Diskoperindag Kabupaten Bondowoso Berupaya Stabilkan Harga Kedelai

Suasana produksi tahu di Bondowoso tetap beroperasi meski harga kedelai kian melambung. (Doc. Ihsan Kholil/Bhirawa)

Bondowoso, Bhirawa
Dinas Koperasi, Perindustrian Dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Bondowoso tengah melakukan sejumlah upaya untuk menstabilkan harga kedelai yang kian melambung. Hal tersebut dilakukan karena diketahuinya, Produsen tahu dan tempe di Kabupaten Bondowoso merana karena harga bahan baku kedelai meroket. Mereka terpaksa turut menaikkan harga tahu dan tempe agar tak menelan kerugian.

“Kami telah melakukan koordinasi dengan Disperindag Jatim untuk terus memantau harga dan mengumpulkan data kebutuhan kedelai setiap kabupaten/kota,” kata Kepala Bidang (Kabid) Usaha Perdagangan dan Pengembangan Ekspor Diskoperindag Bondowoso, Ida Kurnia Theolita, Jumat (8/1).

Ida Kurnia Theolita mengaku bahwa pihaknya bersama Disperindag Jatim juga meminta distributor pengimpor kedelai di wilayah Jawa Timur memberikan harga di bawah pasaran, yakni Rp 8.500. Dimana harga itu diperuntukkan bagi industri kecil saja. “Tetapi untuk saat ini masih belum bisa mencakup semua wilayah. Sebab, terkendala biaya pengiriman. Walhasil di sejumlah daerah harga kedelai masih tinggi, seperti di Bondowoso,” urainya.

Ia mengungkapkan, harga kedelai di Kabupaten Bondowoso melambung sejak 3 minggu lalu. Dimana penyebabnya, permintaan kedelai negara produsen meningkat. Sehingga mempengaruhi pemenuhan kuota di negara-negara pengimpor kedelai lainnya. Diterangkannya, bahwa harga kedelai di level ecer berkisar Rp 10.000 – Rp 11.000 per kg.

Sedangkan di tingkat agen sekitar Rp 9.500 per kg. Sebelumnya, harga kedelai dibanderol Rp 6.400 – Rp 7.600 per kg. “Harga kedelai yang naik adalah kedelai impor. Rata-rata memang produsen di Kabupaten Bondowoso menggunakan kedelai impor, karena jenis atau bentuknya lebih besar,” terangnya.

Ia pun mengaku, jika beberapa waktu lalu pelaku industri tahu dan tempe mendatangi Diskoperindag Bondowoso untuk curhat terkait kenaikan kedelai. Akibat kenaikan kedelai, mereka mengurangi jumlah produksi dan ukuran produk. Sampai saat ini produsen tahu dan tempe belum ada yang gulung tikar. “Kami akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah kenaikan harga kedelai,” tandasnya.[san]

Tags: