Diversifikasi Konsumsi Pangan Lokal

Menunjang Kemandirian Pangan

Oleh :
Devi Fatmawati
Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.

Akhir-akhir ini, semakin sering tersiar kabar masalah rawan pangan di berbagai daerah di tanah air, bahkan busung lapar dan gizi buruk banyak ditemui di beberapa wilayah daerah Indonesia. Ironisnya di wilayah yang dekat dengan pusat perkotaan juga masih terdapat kejadian busung lapar.

Akar permasalahan yang menyebabkan terjadinya busung lapar dan gizi buruk umumnya dikaji dari faktor kemiskinan, meningkatnya harga pangan pokok, buruknya pelayanan kesehatan publik dan kurangnya pengetahuan masyarakat akan hidup sehat dan keterbatasan pengetahuan gizi. Penyebab kejadian di atas tidaklah berdiri sendiri, namun saling terkait.

Hal yang sering terlupakan, dari kejadian tersebut erat hubungannya dengan degradasi sumberdaya alam, seperti bencana kebanjiran, kebakaran hutan, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor dan lain-lain. Itu semua hanya mengingatkan kita pada keserakahan manusia.

Eropa yang alamnya begitu dingin, orang bisa menjaga dan melestarikan hutan hingga menjadi sumber penghidupan. Mereka melakukannya dengan penuh perhitungan dan penuh nurani, sedang di Indonesia semuanya serba berebut tanpa tanggung jawab. Hutan gundul habis dibabati, perut bumi dan laut habis dikuras, sementara pemimpinnya terus saja berdebat rebutan kursi dan porsi. Selanjutnya tanpa disadari ini juga bencana bagi kita dan generasi penerus bangsa.

Banyak sekali faktor yang berperan terhadap kejadian rawan pangan dan timbulnya busung lapar. Telah banyak pula upaya yang telah dilakukan baik melalui kebijakan dan aksi nyata pemerintah maupun masyarakat, baik bersama-sama maupun terpisah untuk mengatasi hal tersebut. Hal ini menjadi bahan renungan kita bersama.

Pada tulisan kali ini akan dibahas lebih lanjut upaya penanggulangan masalah rawan pangan, terutama dari sisi diversifikasi konsumsi pangan dan keunggulan pangan lokal. Diversifikasi pangan merupakan salah satu program yang tepat untuk digalakan secara berkesinambungan, untuk meningkatkan ketersediaan pangan, sehingga masyarakat mempunyai pilihan yang lebih luas untuk mengkonsumsi pangan.

Diversifikasi atau penganekaragaman konsumsi pangan bukan merupakan isu baru, tetapi sudah dikumandangkan sejak dikeluarkan Inpres No. 14 tahun 1974 tentang Usaha Perbaikan Menu Makanan Rakyat. Maksud dari instruksi tersebut adalah untuk lebih menganekaragamkan jenis, dan meningkatkan mutu gizi makanan rakyat baik kualitas maupun kuantitas. Konsumsi pangan dengan gizi yang cukup dan seimbang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan intelegensia manusia.

Keragaman jenis bahan pangan yang dikonsumsi oleh individu/rumah tangga baik jumlah dan kualitas konsumsi pangan dan gizi dalam rumah tangga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, pengetahuan dan budaya masyarakat.

Era sekarang ini sudah semakin banyak rumah tangga yang mengkonsumsi bahan pangan pokok beras, sehingga tingkat partisipasi konsumsi beras hampir mencapai 99 persen, bahkan kecenderungan tersebut juga terjadi pada wilayah-wilayah yang sebelumnya mempunyai pola pangan pokok jagung (Madura), umbi-umbian (Papua) dan talas, buru hotong serta sagu (Maluku dan Nusa Tenggara Timur).

Tingkat konsumsi beras juga meningkat terutama di wilayah pedesaan yang masih mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari sektor pertanian. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pola pangan pokok yang cenderung ke arah beras, pemerintah nampaknya cukup kesulitan untuk dapat memenuhi kebutuhan beras domestik.

Dengan adanya fenomena ini, wacana diversifikasi konsumsi pangan menjadi hangat kembali. Banyak para penentu kebijakan dan pakar dari berbagai bidang membahas hal tersebut, dengan tujuan utama untuk mengendalikan laju konsumsi beras agar setidaknya seimbang dengan laju produksinya.

Usaha diversifikasi pangan harus dimulai dari hulu sampai hilir, artinya yang perlu digalakan tidak hanya peningkatan konsumsinya saja tetapi ketersediaan bahan pangan lokal tersebut di lapang harus mencukupi, mudah diperoleh dan wajar harganya. Tanaman pangan non padi pada umumnya mempunyai persyaratan tumbuh dan input produksi yang lebih rendah dibandingkan dengan padi.

Umbi-umbian seperti ubi kayu, ubi jalar, talas, ubi negara, sorghum dan jagung dapat tumbuh di daerah relatif kering atau lahan marjinal. Garut, sukun, ubi jalar dan ganyong dapat ditanam di pekarangan atau sebagai tanaman sela di hutan tanaman industri. Dengan penerapan teknologi pengolahan, baik sederhana maupun modern dapat meningkatkan citra sumber pangan lokal. Selama ini bahan pangan tersebut sering disebut bahan pangan alternatif pengganti beras (sumber karbohidrat), sehingga mengandung pengertian kelas kedua. Belum lagi adanya opini publik yang sering menyebut rumah tangga yang beralih dari beras ke umbi-umbian sebagai rumah tangga rawan pangan atau miskin.

Dengan demikian citra pangan non beras sebagai barang inferior akan sulit diubah. Padahal dengan sentuhan teknologi yang memadai bahan-bahan tersebut dapat digunakan sebagai pendamping nasi, bahkan prosfektip dikembangkan dalam agroindustri. Selain membuka peluang kesempatan kerja, juga akan menghasilkan pendapatan serta berperan dalam penyediaan pangan yang beragam dan bermutu.

Bahan-bahan tersebut dapat diolah dalam bentuk utuh (gelondongan, butiran), bentuk irisan /potongan kasar, (sawut, stick, grit), dan bentuk tepung dan pati. Umbi-umbian juga dapat dikonsumsi sebagai pengganti nasi dengan cara dibakar, direbus, dikukus, atau dioven.

Jagung sebagai jenis pangan lokal yang banyak dikonsumsi di perdesaan produksinya terus ditingkatkan mengingat jagung dijadikan pangan pokok alternatif bagi masyarakat golongan pengeluaran rendah, maka seyogyanya pemerintah berupaya meningkatkan luas areal panen dengan cara memberikan insentif bagi petani tanaman pangan. Bentuk insentif bisa dilakukan dalam bentuk memberikan subsidi input atau menjaga kestabilan harga jagung di pasaran.

Kentang, talas, ganyong, ubi kayu, gadung, ubi jalar, umbi negara, sagu, jagung, sukun, suweg, dan garut dapat diolah menjadi tepung dan pati. Tepung merupakan salah satu bentuk alternatif produk setengah jadi yang dianjurkan, karena lebih tahan lama disimpan, mudah dicampur (dibuat komposit), diperkaya zat gizi (difortifikasi), dibentuk, dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis dan siap saji. Proses pengolahan tepung juga sangat sederhana, dimana hanya memerlukan proses pengeringan untuk menurunkan kadar air di dalam tepung sehingga tepung yang dihasilkan akan tahan lama.

Tepung dapat dimanfaatkan untuk aneka kue kering, snaks, cake, pancake, pastel, pie, mie, bubur instan, getuk, rasbi, dodol, cendol, dan lapis. Dengan memanfaatkan tepung sebagai sumber karbohidrat lokal, penggunaan tepung terigu (gandum) dapat dikurangi hingga mencapai 50 persen. Adanya kecenderungan pangan berbahan terigu sebagai pangan kedua, tampaknya pemerintah perlu mewaspadai mengingat pembuatan tepung terigu menggunakan bahan baku gandum yang tidak diproduksi dalam negeri, ketergantungan pada pangan impor akan mempersulit upaya mewujudkan kemandirian pangan, bahkan kedaulatan pangan nasional.

Penerapan teknologi pengolahan pangan dalam pengembangan produk selanjutnya sebagai pengganti beras telah banyak dilakukan di antaranya adalah beras analog. Banyak penelitian tentang produk pangan yang telah dilakukan khususnya pada beras analog ini, dimana beras analog adalah salah satu solusi dalam mengurangi konsumsi kita terhadap nasi yang terbuat dari beras.

Teknologi pengolahan yang dilakukan dalam pembuatan beras analog ini dengan teknologi ekstrusi. Teknologi ekstrusi adalah salah satu proses yang tepat dalam mengkombinasikan bahan dengan berbagai proses pencampuran, pemanasan dengan suhu tinggi, pengadonan, dan pembentukan menggunakan alat ekstruder dengan ulir ganda sehingga membentuk butiran yang menyerupai beras.

Tidak ada kata terlambat, masih ada waktu untuk membenahi program diversifikasi konsumsi pangan. Dengan mengkaji hambatan yang selama ini terjadi dan adanya political will dari pemerintah pusat dan daerah, diharapkan program tersebut dapat diwujudkan sehingga harapan untuk mengurangi konsumsi beras dan untuk meningkatkan kualitas penduduk dapat terwujud.

Adanya pola makan yang baik dan seimbang, serta dengan adanya ketersediaan pangan yang beragam, pelayanan kesehatan publik yang baik dan kearifan lingkungan lokal akan menjadi solusi dan antisipasi kerawanan pangan dan gizi buruk.

———- *** ————

Rate this article!
Tags: