Dispendik Gelar Pendidikan Keluarga Pencegahan Stunting

Dispendik gelar pendidikan pencegahan stunting. [wiwit agus pribadi]

Probolinggo, Bhirawa
Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Dispendik Provinsi Jawa Timur menggelar workshop pendidikan keluarga dalam upaya pencegahan stunting, di Aula Dispendik Kabupaten Probolinggo.
Workshop diikuti 30 orang peserta dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) secara ketat sebagai upaya pencegahan penularan Covid 19. Terdiri dari perwakilan Ormit (Organisasi Mitra) Himpaudi, Perwakilan Ormit IGTKI, Perwakilan Ormit IGRA, Perwakilan Forum PAUD Kabupaten Probolinggo, TP PKK Kabupaten Probolinggo, Pembina UKS SMP, Pembina UKS SD, serta Dispendik Kabupaten Probolinggo.
Workshop dibuka Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo, Fathur Rozi dihadiri narasumber Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan KB Kabupaten Probolinggo, dr Anang Budi Yoelijanto dengan materi pemberdayaan masyarakat dan stakeholder dalam penanggulangan stunting dan Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Sutilah dengan materi pencegahan dan penanganan stunting sedini mungkin.
Kasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan PAUD, PNF Dispendik Kabupaten Probolinggo, Massajo, Minggu (13/12) mengungkapkan kegiatan ini dilatarbelakangi karena Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu kabupaten lokus stunting nasional sejak tahun 2018 hingga 2020, dengan target tahun 2024 menurun hingga 14% target nasional. Pemerintah Kabupaten Probolinggo dari semula 22% tahun 2019 menjadi 19% tahun 2023.
“Dinas Pendidikan merupakan salah satu OPD Pemerintah Kabupaten Probolinggo yang berkontribusi dalam percepatan penurunan stunting pada program dan kegiatan pemenuhan gizi sensitif (70%) melalui layanan pendidikan anak usia dini secara holistik integrative usia 0-6 tahun,” ungkapnya.
Menurut Massajo selama ini Dispendik dalam pencegahan stunting telah melaksanakan Diklatsar guru PAUD lokus stunting secara bertahap. Tahun 2019 sebanyak 160 orang dan tahun 2020 sebanyak 121 orang melalui dana APBN, APBD, Dana Desa dan mandiri. Pemberian makanan tambahan bagi peserta didik PAUD melalui dana BOP PAUD, serta kelas pengasuhan, parenting learning melalui layanan KB, TP, SPS terintegrasi dengan desa, puskesmas, PLKB dan lain sebagainya.
“Dengan workshop ini diharapkan peserta memiliki persepsi dan pandangan yang sama tentang pencegahan stunting bersama stakeholder lainnya, meningkatnya pemahaman dan peran serta dalam pencegahan stunting bersama masyarakat serta berperan aktif di masyarakat dalam penyuluhan, sebagai narasumber dan menjadi motor penggerak kader desa dan masyarakat secara terkoordinasi, komunikasi dan bersinergi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pencegahan stunting,” tegasnya.
Sementara Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo, Fathur Rozi mengharapkan, agar para peserta workshop ini aktif dan berkontribusi mengimplementasikannya kepada masyarakat, karena pentingnya tentang pencegahan stunting di Kabupaten Probolinggo yang ditetapkan sebagai lokus stunting nasional.
Tentunya dengan berbagai regulasi yang ada dan himbauan – himbauan, walaupun di saat pandemi Covid 19 ini juga menjadi prioritas penanganan dari sisi kesehatan, tapi juga tidak meninggalkan momentum sekaligus juga tetap menjaga kesehatan masyarakat terutama dalam program pencegahan stunting,” katanya.
Melalui workshop pendidikan keluarga ini, jelas Rozi, bagaimana lebih kepada perhatian kepada para keluarga yang mempunyai Balita, pengantin baru dan calon pengantin baru tetap memperhatikan gizi dan kesehatannya. Apalagi di saat pandemi Covid 19 seperti ini, peran untuk bisa membangun suasana kehidupan sehat dan selalu waspada dengan menerapkan Prokes, minimal melaksanakan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan Menjaga jarak) dan 3T (Tracing, Testing, Treatment).
Rozi meminta agar peserta bisa menindaklanjuti dengan sosialisasi penyuluhan bersama desa dan masyarakat, sehingga materi yang diterima bisa diimplementasikan di desa masing – masing atau di tempat kerjanya. Karena pencegahan stunting itu tidak hanya sasaran fokusnya kepada anak usia 0-2 tahun tapi preventifnya lebih diutamakan pencegahannya mulai dari usia remaja.
“Dengan pemenuhan gizi yang sesuai dengan perkembangan usianya itu menjadi penting. Karena bukan hanya dari faktor fisiknya yang diprioritaskan, tapi juga otaknya. Kecerdasannya itu harus berimbang. Untuk apa tubuhnya sehat tapi otaknya tidak ada kecerdasan sehingga diharapkan dengan worshop ini implementasi dari materi-materi yang disampaikan kemudian ada ide gagasan atau inovasi,” tegasnya.
Menurut Rozi, Dinas Pendidikan sudah menorehkan inovasi Gunting Emas atau Guru PAUD Peduli Stunting Bersama Masyarakat yang masuk nominasi 5 besar inovasi OPD tahun 2020. Suasana seperti ini tetap harus dibangun dengan tetap menjaga Prokes. Apalagi di saat musim hujan seperti ini rawan penyakit. Jadi diharapkan para guru dan profesi yang lain mempunyai kontribusi dan kegiatan yang nyata. [wap]

Tags: