Dinkes Jatim Targetkan 38 Kab/Kota Eliminasi Malaria

FoggingSurabaya, Bhirawa
Setelah suskes mengondol sertifikasi bebas malaria tahun 2014 lalu, tahun ini Dinkes Jatim mentargetkan Jatim bebas malaria di 38 kabupaten/kota.
Saat ini sudah ada 34 kabupaten/kota di Jatim berhasil mendapatkan sertifikasi eliminasi malaria yaitu adalah Mojokerto, Bangkalan, Kota Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Kota Kediri, Lamongan, Lumajang, Kota Madiun, Magetan, Kota Malang, Kota Mojokerto, Ngajuk, Ngawi, Pamekasan, Pasuruan, Kota Pasuruan, Ponorogo, Probolinggo, Kota Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Kota Surabaya, Tuban, Batu, Blitar, Malang, Sumenep dan Tulunggung.
Kepala Dinkes Jatim, dr Harsono mengaku, dalam pemberlakuan sertifikasi elminasi malaria, setiap daerah harus bebas penularan malaria setempat. Artinya, setiap daerah tidak boleh ada penularan dari daerah setempat (indegenous), jika ada penularan dari tempat lain atau luar Jatim, sertivikasi eliminasi malaria masih dapat dipertahankan. Kabupaten/kota dinyatakan sebagai daerah tereliminasi malaria bila tidak ditemukan lagi kasus penularan setempat (indegenous) selama tiga tahun berturut-turut.
”Saat ini kita masih mempunyai PR di empat daerah yaitu Madiun, Pacitan, Trenggalek dan Banyuwangi. Empat daerah ini yang nantinya akan menjadi fokus garap Dinkes Jatim dan Dinkes kabupaten/kota setempat dalam menghentikan penularan malaria,” kata Harsono.
Harsono mengaku, dengan target eliminasi di 38 kabupaten/kota di Jatim, Dinkes akan berkerja keras agar target tersebut dapat tercapai. Menurutnya, dengan memperkuat survelensi malaria, memperkuat laboratorium malaria, pengendalian vektor dan faktor resiko malaria, pembenahan logistik malaria, penyiapan regulasi untuk sertivikasi dan penguatan jejaring target eliminasi akan cepat tercapai.
Selain itu juga menurutnya, yang tidak kalah pentingya adalah adanya kesadaran masyarakat untuk menggunakan kelambu anti nyamuk pada saat tidur. Kelambu ini akan menangkal nyamuk anopheles betina yang menjadi penyebab penyakit malaria. ”Kelambu ini wajib digunakan jika ada beberapa orang terkena malaria dalam satu tempat atau daerah yang sama. ”Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin baik dari level atas (pengambil kebijakan) sampai di level bawah (masyarakat),” ucapnya.
Kasi Pemberantasan Penyakit Dinkes Jatim Setyo Budiono.menyatakan, jika dilihat jumlah penderita malaria dari tahun ke tahun mengalami penurunan.  Tahun 2014 jumlah kasus malaria sebesar 462 orang, tahun 2013 jumlah kasus sebanyak 1.070 orang dan tahun tahun 2012 sebanyak 1.320 orang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan, sudah hampir satu dasa warsa Kota Pahlawan tidak lagi ditemukan kasus original asli malaria di Surabaya. Kasus malaria asli yang terjadi di Surabaya sudah tidak ada sejak lama. Yang ada hanya kasus malaria kiriman.
Ia menambahkan, kasus-kasus malaria yang terjadi di Surabaya merupakan rujukan dari daerah. Pasien dirujuk ke RSU Dr Soetomo setelah tidak bisa ditangani daerahnya. Ia menegaskan, wilayah endemik malaria Surabaya sudah tidak ada lagi. Jika ada warga Surabaya mengidap malaria, penyakitnya tertular dari luar Surabaya. [dna]

Tags: