Ditengah Pandemi Covid 19, Pemkot Malang Optimis PAD Membaik

Suasana pelayanan pajak Bapenda Kota Malang.

Pandemi Covid 19, yang melanda Indonesia termasuk Kota Malang,  telah merubah pola  kehidupan disemua sektor. Ekonomi menjadi sektor paling berdampak. Sumber pendapatan sektor pajak dari rumah makan, Restorn, Hotel dan tempat hiburan secara otomatis menyusut. Kondisi ini, membuat penurunan pendapatan di Kota Malang hingga hampir 21 persen. Wali Kota Sutiaji optimis penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak sampai di angka  50 persen.

 M. Taufik Kota Malang

Wali Kota Malang,  Sutiaji tetap optomis, bahwa di masa Pandemi Covid 19 ini,  PAD tidak sampai menyentuh angka 50 persen. Ini tidak terlepas dari semangat masyarakat Kota Malang yang tetap ingin perekonomiannya berjalan meski terjadi wabah.

Berdasarkan data, yang disampaikan Sutiaji,   asumsi penurunan pendapatan akan mencapai angka 50 persen, dan minimal pada angka 30 persen. Tetapi pada realitanya  penurunan pendapatan hanya  pada angka  20,78 %. 

“Angka itu masih jauh dari asumsi minimal, makannya kita optimis dimasa new normal nanti, perlahan ekonomi di Kota Malang akan bangkit,”tutur Sutiaji.

Menurut dia,  seluruh elemen masyarakat harus meletakkan pada perspektif optimis, khususnya memasuki masa masa adatif bersama Covid 19. Tidak bisa tidak,  roda ekonomi, harus berputar dengan membangun pola kehidupan baru.

Ada dua sektor, menurut Wali Kota yang juga seorang Ustadz itu, yang survive dan menunjukkan trend positif selama masa covid yakni sektor e commerce dan produk makanan segar. 

“Ada kenaikan permintaan yang cukup tinggi pada permintaan produk makanan segar,  tidak kurang dari 123 %,”ujarnya.

Mengakselerasi masa transisi dan masa adaptif  Covid 19, kepada perangkat daerahnya, Sutiaji menekankan agar mulai menggerakkan program kegiatan yang mulai melibatkan partisipasi publik.

“Pada masa adaptif,  kita sudah tidak lagi social distancing, yang kita tekankan adalah physical distancing. Sehingga OPD jangan gamang apabila menggelar kegiatan yang melibatkan berbagai elemen,”tambahnya.

Kegiatan yang dimaksud itu,  seperti gelar produk UMKM dan kegiatan lain  yang mampu menstimulus ekonomi daerah. Namun tetap dipedomani secara ketat dan penuh kedisiplinan prinsip  dasar protokol Covid 19.

Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Yunan Saifullah,  mengemukakan Covid-19 bukan sekadar bencana global tetapi memiliki imbas pada ekonomi daerah, khususnya lahirnya multiplier efek pada PAD bagi ekonomi daerah.

PAD bagi daerah merupakan  jantung ekonomi  sekaligus menggambarkan karakter ekonomi daerah. Daerah akan terkonsentrasi pada sektor apa

Selama Covid-19, PAD kota Malang turun 20,78 persen dan  Kota Malang adalah kota profitpolis  yakni  daerah yang menggantungkan dan mengeksploitasi potensi ekonomi di sisi jasa.

“Jika sektor jasa berhenti beroperasi secara otomatis tidak ada pemasukan. Tapi untuk membangkitkan kembali juga tidak perlu cara yang rumit, ketika sektor ini beroperasi maka perekonomian juga akan bangkit,”tandasnya.

Menurut dia sektor jasa adalah irisan sektor sekunder dan tersier. Karena itu, struktur ekonomi Kota Malang dibentuk oleh sektor sekunder dan tersier.

Gabungan sekunder dan tersier itulah yang disebut ekonomi modern, tetapi sektor yang mudah rapuh. Karena  begitu sektor ini, jatuh dan terpuruk, maka pertumbuhan ekonomi dipastikan anjlok

“Saat ini PAD Kota Malang turun, dipastikan sektor ini memberikan kontribusi ekonomi daerah menjadi negatif. Pertumbuhan ekonomi akan terperosok,”tandas dia.

Dalam situasi normal, ketika pertumbuhan ekonomi turun, pajak masih bisa diandalkan untuk mengembalikan ekonomi. Tetapi Covid 19 pertumbuhan ekonomi nyaris terhenti.

Sementara itu, Dr. Umi Muawanan Dosen Universitas Gajayana (Uniga) Malang, menambahkan  jika pajak daerah pasti menurun karena aktifitas ekonomi  yang terkait pendapatan pajak tidak beroperasi.

“Retribusi pasar menurun, Retribusi Rumah Makan, Hotel juga turun karena sebagian mereka, tidak beroperasi, pastinya  tidak ada pemasukan, dari sektor pajak,”tuturnya.

Apalagi, kata dia sebagai  kota pendidikan,mahasiswa memilih pulang kampung, karena adanya  sistem pembelajaran daring dari Perguruan Tinggi,  Ini juga sangat berpengaruh dengan retrebusi pajak di Kota Malang. 

“Ada 300 ribu mahasiswa di Kota Malang, mereka saat ini pulang kampung. Pasti sangat berimbas pada roda perekonomian Kota Malang,”tukasnya.

Dibagian lain, praktisi ekonomi, HM.Mahrus, mengakui jika bisnis yang dia kembangkan tidak bisa optimal. Pemilik Rumah Makan Ocean Garden ini, menyebut penurunan usahanya mencapai  hampir 80.

“Bisnis  kami terdampak, kami punya hotel dan restoo selama pandemi Covid  19, turun sampai 80 persen omzetnya,”kata Mahrus.

Diakui dia, ketika bisnis yang dia  jalankan itu, berjalan normal, maka secara otomatis akan berdampak pada pemasukan daerah. Karena dia akan langsung membayarkan pajaknya secara online, setiap ada transaksi.

Tags: