Dinkes Kabupaten Malang Siapkan SDM Pelaksanaan Vaksinator Covid-19

Kepala Dinkes Kab Malang drg Arbani Mukti Wibowo

Kab Malang, Bhirawa
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang telah mempersiapkan petugas kesehatan sebagai pelaksana vaksinator atau petugas pensuntik vaksin Covid-19. Sehingga masing-masing fasilitas kesehatan (faskes) harus mengikuti on job training.

Kepala Dinkes Kabupaten Malang drg Arbani Mukti Wibowo, Rabu (13/1), kepada wartawan mengatakan, pihaknya kini mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebelum kedatangan vaksin Covid-19, salah satunya adalah mengikutkan faskes dalam on job training. Selain itu, dirinya juga mempersiapkan cool storage yaitu merupakan suatu mesin refrigerasi yang digunakan untuk menyimpan suatu produk dalam suhu tertentu, atau pendingi. Sedangkan cool storage itu guna untuk menyimpan vaksin, serta mobil yang ada fasilitas cool storage untuk mendistribusikan vaksin ditingkat faskes. “Karena suhu untuk menjaga vaksin tersebut 2-8 derajat celsius,” jelasnya.

Menurutnya, jumlah vaksin yang akan diterima Kabupaten Malang, hingga kini masih belum ada kepastian. Namun, dirinya sudah mengajukan sebanyak 5.278 vaksin untuk tenaga kesehatan. Sedangkan ada dua tahapan dosis untuk disuntikan, yakni suntik awal dan suntik booster, sehingga yang kita butuhkan 10.556 vaksin. Sementara, dari informasi yang kami dapat, bahwa Kabupaten Malang akan menerima 8000 vaksin, tapi nanti akan kita koordinasikan kembali dengan Dinkes Provinsi Jawa Timur (Jatim) terkait ketersediaan vaksin.

“Jika memang nanti ada 8000 vaksin, maka kami akan prioritaskan kepada tenaga kesehatan yang mana harus didahulukan. Dan pihaknya pun juga mensiapkan terkait pencegahan kejadian pasca imunisasi, dan bagaimana penanganannya supaya dapat mengeliminasi efek samping dari vaksinasi tersebut,” papar Arbani.

Dia menjelaskan, tenaga kesehatan yang akan menerima suntikan vaksin Covid-19 masuk dalam data Primary Care (PCare) Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS). Sedangkan data tenaga kesehatan yang sudah kita ajukan ke pusat, maka data itu masuk dalam rekap Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN). Dan selanjutnya, data yang sudah terekap di KPCPEN itu, kemudian akan dilakukan verifikasi. Selain itu, juga ada daftar rekamedik dari semua sasaran akan terdeteksi, mana yang tidak boleh di vaksin dan mana yang boleh di vaksin, tapi hanya sebagai booster, mana yang boleh di vaksin.

Selain tenaga kesehatan yang akan mendapatkan suntikan vaksin Covid-19, kata Arbani, masyarakat pun juga nantinya akan di vaksin. Dan untuk sasaran umur yang boleh di vaksin yakni dari usia 18-59 tahun. Sedangkan masyarakat yang akan menerima suntikan vaksin juga terverikasi atau masuk dalam PCare BPJS. “Dan jika ada masyarakat yang memiliki gejala Inveksi Saluran Pernafasan (ISPA) ringan, pensuntikan vaksin ditunda sampai gejala tersebut reda. Begitu juga, jika ada yang komorbid atau memiliki penyakit bawaan harus dilakukan pemeriksaan secara klinis,” terangnya. [cyn]

Tags: