Dindik Minta Sekolah Berinovasi Program

Pemberian bingkisan dan santunan pada 25 siswa-siswi yatim/yatim piatu dalam Rapat Koordinasi Pendidikan dan Pembinaan Di Lingkungan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun di Kurnia Convention Hall Ngawi, Senin (20/1/2020).

Tingkatkan Kompetensi Siswa dan Sinkronkan Kebijakan Pendidikan
Ngawi, Bhirawa
Kompetensi lulusan masih jadi perhatian serius bagi stakeholder di lingkup Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur. Dalam lawatan pertamanya pada Rapat Koordinasi Pendidikan dan Pembinaan Dilingkungan Cabdin Wilayah Madiun, Kepala Dindik Jatim Dr Ir Wahid Wahyudi menekankan agar kepala satuan pendidikan SMA/SMK dan PKLK berinovasi program di tahun 2020.
Wahid meminta agar setiap sekolah membuat aplikasi untuk memonitor para alumni. Aplikasi itu juga untuk mempermudah sekolah dalam melakukan evaluasi. ”Katakanlah kompetensi SMK overload ternyata DUDI yang dibutuhkan adalah kompetensi baru yang sesuai kebutuhan industri. Nah, sekolah bisa membuka kompetensi itu,” urainya
Hal itu juga tak lepas dari kejelian sekolah dalam melihat peluang potensi lokal yang perlu dikembangkan. Disamping itu, Wahid menilai jika sekolah perlu melihat potensi wilayah lain. Pasalnya potensi di wilayah lain bisa jadi peluang bagi lulusan SMK jika wilayah lain tidak bisa mencukupi kebutuhan.
“Kepala sekolah juga harus mencatat jejak lulusannya agar bisa diketahui menganggur atau tidak,” lanjutnya.
Pasalnya jika menyinggung soal data laporan Badan Pusat Statistik (BPS), lulusan SMK menjadi penyumbang terbanyak pengangguran. Tapi setelah ditinjau kembali di lapangan yang menganggur ini sedikit. Justru mereka melakukan freelancer seperti lulusan tata rias atau tata boga mereka kerja karena ada panggilan pekerjaan. Ini yang tidak terdeteksi BPS. Padahal mereka bekerja menghasilkan nominal yang lebih dari UMR daerah, ungkapnya usai rapat koordinasi di Kurnia Convention Hall Ngawi, Senin (20/1).
Yang terpenting ada dua hal yang harus segera dilakukan sekolah. Yakni pemetaan kepeminatan siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau bekerja. Apalagi, jika melihat lulusan SMA, 67% siswanya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.
“Karenanya perlu ada kompetensi yang dimiliki. Sehingga lulus bisa bekerja sesuai kompetensi. Kata lompatan inovasi itulah yang saya tekankan kepada kepala sekolah,” tegasnya.
Kepala Cabang Dinas Wilayah Madiun yang melingkupi Kabupaten Madiun, Kota Madiun dan Kabupaten Ngawi, Supardi mengungkapkan, kunjungan Kepala Dindik Jatim secara langsung dalam rapat koordinasi pendidikan di Ngawi diharapkan dapat lebih efektif dalam menyampaikan tujuan pendidikan di Jatim ke depannya pada sekolah.
“Kami juga terus mengembangkan potensi lokal dalam hal ini kompetensi perhotelan di jurusan Pariwisata. Bahkan kebutuhan lulusan pariwisata smpai Solo dan Jogjakarta,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama anggota Komisi E DPRD Jatim, Deni Wicaksono yang hadir mengungkapkan, rapat koordinasi ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan daerah dan menyamakan persepsi aturan atau kebijakan Dindik Jatim dengan sekolah.
“Mumpung di awal tahun permasalahan yang ada harus bisa diselesaikan. Misalnya soal distribusi guru. Sehingga prestasi sekolah bisa ditingkatkan,” pungkasnya. [ina]

Tags: