Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso Lakukan Pembasmian Jentik

Kepala Dinas Kesehatan, Muhammad Imron (kelima dari kiri), Camat Pujer dan juga Muspika, foto bersama tim kesehatan di Puskesmas Pujer. (Ihsan Kholil/Bhirawa)

Bondowoso, Bhirawa
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso Jawa Timur melakukan pembasmian jentik nyamuk dengan kegiatan Grebek Jentik, yang tersebar sekitar empat titik di Desa Maskuning Kulon Kecamatan Pujer, Sabtu (8/2). Hal itu, untuk mencegah penyebaran demam berdarah dangue (DBD) yang biasanya menyebar saat memasuki musim hujan.
“Ini sudah masuk musim hujan. Namun tidak semerta-merta kita ke Maskuning Kulon. Namun ini dipilih oleh Muspika atau Muspimcam dan Puskesmas Pujer,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, Muhammad Imron saat di konfirmasi awak media.
Namun, desa-desa yang lain juga antusias untuk dilakukan grebek jentik melalui program PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk). Kata dia, Grebek Jentik itu, jika melihat ada jentik pada genangan air baik di bak mandi, kaleng, vas bunga dan lain sebagainya. Maka harus segera dibasmi.
“Kalau itu bak mandi kita bunuh dengan Abate (obat untuk membunuh jentik). Tapi kalau di barang-barang yang di tempat kecil langsung kita buang airnya dan ditengkurapkan. Agar ketika hujan tak menjadi tampungan air,” jelasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso itu mengimbau, jika masyarakat mempunyai barang-barang bekas yang sudah tidak bisa terpakai sebaiknya ditimbun.
“Kalau warga mau nimbun sendiri, terima kasih,” akuinya.
Dijelaskannya juga, bahwa membunuh jentik itu adalah pencegahan DBD. Sementara fogging dilakukan bukan untuk pencegahan, akan tetapi lebih kepada pengendalian sebaran nyamuk dewasa.
Sementara itu, untuk menyosialisasikan pembasmian jentik ini, Dinas Kesehe memiliki program Gebrak Meja (Gerakan Bersama Masyarakat dan Karyawan Mengendalikan Jentik Aedes). Dimana, dalam hal itu sudah dilakukan oleh tim kesehatan di Tingkat Puskesmas dan juga Desa.
“Tinggal kesinambungan dari warga,” imbuhnya.
Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya, di Kabupaten Bondowoso terjadi KLB (kejadian luar biasa). Seperti tahun 2020 ini merupakan siklus setiap lima tahun sekali.
“Tahun 2010 kita KLB, kejadian luar biasa. 2015 KLB, dan Tahun 2020 harus kita antisipasi, makanya kita gerakkan,” terangnya.
Ditanya perihal pasien DBD di Kabupaten Bondowoso, dia mengaku bahwa sampai dengan Tanggal 6 Februari 2020, ada 26 yang ditangani. Kata dia, angka itu jauh lebih rendah dibandingkan pada Tahun 2019 kemarin.
“Tahun 2019 itu 170 orang selama dua bulan, yakni pada bulan yang sama (Februari),” jelasnya.
Akan hal tersebut, ia berharap agar masyarakat Bondowoso untuk menutup tempat-tempat yang sekiranya menjadi sarang jentik. Supaya tidak ada korban demam berdarah dangue (DBD). [san]

Tags: