Disbudpar Jatim Pendataan Seniman Berbasis Ekraf

Suasana sendratari kolosal ‘Panji Laras’ di Candra Wilwatikta Pandaan. [achmad suprayogi]

Pemprov, Bhirawa
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui Unit Pelaksana Teknis Pemberdayaan Lembaga Seni dan Ekonomi Kreatif (UPT PLS Ekraf) Wilwatikta kini melangsungkan pendataan terhadap seniman berbasis ekonomi kreatif (ekraf).
Kepala UPT PLS Ekraf Wilwatika Disbudpar Jatim, Arif Rofiq menyampaikan, dirinya mencoba mendapatkan data dari seniman yang bergerak di ekraf, maka dibuatlah pasar tersendiri nantinya.
“Misalkan seniman seni rupa, mereka yang ingin masuk dalam ekraf akan sekaligus masuk dalam pendataan, selanjutnya kami buatkan wadah bagi mereka yang namanya Pasar Seni Rupa Virtual. Kami mendekati seniman dari sisi ekrafnya meskipun wadahnya kecil,” katanya, Senin (19/5).
Dikatakannya, dirinya memiliki target untuk melakukan pendataan sekitar 400 orang seniman/UMKM yang berbasis ekraf. Data yang dikembangkan tersebut tidak hanya by name dan by address saja, melainkan data yang lebih mendalam dalam menjaring seniman yang berdekatan dengan ekraf.
“Pendataan sudah banyak masuk. Pada gelombang pertama, kami jaring seniman seni rupa sudah mencapai 45 orang dan nantinya mereka sudah pameran secara virtual di media sosial. Kami juga mendata UMKM dibidang seni pertunjukan, seperti pengrajin jaranan atau lainnya. Dan kami juga mendata seni tari berkaitan dengan sanggar – sanggar,” ujarnya.
Dijelaskan juga, seperti nantinya Pasar Seni Rupa Virtual yang digelar pada Rabu (20/5), masing-masing seniman diberikan syarat untuk membuat karya senilai Rp250 ribu hingga Rp500 ribu.
“Biasanya karya seniman itu dinilai mahal karena pembelinya kolektor/kolekdol besar, tetapi kolektor/kolekdol besar hanya bisa dihitung. Adanya Pasar Seni Rupa Virtual ini, mereka diharapkan bisa membuat karya dengan nilai kerakyaratan,” katanya.
Ternyata, lanjut Rofiq, para seniman banyak yang tertantang untuk membuat karya tersebut. Karena masyarakat atau rakyat kecil juga membutuhkan sebuah karya dari seniman untuk dipampang di rumahnya.
“Saya bilang sama teman – teman seniman untuk bisa menciptakan kolektor/kolekdol kecil. Seni rupa itu tidak hanya pantas untuk orang memiliki uang banyak untuk membeli, tetapi masyarakat atau rakyat biasa punya hak untuk membeli dengan harga rakyat. Hal ini disambut positif oleh temen-temen,” katanya. [rac]

Tags: