Diskanla Jatim Imbau Nelayan Perhatikan Peringatan BMKG

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Pemprov Jatim, Bhirawa
Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Jatim menghimbau  pada seluruh nelayan di Jatinm agar tetap memperhatikan peringatan dari Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelum melaut.
Kepala Diskanla Jatim, Ir Heru Tjahjono MM mengatakan, jika memang cuaca buruk dan disertai gelombang tinggi, diharapkan nelayan tetap berada di daratan dengan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kapal atau jaring.
“Jika memang cuaca buruk berkepanjangan, maka nelayan bisa meminta bantuan Pemda setempat untuk mendapatkan beras. Hal itu memang bisa dilakukan jika kondisinya darurat,” katanya didampingi Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Ir Eryono.
Selain itu, lanjutnya, ketika cuaca buruk dan gelombang tinggi maka para nelayan diberikan pembinaan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menangkap dan memproduksi hasil perikanan kelautan tersebut.
Setiap tahun, lanjutnya, Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim memang sudah memprogramkan bantuan pada nelayan ketika mereka tidak bisa melaut. “Biasanya kalau musim gelombang tinggi, nelayan tidak melaut. Rata-rata mereka melangsungkan perbaikan jaring, kapal, hingga docking,” kata Heru.
Untuk itulah, Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim memberikan bantuan pada mereka baik secara langsung dan tidak langsung. “Bantuan langsung. Misalkan saja perbaikan jaring maka akan diberikan bantuan seperti benangnya. Kalau kapal rusak, kami bantu alat untuk menambal sampai perbaikan kayu yang lapuk,” katanya.
Sedangkan bantuan tidak langsung, lanjutnya, Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim juga membidik wanita nelayan atau ibu rumah tangga dengan program usaha ekonomi alternatif. “Salah satunya mereka diberikan pelatihan seperti membuat pindang sampai dengan pengasapan ikan. Bantuan juga berupa peralatan dalam mendukung usaha tersebut. Sehingga mereka bisa mendapatkan tambahan ketika suami tidak melaut. Sedangkan nelayan juga diberikan pelatiihan dan ketrampilan lainnya,” katanya.
Menurutnya, meskipun ada imbauan dari syahbandar pelabuhan agar tidak diperkenankan melaut selama terjadi gelombang tinggi, namun masih saja ada saja yang nekad. “Sebanyak 90-80 persen, nelayan masih belum berani melaut. Mereka pastinya juga menaati imbauan dari Syahbandar Pelabuhan,” katanya.
Sementara jumlah kapal nelayan di Jatim dari ukuran kecil sampai besar sebanyak 58.440 unit. Sari komposisi tersebut kapal ukuran 10-30 GT sebanyak 7658 unit, 30 GT keatas 435 unit. Sisanya dibawah 10 GT. Sedangkan jumlah nelayan, seluruhnya 236.195 jiwa. [rac]

Tags: