Diskominfo Kabupaten Probolinggo Gandeng Jurnalis Perangi Rokok Ilegal

Diskominfo kabupaten Probolinggo sosialisasi perpu di bidang cukai.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kabupaten Probolinggo, Bhirawa
Masalah rokok ilegal menjadi target pemerintah kabupaten Probolinggo untuk diberantas habis, untuk itulah Diskominfo Kabupaten Probolinggo terus menggalakkan sosialisasi perundang-undangan bidang cukai. Salah satunya dengan menggandeng jurnalis untuk menggempur habis beredarnya rokol ilegal di wilayahnya.
Sedikitnya ada 40 wartawan yang mengikuti sosialisasi Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2007, di ruang rapat Ayam Bawangan, Dringu. Pemateri sosialisasi kali ini di antaranya Kepala Diskominfo Kabupaten Probolinggo, Yulius Christian dan petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Dan Cukai (KPPBC) Tipe Pratama Probolinggo.
“Hari ini kita sosialisasi terkait cukai, kita tahu, bahwa cukai adalah sumber pendapatan negara. Kita termotivasi bagaimana pendapatan negara itu besar. Hari ini, kita berikan sosialisasi kepada jurnalis, agar jurnalis menyampaikan kepada masyarakat tentang cukai rokok ilegal,” ujar Yulius pada Jumat, 8/11.
Keterlibatan jurnalis, salah satu bentuknya adalah melalui tulisan berita yang dimuat di medianya masing-masing. Berita yang berkaitan dengan rokok tanpa cukai atau rokok ilegal diharapkan mampu menyadarkan masyarakat akan kerugian yang ditimbulkan. Selain itu, apa sanksi yang akan didapat jika memproduksi, menggunakan, memperjual belikan, dan mengendarkan rokok tanpa cukai alias rokok ilegal.
“Pesannya adalah bagaimana kita memberantas cukai ilegal. Kalau kita memberantas, tentunya berimbas pada pendapatan negara yang lebih besar. Sehingga bisa digunakan untuk pembangunan yang lain,” jelas mantan Camat Sukapura itu.
Kepala Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan KKPBC Probolinggo, Bambang Sutedjo sangat mengapresiasi upaya Diskominfo Kabupaten Probolinggo menggandeng jurnalis. “Yang pasti saya apresiasi sekali sinergisitas Diskominfo yang menggandeng jurnalis. Ini langkah yang luar biasa, karena apa? Karena satu berita bisa menjangkau jutaan orang, dibanding jika saya sosialisasi di tingkat RT RW,” katanya.
Masalah penindakan, ia mengatakan sudah ada 17 perusahaan rokok (PR) ditutup. Dari semula berjumlah 33 PR kini tinggal 16 PR. ditutup karena tidak sesuai dengan aturan perundang-undangan. Salah satunya tidak melakukan aktivitas, meski PR tersebut memesan cukai di Kementerian Keuangan. Setelah ditelusuri, ternyata dipakai perusahaan lain.
“Prinsip utama ini adalah pemberantasan rokol ilegal. Dengan tagline Gempur Rokok Ilegal. Sesuai dengan target yang diberikan kepada kami, dari 7 persen turun ke 3 persen. Harapan saya, teman-teman media ini bisa membantu kita,” tandas Bambang.
Giat sosialisasi,”Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Cukai Tahun 2019″. Sekarang ini jangan coba-coba memalsukan pita cukai rokok, tegas Bambang Sutedjo. Silakan berikan informasi. Jika memang ada perusahaan yang tidak menggunakan pita cukai, saya langsung keluarkan nota dinas kepada petugas agar langsung turun ke lapangan, tandasnya.
Lebih lanjut Yulius Christian menjelaskan, cukai itu merupakan salah satu pendapatan terbesar di negara. Itulah sebabnya, pers itu sangat membantu pemerintah dalam hal publikasi agar mengerti dan paham tentang undang-undang pita cukai. Ada 16 perusahaan rokok (PR) di Kabupaten Probolinggo, yang kena cukai. Mulai rokok lokal, sampai yang besar seperti Sampoerna dan Gudang Garam.
Mereka menyuplai Rp 673 miliar pendapatan cukai melalui Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Probolinggo. Angka itu merupakan hitungan hingga Oktober 2019. Estimasi sampai akhir tahun nanti, kontribusi mereka sebesar Rp 778 miliar. Pendapatan dari cukai tembakau merupakan yang terbesar dibanding sumber pendapatan lainnya. “80 persen (pendapatan) dari sektor cukai tembakau,” sebut Bambang.
Menurut Bambang, kontribusi rokok lokal masih kecil. Namun, ia tak menyebut angka. “Apa ya, itu (kontribusi rokok lokal) ada pastinya,” katanya. Sebagai ibarat, Bambang menyebut uang dengan nominal satu juta, tak lengkap bila kurang seribu rupiah, tambahnya.(Adv/Wap)

Tags: