Disdikbud Tak Sepakat Penutupan Museum Rasulullah

Museum Rasulullah yang direkomendasikan banggar untuk ditutup sementara. [wiwit agus pribadi]

Probolinggo, Bhirawa
Polemik perjanjian kerjasama pembukaan Museum Rasulullah antara Pemkot Probolinggo dengan Indonesia Merindu (IM) sebagai pihak ketiga, terus berlanjut. Banggar DPRD Kota Probolinggo bahkan merekomendasikan agar museum itu ditutup. Namun Disdikbud tak sepakat dengan penutupan museum Rasulullah.
Rekomendasi itu disampaikan saat rapat Paripurna Banggar, Jumat (13/11) malam di ruang utama DPRD Kota Probolinggo. Rekomendasi dikeluarkan Banggar, karena perjanjian kerjasama dengan pihak ketiga dianggap menyalahi Perda Kota Probolinggo. Yaitu, Perda Nomor 11/2014 tentang Retribusi Jasa Usaha.
Juru Bicara Banggar, Heru Estiadi, menyampaikan saran dan pendapat Banggar saat sidang paripurna. Keberadaan Museum Rasulullah yang menggunakan lahan atau aset Pemkot Probolinggo yang dipihakketigakan. Menurutnya, belum sesuai dengan Perda tentang Retribusi Jasa Usaha.
“Karena itu Banggar memberikan saran dan pendapat yaitu meminta kepada Wali Kota untuk menutup sementara museum, sesuai dengan kesepakatan sampai dengan tertibnya kerjasama yang sesuai dengan Perda dimaksud,” tandasnya.
Wakil Wali Kota Probolinggo, Moch Soufis Subri yang hadir dalam rapat Paripurna Banggar menegaskan, tidak perlu sampai menutup Museum Rasulullah. Apalagi, animo masyarakat mengunjungi museum itu sangat tinggi. ”Tidak perlu sampai menutup Museum Rasulullah ya. Apalagi animo masyarakat tinggi untuk melihat barang – barang bersejarah peninggalan Rasulullah Muhammad SAW,” ujarnya.
Subri menegaskan, butuh waktu lama jika kerjasama dengan pihak ketiga ini harus menyusun Perda lebih dulu. Sementara untuk menarik investor ke Kota Probolinggo sulit. ”Menyusun Perda itu perlu waktu dan ketika Perda sudah ada belum tentu ada investor yang masuk. Ini kan ada investor yang masuk. Jadi kenapa tidak dipermudah,” terangnya.
Disinggung mengenai besaran sharing retribusi atau pajak hiburan yang tidak sesuai dengan Perda, Subri memastikan akan dilakukan penyesuaian. ”Penyesuaian itu pasti,” tuturnya.
Hingga kini Museum Rasulullah yang sebelumnya Museum Probolinggo masih beroperasi. Padahal, Banggar DPRD Kota Probolinggo peduli agar museum itu ditutup sementara. Kondisi ini membuat sorotan makin tajam diberikan Banggar.
Pimpinan Banggar DPRD Kota Probolinggo, Fernanda Zulkarnain, rekomendasi itu memang diserahkan Jumat (13/11) malam. Sehingga, belum diketahui apakah sudah dijalankan atau tidak. ”Kami belum tahu saat ini operasional atau tidak. Namun, memang saran itu diberikan pada Jumat malam. Pada penonton kami bukan ingin menutup. Hanya agar Pemkot terhindar dari masalah hukum yang akan timbul di kemudian hari lantaran ada peraturan yang ditabrak,” katanya.
Fernanda menjelaskan, rekomendasi yang diberikan karena ada Perda yang dilanggar dalam pihak ketiga itu. Diantaranya, sharing retribusi atau tiket masuk dan biaya sewa aset yang hingga kemarin belum ada. Di sisi lain, kesepakatan pihak ketiga dengan Pemkot saat ini menyebabkan Banggar, merugikan Pemkot dan sangat menguntungkan pihak ketiga. Karena itu lantas rekomendasi dikeluarkan.
“Awalnya kami tidak tahu melanggar Perda atau tidak. Setelah ada penjelasan di Banggar yang baru diketahui kalau ada aturan yang ditabrak. Makanya kami menyarankan agar ditutup untuk perjanjian tanpa aturan,” tuturnya.
Fernanda mempertanyakan, siapa sebenarnya pihak ketiga yang terlibat dalam kerjasama ini. Sebab, menurutnya pihak ketiga ini sangat mudah masuk tanpa mengikuti aturan yang ada. ”Harusnya ada proporsi retribusi yang masuk ke Pemkot. Ini malah merugikan pemkot. Siapa sih pihak ketiga ini? Kok mudah masuk dan mendapatkan keuntungan lebih. Malah Pemkot yang dirugikan,” tegasnya.
Kepala Disdikbud Kota Probolinggo, Moch Maskur, berbeda pendapat dengan Banggar. Dia keukeh tidak perlu menutup Museum Rasulullah. Apalagi menurutnya, museum ini sudah berjalan dan ramai. Jika ditutup begitu saja, nama baik Pemkot Probolinggo yang akan dipertaruhkan.
Memang Banggar menyarankan ditutup sementara. Tapi kalau seperti itu apa bisa maju Kota Probolinggo? Kalau kurang sempurna, mari disempurnakan bersama,” ungkapnya.
Penutupan Museum Rasulullah malah menurutnya bisa memberikan masalah pada daerah. Dalam hal ini Kota Probolinggo. ”Kalau langsung ditutup, sementara telanjur banyak yang mau beli tiket malah jadi masalah untuk daerah. Katanya agar Kota Probolinggo maju dan dapat PAD. Kalau seperti ini, investor mau masuk sulit. Apalagi ini kan berjalan belum satu bulan,” lanjut Maskur.
Karena itu, Maskur tidak sepakat dengan penutupan sementara museum itu. Jika ada hal yang kurang sempurna, maka akan disempurnakan tanpa harus menutup museum. ”Saya Hari Senin ini (kemarin, red) mengumpulkan tim, melibatkan Bagian Hukum, Pemerintahan, Inspektorat, Bapedda, Bagian Keuangan, Aset dan Retribusi. Tujuannya membahas masalah tersebut,” tambah Maskur. [wap]

Tags: