Dispendik Gelar Sosialisasi dan Pembinaan PTK

Dispendik dan PGRI gelar sosialisasi dan pembinaan PTK. [wiwit agus pribadi]

Probolinggo, Bhirawa
Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), menggelar sosialisasi dan pembinaan PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) di aula KPRI Jaya Sehat Kecamatan Krejengan.
Sosialisasi diikuti ratusan orang peserta terdiri dari Pengurus PGRI Kabupaten Probolinggo dan anak-anak lembaga seperti YPLP (Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan), IGTKI (Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia), LKBH (Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum), DKGI (Dewan Kehormatan Guru Indonesia), APKS (Asosiasi Profesi dan Keahlian Sejenis), serta Perwakilan PC masing – masing enam orang dari 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo.
Sosialisasi dan pembinaan PTK ini dihadiri Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo, Dewi Korina didampingi Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dispendik Kabupaten Probolinggo Sunalis, Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo, Purnomo, bersama seluruh Pengurus Harian PGRI Kabupaten Probolinggo.
Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo Purnomo, Selasa (19/11) mengungkapkan, kegiatan ini digelar dalam rangka sosialisasi di organisasi PGRI tentang Kongres PGRI, Hari Ulang Tahun (HUT) PGRI serta pembinaan PTK. Sebab lewat jalur PGRI, segala informasi ini bisa sampai ke bawah ke anggota PGRI, khususnya Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
“Salah satunya terkait dengan disiplin pegawai dan informasi kedinasan. Karena ada rasa takut terkait masalah fingerprint. Ini kan amanat UU sebagai seorang PNS dan guru harus taat terhadap aturan yang berlaku. Semua ini dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja,” ungkapnya.
Sosialisasi dan pembinaan PTK bertujuan untuk menyamakan persepsi dan menyampaikan hal-hal yang berkembang di luar, melalui sumber informasi yang resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo agar lebih menguatkan informasi yang sudah ada di tubuh PGRI.
Kepala Dispendik Kabupaten Probolinggo Dewi Korina memberikan penguatan kepada guru melalui PGRI akan pentingnya disiplin ASN (Aparatur Sipil Negara), salah satunya melalui presensi biometrik. ”Kalau tahun sebelumnya guru belum diberlakukan TPP itu berdasarkan presensi biometrik, tetapi masih memakai tanda tangan manual. Baru mulai September ini kita berlakukan,” katanya.
Dewi menjelaskan, bila ada kendala merupakan hal yang wajar dalam memulai sesuatu yang baru. Pasti ada ketidaknyamanan dan protes. ”In sya Allah pelan – pelan melalui sosialisasi seperti ini bapak dan ibu guru memahami, tujuannya untuk meningkatkan disiplin. Sebelumnya yang terlambat masuk kerja tak perlu dikontrol kepala sekolah tetapi berdasarkan sistem,” jelasnya.
Menurut Dewi, sekolah di Kabupaten Probolinggo sekarang sudah mulai menggunakan presensi biometrik untuk TPP. Setelah ini juga untuk sertifikasi akan diberlakukan yang sama mulai triwulan IV. [wap]

Tags: