Disperindag Kabupaten Malang Awasi Penjual Mamin di Tempat Wisata

Hasan Tausikal

Kab Malang, Bhirawa
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang telah menghimbau kepada penjual makanan dan minuman (mamin), khususnya di tempat-tempat wisata agar lebih selektif dalam menjual mamin. Karena masih ada toko yang menjual mamin dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Sedangkan main yang tidak layak dikonsumsi, diantaranya mamin kedaluwarsa, kemasan penyok atau rusak, sampai tidak adanya izin Pangan Industri Rumah Tangga(PIRT), yang salah satu bagian dari jaminan keamanan sebuah produk. “Karena mamin yang sudah kadaluwarsa jika dikonsumsi akan mengganggu kesehatan. Sehingga penjual mamin harus hati-hati dan lebih teliti dalam menjual mamin di tokonya,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindag Kabupaten Malang Hasan Tausikal, Senin (6/1), kepada wartawan.
Menurutnya, pihaknya telah menemukan mamin yang tidak layak konsumsi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) dibeberapa tempat wisata di Kabupaten Malang, pada tahun 2019. Selain itu, pihaknya juga melakukan uji sampling di sejumlah lokasi wisata. Meski bersifat sampling, namun temuan itu bisa dimungkinkan juga terdapat di lokasi-lokasi wisata lainnya. Sehingga hal tersebut juga menjadi perhatian kita.
“Sidak mamin di lokasi wisata, karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang sedang menuntaskan program optimalisasi pariwisata sampai awal tahun 2021 mendatang. Sedangkan untuk memberantas peredaran mamin yang tidak memiliki standar, yang dijual di tempat wisata, maka kita lakukan sidak,” kata Hasan.
Namun, masih dia katakan, untuk mengantisipasi adanya mamin tidak layak edar, maka Disperindag harus dibantu dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) atau pemerintah desa setempat. Sebab, jika pihaknya melakukan sidak secara keseluruhan, tentunya kekurangan tenaga, karena petugas di lapangan sangat terbatas. Sehingga diharapkan Pokdarwis dan pemerintah desa turut serta dalam membantu melakukan pengawasan kepada toko-toko yang menjual mamin di area tempat wisata.
“Kami berharap agar penjual mamin baik yang ada di toko maupun pedagangan asongan, sebelum menjual main harus diteliti terlebih dahulu tanggal kadaluwarsanya. Dan jika mamin sudah kadaluwarsa jangan dijual, serta kemasannya dalam keadaan rusak juga jangan dijual, sehingga harus dikembalikan ke distributuornya,” tegasnya.  
Hasan juga menyampaikan, untuk mengawasi penjual mamin di area wisata
Perlu adanya sinergitas secara harmonis pada seluruh unsur, baik ditataran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait sampai dengan tingkat kelompok masyarakat dan pemerintah desa sesuai tupoksinya masing-masing. Contohnya, mamin yang dijual tanpa label dan tidak memiliki izin PIRT, atau mengenai kesehatan dan kehalalan produk mamin yang izinnya berada di lintas sektoral atau lembaga lainnya.
Secara terpisah, Kepala Seksi (Kasie) Pengelola Obat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Nur Khulailah menyampaikan, produk mamin harus benar-benar kita jaga, hal ini untuk menghindari yang kita tidak diinginkan. Sebab, persoalan penjualan mamin di lokasi wisata di Kabupaten Malang terlihat sepele, tapi memiliki efek panjang jika hal itu dibiarkan begitu saja. “Apalagi, sebagian besar mamin yang dijual di lokasi wisata tidak kesemuanya produk pabrikan, tapi sebagian produk olahan rumahan atau home industri, yang masih banyak tidak menggunakan label maupun syarat kemasan standar,” jelasnya. [cyn]

Tags: