Di RSUD Jombang, Puluhan Bayi Ikuti Skrining Penyakit Jantung Bawaan

Skrining PJB pada bayi di RSUD Jombang, Sabtu (02/12).

Jombang, Bhirawa.
Puluhan bayi mengikuti skrining Penyakit Jantung Bawaan (PJB) di Ruang KH Wahab Chasbullah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang, Sabtu (02/12). Umur mereka bervarias mulai satu hingga 24 bulan. Bayi yang hadir digendong oleh orang tuanya.

Acara tersebut digelar dalam rangka memperigati ulang tahun ke-4 Yayasan Jantung Anak Indonesia atau Indonesian Children Heart (InCH). InCH menggandeng RSUD Jombang dan Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang Sidoarjo. Rumah sakit ini juga sedang merayakan ulang tahun ke-56.

Ketua Yayasan InCH, dr. Muhammad Perdana Airlangga, Sp. Jp mengatakan, selain menggelar skrining PJB, pihaknya juga menggelar sejumah acara lainnya. Seperti, pelatihan untuk tim dari RSUD Jombang, yaitu pelatihan NICU untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan penanganan neonatus.

“Serta edukasi bagi orangtua, bagaimana kalau anak-anaknya terdeteksi penyakit jantung bawaan. Dalam hal ini yang memberikan materi adalah Dr. dr. Mahrus A. Rahman, Sp. A (K). Sehingga deteksi dininya lebih baik lagi,” kata Muhammad Perdana.

Yayasan InCH sengaja memilih RSUD Jombang dan Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang Sidoarjo karena selama ini rujukan PBJ dari RSUD Jombang relatif tinggi, sedangkan di RS Siti Khodijah banyak dokter dengan spesialisasi jantung anak. “Rujukan paling banyak penyakit jantung bawaan, yang pertama dari Sidoarjo sedangkan kedua dari Jombang,” ujarnya.

“Makanya kita melakukan kolaborasi. Harapannya dengan kolaborasi ini deteksi dini PBJ bagi masyarakat Jombang lebih baik lagi,” tambahnya.

Wakil Direktur Pelayanan RSUD Jombang, dr Iwan Priyono SpOG mengatakan, sebanyak 56 bayi yang mengikuti skrining PBJ.

Menurut Iwan, selama ini PBJ di RSUD Jombang relatif tinggi, antara 15 hingga 18 pasien. Selama ini, lanjut dia, ketika menemukan kecurigaan adanya PBJ pada anak, pihaknya merujuk ke RS Siti Khodijah Muhammadiyah Sidoarjo. “Dalam satu bulan kita menemukan 15 hingga 18 PBJ pada anak, kemudian kita rujuk ke RS Siti Khodijah Muhammadiyah,” imbuhnya.

Sementara itu terpisah, Direktur RSUD Jombang Direktur RSUD Jombang, dr Ma’murotus Sa’diyah Mkes atau Dokter Eyik mengapresiasi kolaborasi dengan Yayasan Jantung Anak Indonesia dan Rumah Sakit Siti Khodijah Muhammadiyah Cabang Sepanjang Sidoarjo.

Menurutnya, dengan kegiatan tersebut bisa membantu masyarakat Jombang yang anaknya terkena PBJ. Hal ini karena dalam skrining tersebut tidak dikenakan biaya alias gratis. Ke depan, Dokter Eyik berharap, RSUD Jombang memiliki dokter anak dengan sub spesialis penyakit jantung, sehingga penanganan medis bisa dilakakukan di RSUD Jombang sendiri.

“Kami dari RSUD Jombang mengucapkan terima kasih kepada Yayasan InCH dan RS Siti Khodijah Muhammadiyah Sidoarjo atas kolaborasi ini. Karena pasien PBJ pada anak di Jombang sangat terbantu,” ungkap Dokter Eyik.

Usai seremonial, orangtua yang memiliki anak PBJ duduk dengan tertib. Mereka mengikuti acara dari awal hingga akhir.

Sedikitnya ada empat bilik pemeriksaan yang sudah disiapkan. Di bilik tersebut terdapat petugas medis dan alat bernama Echocardiography. Yakni, alat untuk pemeriksaan struktur jantung yang menghasilkan gambar tiga dimensi. Masing-masing pasien dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.

dr. Muhammad Perdana Airlangga, Sp. Jp didampingi dr Iwan Priyono SpOG berada di salah satu bilik pemeriksaan tersebut. Seorang bayi berusia satu bulan yang diantar oleh neneknya langsung ditangani oleh dokter Perdana. “Dari hasil pemeriksaan, ada potensi kebocoran jantung,” kata Dokter Perdana.[adv.rif]

Tags: