Disnakertrans Situbondo Nyatakan 35 TKI Hongkong Aman dari Corona

Kadisnakertrans Kabupaten Situbondo H Budi Priono bersama Sekdisnakertrans H Solihan dalam sebuah acara dengan para pekerja di Situbondo. [sawawi/bhirawa]

Situbondo, Bhirawa
Heboh penyebaran virus corona di Wuhan China hingga kini belum ada ujungnya. Termasuk dampaknya terasa sampai ke Kota Santri Situbondo.
Ini terungkap setelah 35 tenaga kerja asal Situbondo yang berada di Hongkong, dikabarkan masih terpantau aman dari virus corona. Kabarnya Hongkong kini tercatat sebagai daerah kedua penyebaran tertinggi virus corona setelah di Wuhan China.
Informasi Bhirawa menyebutkan, saat ini sedikitnya ada 35 pekerja migran Indonesia (PMI] asal Situbondo yang bekerja di Hongkong.
Mereka mulai bekerja sejak tahun 2018-2019 silam. Sampai saat ini hanya ada satu pekerja yang baru berangkat sejak awal Januari 2020 lalu ke wilayah Hongkong.
Meski masih terpantau aman dari sebaran virus corona, sejumlah orang tua kalangan PMI asal Situbondo ikut resah dan kawatir akan nasib mereka.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Situbondo, Budi Priono, mengatakan, pihaknya selalu menjalin komunikasi intensif dengan pihak Imigrasi Jember, untuk memantau keberadaan pekerja asal Situbondo, terutama yang ada di Hongkong.
Budi bahkan mengaku, sejauh ini belum ada informasi apapun termasuk masalah penyebaran virus corona bagi pekerja asal Kabupaten Situbondo.
“Kini Pemerintah untuk sementara menghentikan pengiriman Pekerja Migran ke Hongkong. Meski sudah banyak warga yang mendaftar untuk bekerja kesana,” ujar mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Situbondo itu.
Budi Priono kembali menambahkan, dirinya saat ini juga meminta kepada pihak keluarga 35 pekerja migran Indonesia asal Kabupaten Situbondo agar terus melakukan komunikasi dengan keluarganya yang ada di Hongkong.
Selain itu, papar Budi Priono, ia juga menyarankan segera melaporkan segala sesuatu info terbaru kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Situbondo jika terjadi gangguan kesehatan.
“Pada umumnya puluhan warga Situbondo itu menjadi pembantu rumah tangga selama bekerja di Hongkong. Itu karena sebagian besar pendidikan mereka hanya merupakan tamatan sekolah SD dan SMP,” pungkas mantan Kabid Perkebunan pada Dinas Pertanian Kabupaten Situbondo itu. [awi]

Tags: