Diuji Coba di 5 Kecamatan, Dilempar ke Bali karena Harga Jual Tinggi

Jeruk keprok saat ini getol dikembangkan di Banyuwangi.  Perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai berpaling mencari buah jeruk impor menjadi peluang petani setempat untuk mengembangkan budidaya hortikultura ini.

Jeruk keprok saat ini getol dikembangkan di Banyuwangi. Perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai berpaling mencari buah jeruk impor menjadi peluang petani setempat untuk mengembangkan budidaya hortikultura ini.

Kabupaten Banyuwangi, Bhirawa
Berpalingnya masyarakat untuk mengonsumsi buah impor dalam beberapa tahun terakhir menjadi berkah bagi petani hortikultura lokal.  Salah satunya di Kabupaten Banyuwangi. Petani di sana rajin mengembangkan tanaman jeruk keprok yang makin diminati konsumen dalam negeri.
Pemkab Banyuwangi kini getol mengembangkan budidaya tanaman hortikultura jeruk keprok. Upaya ini dilakukan seiring perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai berpaling mencari buah jeruk impor asal Tiongkok.  Di sisi lain pasokan jeruk keprok lokal untuk memenuhi permintaan masyarakat tergolong minim.
“Kami melihat peluang itu. Petani jeruk Banyuwangi tidak boleh tergerus pasar buah impor, karena di beberapa pasar tradisional sudah banyak buah impor masuk,” kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi Syaifullah saat ditemui Bhirawa, Selasa (1/7).
Pihaknya telah membuat roadmap wilayah pertanian yang dikonsentrasikan untuk budi daya jeruk keprok. Kecamatan Bangorejo, Tegaldlimo, Purwoharjo, Cluring dan Siliragung, kata Syaifullah, merupakan sentra-sentra utama pertanian jeruk keprok di Banyuwangi. Lima kecamatan itu sebelumnya terkenal dengan sentra budi daya jeruk siam, buah andalan Kabupaten Banyuwangi di sisi selatan.
Dari pantauan dinas, ia melanjutkan, petani jeruk siam mulai mengembangkan produk jeruk keprok di atas lahan seluas 6 hektare di Kecamatan Bangorejo. Tanaman sisipan itu dikelola petani secara swadaya sejak 2012.
Sementara Dinas Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi juga memiliki lahan budi daya jeruk keprok seluas 15 hektare. Syaifullah mengatakan, lahan itu dikelola oleh lima kelompok tani bentukan dinas di Desa Temurejo Kecamatan Bangorejo dan Desa Seneporejo Kecamatan Siliragung. Setiap kelompok mengolah¬† area kebun jeruk keprok seluas tiga hektare. Dari awal penanaman hingga siap panen, minimal dibutuhkan waktu 2-3 tahun. “Rencananya, September tahun ini mulai masa panen. Jeruk keprok Banyuwangi cenderung dijual ke Bali karena harga jualnya lebih tinggi,” ia menuturkan.
Untuk mendukung pengembangan jeruk keprok, ia mendorong petani-petani di sekitaran sentra produksi menyediakan bibit-bibit unggul jeruk keprok. Bibit-bibit unggul dari petani lokal itu, kata Syaifullah, diproyeksikan untuk memasok kebutuhan bibit bagi petani jeruk keprok. Bagi petani bibit, pihaknya memberikan standar kualitas yang wajib dipatuhi agar menghasilkan produk yang sesuai keinginan pasar dan bisa bersaing dengan produk buah jeruk Tiongkok.
Menurut dia, model kerjasama ini memberikan jaminan ketersediaan bibit jeruk keprok yang sesuai standar dan bermutu. “70 persen pertanian hortikultura itu disokong bibit yang unggul. Kami juga menerapkan standardisasi produk, biar hasilnya bisa bersaing di pasaran,” ujarnya.
Langkah ini juga disokong metode budidaya pertanian yang kini gencar disosialisasikan lewat program Sekolah Lapang Good Agriculture Practice atau disingkat SL GAP. Melalui penyuluh lapangan, metode ini menuntut petani bercocok tanam sesuai standar dengan belajar di lapangan agar hasilnya bermutu. Petani, kata Syaifullah, wajib memperhatikan iklim, komposisi penggunaan pupuk, dan perlakuan khusus terhadap tanaman ketika bertani.
Salah dalam pengelolaan budidaya jeruk kepruk, kata dia, berakibat rusaknya tanaman, produktivitas dan mutu terganggu. “Penggunaan pupuk nitrogen seperti NPK, Urea dan ZA yang berlebih bisa membuat kebal hama. Begitupula kondisi udara lembab yang tidak didukung pola tanam yang bagus, bisa menimbulkan jamur,” kata Syaifullah.
Tahun 2013, produksi jeruk siam di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 220.804 ton dengan area tanam seluas 8.252 hektare. Dengan asumsi itu, rata-rata produktivitas jeruk siam Banyuwangi sebesar 27 ton per hektare. Dinas Pertanian belum menghitung secara khusus produksi jeruk keprok karena masih tahap uji coba pengembangan. “Ada yang sudah panen, tapi cuma satu dua pohon saja. Periode panen jeruk bulan April-Oktober setiap tahun, puncak panen September,” ucapnya. [mb5]

Tags: