Di Kabupaten Bondowoso, Produsen Tahu Naikkan Harga Rp 1 Ribu

Para produsen tempe di Kab.Lamongan tetap giat produksinya meskipun harga bahan baku kedelai naik.(Alimin Hakim/Bhirawa)

Harga Kedelai Naik, Produsen Tempe Perkecil Ukuran
Lamongan, Bhirawa
Pelaku Usaha Kecil Menengah yang bergelut di bidang produksi tempe mengungkapkan keresahanya akibat terjadinya lonjakan harga kedelai. Hal itu membuat para produsen tempe harus menggunakan strategi demi tetap mempertahankan usahanya di tengah pandemi global Covid-19.

Keluhan itu diungkapkan oleh salah satu produsen tempe di Kab.Lamongan, Abdul Rokhim. Diakuinya jika harga kedelai mengalami kenaikan kurang lebih Rp 2.000 per kilogram. “Sebelumnya satu kilo Rp 7 ribu, sekarang sampai Rp 9.100 per kilogram,” kata Rokhim, saat ditemui di tempat usahanya, di Kelurahan Sukomulyo, Kecamatan Lamongan, Senin (4/1).

Meski mengalami kenaikan, namun menurut Rokhim, stok kedelai tidak sampai mengalami kelangkaan. Di tengah mahalnya harga bahan baku tersebut, Rokhim memilih strategi memperkecil ukuran tempe demi menghindari kerugian. “Kita kurangi kira-kira ya sekitar satu senti dari ukuran sebelumnya,” tuturnya.

Rokhim mengaku tidak berani menaikkan harga tempe, lantaran khawatir daya beli masyarakat akan menurun.”Kalau kita naikkan harga pembeli nantinya pasti keberatan. Di samping itu persaingan pasar juga jadi sulit. Jadi ukurannya saja kita kecilkan, biar bisa bertahan sampai harga normal,” ujar Rokhim.

Namun meski harga kedelai naik para produsen tempe di Lamongan tidak sampai menghentikan kegiatan produksinya. Mereka bahkan setiap harinya masih mampu memproduksi hingga 2 kuintal tempe.”Kita tetap produksi seperti biasa, alhamdulillah tidak ada penurunan produksi. Kalau saya setiap hari produksi 2 kuintal,”beber Rokhim.

Suasana produksi tahu di perusahaan tahu kurma di Bondowoso milik Liliana Subrata. (Ihsan Kholil/Bhirawa)

Naikkan Rp 1.000

Sementara itu, harga kedelai di Kabupaten Bondowoso naik sampai 30 persen, yang mana sebelumnya Rp. 6.400 per kilogram dan saat ini kini mencapai Rp. 19.000. Kabupaten Bondowoso juga seperti di daerah yang lain yakni darurat tahu dan tempe. Akan tetapi, dengan naiknya harga kedelai tak membuatnya hilang di pasaran.

Namun meski tak sampai menghilang di pasaran, khususnya harga tahu naik. Seperti yang disampaikan salah satu pemilik perusahaan tahu kurma di Bondowoso, Liliana Subrata bahwa dirinya menaikkan harga tahu Rp 1.000 dari harga jual Rp 19.000 per kotaknya.

Keputusan ia ambil agar bisa bertahan di tengah naiknya harga kedelai hingga 30 persen. Dari sebelumnya Rp 6.400 menjadi Rp 9.300 per kilogram itu. Menurut pemilik perusahaan tahu yang telah berdiri sejak 1983 ini, pihaknya selama sebulan terakhir ini mengalami rugi.

Karena harga kedelai yang melambung. “Selama satu bulan ini kita gilingnya rugi. Kedelai naiknya 30 persen. Sedangkan kita naikkan per papan ini Rp. 1.000. Itu sudah mereka teriak-teriak, pelanggannya,” katanya saat dikonfirmasi, Senin (4/1).

Ia mengaku, bahwa semula ada rencana mogok produksi tahu di antara para produsen Bondowoso. Namun, karena memang masih ada banyak hal yang dipertimbangkan. Seperti nasib karyawan, dan para pelanggan. Akhirnya, diputuskan untuk menaikkan harga saja. “Naik Rp 1.000 saja, jadi per papanya kita jual Rp. 20ribu,” katanya.

Liliana Subrata memaparkan, bahwa kedelai yang digunakan sendiri merupakan kedelai import yang dibelinya dari luar kota. Pihaknya, tak bisa menggunakan kedelai lokal karena mempengaruhi kualitas tahu. Adapun, jika dicampur pihaknya masih pikir-pikir dulu. Karena khawatir justru membuat tahu tak bisa mengembang. Kondisi ini justru ditakutkan semakin membuat rugi, mengingat dalam sehari pihaknya memproduksi hingga 1 ton kedelai.

“Kita tak bisa pakai kedelai lokal ya, tahunya itu cepat busuk. Kalau dulu bisa, sekarang tidak bisa. Tidak tahu kenapa. Saya pikir hanya saya yang tidak bisa, ternyata perusahaan lain juga tak bisa,” jelas wanita yang memiliki pekerja hingga 40 orang.

Wanita usia 53 tahun ini pun berharap agar pemerintah bisa segera mengambil kebijakan. Agar makan rakyat ini bisa tetap bisa dinikmati. “Kita menunggu pemerintah agar ada penurunan harga kedelai,” harapnya.[aha,san]

Tags: