Dikritik CSR, Dijawab dengan Prestasi

Batik Madura (8)Bangkalan, Bhirawa
Seringkali dikritik persoalan Cost Social Responsibility (CSR) oleh kalangan DPRD, LSM maupun mahasiswa, tampaknya tidak menurutkan langkah Pertamina Hulu Energi (PHE)  West Madura Offshore (WMO) untuk konsen membina usaha kecil menengah (UKM) dan pemenuhan fasilitas masyarakat di daerah terdampak.
Beberapa home industri batik tulis di kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan misalnya telah berhasil menggeliatkan usaha jenis ini ke jenjang yang lebih maju lagi.  Diakui Hj. Rofiah (42), pemilik butik Syafira, bantuan yang diberikan berupa modal dan bimbingan manajerial oleh PHE WMO sangat bermanfaat. “Kalau dulu untuk membuat batik gentongan, kami seringkali nggak berani memproduksi dalam jumlah yang besar,” jelasnya.
Hal ini dikarenakan untuk produksi 1 (satu) kain batik jenis gentongan ini membutuhkan modal yang cukup besar, di samping pengerjaannya sendiri yang cukup panjang, berkisar 2 (dua) tahunan. “Padahal peminat jenis batik ini cukup besar,” akunya.
Sekarang ini menurutnya, home industri yang mempekerjakan puluhan ibu-ibu rumah tangga di sekitarnya ini tidak lagi kesulitan memproduksi batik paling dicari konsumen ini, sehingga kebutuhan konsumen untuk batik jenis ini mampu terpouaskan.  Sistemnya adalah prosuksi secara berkala tiap bulan selama 2 tahun.
“Jadi dalam satu bulan, kita sudah mulai pembuatan batik gentongan ini dalam jumlah tertentu. Untuk bulan selanjutnya kita lakukan prosuksi dengan jumlah yang sama hingga bulan-bulan selanjutnya. Tidak pernah mati,” selorohnya.
Sehingga dalam durasi 2 tahun kedepan, batik jenis gentongan ini sudah ada yang siap edar dan siap saji. Mengapa lama? Proses produksi batik gentongan tergolong unik. “Memakai bahan-bahan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan dan diawetkan kedalam gentong selama 2 tahun menjadi ciri utama batik jenis ini,” jelas M. Gufron, Ka. Dinas Pariwisata Kabupaten Bangkalan.
Ada rumus klasik atau tradisional yang diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang mereka (para pembatik red.) untuk menghasilkan warna-warna tertentu. Cukup unik memang. “Bahkan profesi pembatik pun diyakini sebagai profesi warisan leluhur. Sehingga jika nenek moyang mereka adalah pembatik, maka dalam satu garis turunannya harus ada yang menjadi pembatik,” ulas Gufron.
Harga jual batik gentongan tanjung bumi ini juga cukup mahal. “Mulai lima juta-aan ke atas. Tergantung tingkat kesulitan pembuatannya. Dilihat dari corak, warna dan tekstur yang dihasilkan,” jelasnya.
Batik jenis ini pun sudah mulai memasuki pasar ekspor. “Banyak yang memesan dari negeri Belanda, Malaysia, Amerika dan beberapa Negara Asia Tenggara lainnya,” jelas.  Mereka (para konsumen luar negeri red.) rata-rata memesan corak batik yang dipakai Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama saat kunjungan Kenegaraannya ke Indonesia beberapa waktu lalu.  “Sedangkan untuk konsumen dalam negeri rata-rata memesan corak yang digunakan Presiden SBY saat meresmikan Jembatan Suramadu beberapa waktu lalu,” jelas Rofiah.
Di samping konsen dalam pengembangan UKM, PHE WMO juga berusaha memenuhi fasilitas yang menunjang pembangunan Desa.  Pemenuhan fasilitas air bersih di Desa Bandang Dajah Kec. Tanjung Bumi merupakan salah satu bukti nyatanya.
Fasilitas yang dikelola HIPAM (Himpunan Masyarakat Pengguna Air Minum) ini mampu memenuhi kebutuhan 150 Kepala Keluarga akan air minum bersih. “Keberadaan fasilitas HIPAM ini sangat membantu masyarakat Bandang Dajah akan keterpenuhan air bersih di Desanya mengingat sulitnya mencari air bersih sebelum ini,” jelas Tumar (41) Ketua HIPAM Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan.
Sebelumnya masyarakat Bandang Dajah harus rela berjalan sejauh 7 Km untuk mendapatkan air bersih di sumber mata air terdekat. “Namun sejak hadirnya fasilitas air sumur bor dengan pipa-pipa yang dialirkan ke rumah-rumah warga ini, masyarakat tidak lagi resah akan stok air bersih layak minum,” paparnya.
Agar fasilitas yang sudah diberikan PHE WMO ini tetap baik, maka diperlukan maintenance (perawatan) yang memadai pula. “Untuk biaya perawatan kita ambilkan dari iuran warga pemakai air bersih ini. Jumlah iurannya bervariasi. Bergantung besar kubik yang dihabiskan oleh masing-masing KK,” pungkasnya. [dit]

Rate this article!
Tags: