari terpanya
Ditambah percikan juga cipratan
Dari genangan di sepanjang jalan
Yang kadang menggelincirkan tabahku untuk hanyut ke selokan

Dalam ruangmu gigil dan cemas lesap
Berganti hangat yang menjalari
Bukan oleh diang atau api
Tapi oleh senyum dan pelukan
Dari seluruh penghuni
:aku mengenangmu sebagai rumah untuk tempat pulang hingga ajal tiba untuk berpulang

?
TITAH ANGIN

Seiring sejalan
Seperti angin yang mendorong pintu
Seketika terkuak dengan derit yang menyertainya
Lantas, apakah harus ditolak
Ketika angin membawa titahnya
Membesuk jiwa – jiwa dalam gubug itu
Yang telaten merangkai takdir
Buah tangan karma yang dipintalnya

Seperti halnya daun di pepohonan
Begitulah aku di rentang waktu ini
Yang kuingini adalah rentang panjang
Dengan belantara bunga di setiap sisi
Kupu-kupu berterbangan
Tak lupa bintang berpendar ketika malam

Namun terserah pada angin
Kapan ia akan menabuh daun itu
Membawanya menari di tengah silir
Untuk menyudahi perjalanan di rentang waktu yang ditentukan

?
TITIMANGSA

Nisan menjadi penanda
Akan adaku
Hingga tiadaku
Di situ tertulis tanggal bulan dan tahun
Sebagai tanda mula
Dan akhir

?
ZIARAH

Menyambangimu terasa membuka pintu sunyi
Tak ada derit apalagi sapa
Hanya serat cahaya yang menerobos gerumbul daun
Seperti kerudung sutra yang menutup kepalamu

Terasa senyap
Tak ada siapa – siapa
Selain tonggak – tonggak diam bertuliskan nama dan titimangsa
Serta lambai kecil, puring dan kamboja

Menziarahimu
Doa berhamburan
Bunga bertaburan
Rindu bertalu – talu
Rasa dingin pun menyusup hingga ke sumsum
Mengurai ikatan kenangan di ingatan
Dan mengubahnya menjadi air mata

BIODATA

Winar Ramelan lahir di Malang pada tanggal 5 Juni dan kini tinggal di Denpasar Bali.
Puisi-puisinya terangkum dalam antologi tunggalnya Narasi Sepasang Kaos Kaki (2017) dan Mengening (2020).
Puisi-puisinya juga dimuat di beberapa antologi bersama dan beberapa media cetak baik daerah maupun nasional.

Rate this article!
Di Bawah Pohon Kemala,5 / 5 ( 1votes )
Tags: