Dokter BPJS Kebingungan Obat Tak Masuk Fornas

BPJSSurabaya, Bhirawa.
Penggunaan  paket Indonesia Case Based Groups (Ina CBGs) yang mengacu pada Formularium Nasional (Fornas) sebagai acuan pemberian obat oleh dokter mitra BPJS Kesehatan, menyisakan masalah. Tidak semua obat yang dibutuhkan pasien ada dalam Fornas. Akibatnya, banyak dokter yang bingung karena selama obat yang seharusnya diberikan kepada pasien tidak ada dalam Fornas.
Pada resep obat antibiotik untuk anaknya misalnya. Dalam Fornas, antibiotik hanya ada acuan ampisilin. Padahal, untuk resep anak-anak diperlukan kombinasi ampisilin sulbaktam. “Karena secara statistik, kombinasi ampisilin sulbaktam untuk anak-anak ini sudah terbukti,” tegas Samsul Arifin, Staf Medis Fungsional (SMF) RSUD dr Soetomo.
Menurutnya, tak hanya obat antibiotik pada anak, keluhan banyak obat yang tidak tercover Fornas juga dirasakan oleh tim anestesi, saraf, kandungan dan lainnya. Contoh lainnya yakni obat kejang. Beberapa obat kejang tidak dikaver dalam Fornas. Hanya satu yang terkaver, tapi jika diberikan akan menimbulkan efek samping kepada pasiennya. Sehingga, dokter harus bermain pada dosisnya.
Pada tim anestesi juga demikian. Banyak obat anestesi yang tidak tercover dalam Fornas. Padahal, jika salah pemberian anestesi pada pasien, maka risikonya akan meninggal. “Setiap enam bulan sekali kita sudah memberi masukan obat kepada Fornas, tapi tidak tahu ditanggapi apa tidak,” tandas dr Samsul.
Diakuinya, memang sampai saat ini banyak items obat yang belum masuk ke e-katalog Fornas. “Ada 1057 item obat yang tercover, tapi jujur semuanya belum masuk ke e-katalog,” tandasnya. Padahal, ia mengaku memang sulit bagi dokter yang memberikan resep jika belum ada dalam e-katalog. “Kita akan tampung masukannya,” kilahnya.
Menurutnya, ada tiga alasan belum adanya obat rujukan dalam Fornas BPJS. Pertama, karena perusahaan obat meminta harga yang terlalu tinggi. Jika terlalu tinggi, ditakutkan BPJS tidak bisa membayarnya. Kedua, perusahaan obat dianggap tidak memiliki mutu yang baik. Ketiga, perusahaan tidak memiliki long profil yang berkualitas. “Untuk memasukkan obat dalam Fornas kan kita harus melihat company profilnya,” ungkapnya.
Dari infromasi yang dikeluhkan masyarakat dan dokter beberapa obat yang tidak dicover oleh Fornas. Diantaranya, obat-obatan trasional. Dalam fornas, tidak ditemukan jamu di dalam formularium nasional. Padahal, dalam WHO, jamu dimasukkan sebagai terapi pendamping dalam penyembuhan. Lalu obat-obatan yang tidak sesuai peruntukannya. Selalu ada pasien yang meminta obat tertentu, tapi obat itu tidak ada hubungannya dengan kondisinya. Semisal obat penenang dan sebagainya.
Tentu saja yang seperti ini walau ada di dalam formularium nasional, tapi tidak akan diberikan jika tidak sesuai dengan indikasinya. Obat di pasaran, seperti obat batuk, obat panas, obat kejang dan lainnya. . Obat-obat generik berlogo atau bermerk atau branded medicine, yang sering masyarakat dan tenaga medis salah kaprah mengenalinya sebagai obat paten.
Obat generik berlogo juga memiliki peredaran yang terbatas. Tidak semua merek ada di nusantara, berbeda dengan obat generik pada umumnya. Misalnya saya membuat merek paracetamol sendiri, namanya cahyamol, isinya paracetamol 500 mg, tapi hanya beredar di Pulau Jawa, Sumatera, dan Bali. Kalau ini dimasukkan ke dalam formularium nasional, maka yang di Papua, Maluku, Kalimantan, NTT, dan sebagainya tidak akan bisa mengaksesnya. “Padahal paracetamol sendiri yang isinya sama ada hampir di mana-mana. [dna]

Tags: