Dinas Perkebunan Jatim Gelar Agropreneur Award untuk Kelompok Petani

Dinas Perkebunan Provinsi Jatim menggelar Agropreneur Award yang bertempat di Hotel Grand Surya Kediri. Penghargaan ini untuk memberikan apresiasi kepada petani muda di sektor pertanian tembakau.

Untuk Memberikan Apresiasi kepada Petani Muda di Sektor Pertanian Tembakau

Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemprov Jatim melalui Dinas Perkebunan baru saja menggelar Agropreneur Award yang bertempat di Hotel Grand Surya Kediri pada, Rabu malam (29/11). Agropreneur Award adalah penghargaan yang diberikan kepada Kelompok Petani Muda Tembakau Jawa Timur.

Tujuan dari penghargaan ini adalah untuk memberikan apresiasi kepada petani muda di sektor pertanian tembakau, serta memotivasi mereka untuk terus meningkatkan kualitas dan inovasi dalam bisnisnya.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jatim, Heru Suseno, mengatakan produksi tembakau di Jawa Timur sangat luar biasa. Uang cukai pada tahun 2023 per bulan Agustus di Jawa Timur saja sudah mencapai Rp126 triliun. Jika sampai bulan Desember, mengacu pada tahun 2022 lalu, sudah mencapai Rp139 triliun.

“Pendapatan cukai terbesar ada di Jawa Timur. Kenapa Kabupaten Kediri menghasilkan cukai tembakau terbesar di Jawa Timur, karena terdapat pabrik rokok gudang garam. Pemanfaatan cukai rokok terbesar berada di bidang kesehatan,” kata Heru dikonfirmasi, Kamis (30/11).

Pemerintah Provinsi Jawa Timur sangat peduli sekali dengan para petani tembakau. Sementara itu, Heru juga menyerahkan tiga pemenang dalam Agropreneur Award, pada tiga kelompok tani.

“Potensi anak muda milenial seperti ini terus didukung dan fasilitasi dengan pelatihan. Pertanian tembakau masih menjadi sektor usaha yang cukup menjanjikan di Indonesia. Permintaan akan produk tembakau yang tinggi, baik untuk kebutuhan rokok maupun produk lain seperti sirup dan minyak, membuat usaha bercocok tanam tembakau masih diminati oleh sejumlah petani, termasuk di antaranya petani muda,” jelasnya.

Meski begitu, Heru menambahkan, bercocok tanam tembakau juga memiliki beberapa risiko dan dampak negatif yang perlu diperhatikan. Misalnya, penggunaan pestisida dan bahan kimia secara berlebihan dapat merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Selain itu, kebijakan pemerintah mengenai peraturan rokok yang semakin ketat juga mempengaruhi pasar tembakau di Indonesia.

Heru menjelaskan, sebagai petani muda yang memilih bercocok tanam tembakau, mereka dapat berperan dalam memajukan sektor pertanian di Indonesia dengan memperhatikan aspek lingkungan, kesehatan, dan sosial masyarakat sekitar.

Selain itu, petani muda juga dapat melakukan inovasi dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk tembakau, tegasnya. “Kami berharap para petani milenial ini, bisa semakin memajukan pertanian dibidang tembakau. Apalagi, saat ini pertanian di bidang tembakau sangat menjanjikan,” ujarnya.

Heru juga menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan tanaman tembakau, di antaranya adalah pemberian air yang cukup. “Karena tanaman tembakau memerlukan air yang cukup, tetapi jangan terlalu banyak karena bisa memicu pertumbuhan jamur dan penyakit lainnya. Untuk emberian pupuk harus diatur dengan baik untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan hasil panen yang baik,” ujarnya.

Heru menjelaskan, tanaman tembakau rentan terhadap serangan hama dan penyakit, maka perlu dilakukan pengendalian dengan cara yang benar untuk memastikan kualitas produksi yang baik. Selain itu, untuk pengendalian gulma memerlukan tanah yang bersih. Pasalnya, gulma dapat merusak dan mengurangi kualitas produksi tembakau.

Sementara itu, untuk waktu pemanenan yang tepat dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil panen. Oleh karena itu, petani harus menentukan waktu pemanenan yang tepat untuk menghasilkan tembakau yang berkualitas baik. “Harap diingat bahwa pemeliharaan tanaman tembakau secara berkelanjutan perlu diterapkan untuk mendukung lingkungan yang sehat dan hasil panen yang optimal,” jelasnya.

Heru mengakui, minimnya kemitraan petani hingga lemahnya peran kelompok tani membuat harga jual tembakau di pasaran tidak stabil, karena posisi tawar yang rendah. Petani tembakau belum merasakan keunggulan varietas baru karena petani sulit merubah perilaku budidaya yang sudah berlangsung secara bertahun-tahun.

Kendala lainnya dalam mengembangkan pertanian tembakau di Jatim adalah para petani didominasi oleh kelompok usia 45 tahun keatas. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menyebutkan bahwa petani milenial dibawah usia 35 tahun hanya 8 persen. “Hal ini menjadi kekhawatiran serius terhadap keberlangsungan perekonomian khususnya pertanian,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi masalah itu, Heru mengaku, pihaknya mencari terobosan agar produksi pertanian di Jatim, khususnya tembakau bisa tetap stabil. Sehingga, Jawa Timur tetap menjadi pemasok utama dari produksi tembakau di tingkat nasional. “Kontribusi tembakau Jawa Timur terhadap nasional sangat besar, mencapai 45 persen. Ini yang harus dijaga dan ditingkatkan,” pungkasnya. [Rachmat Caesar BSR]

Tags: