Doktor Bidang Pemberdayaan

Sri Untari Bisowarno

Sri Untari Bisowarno
Aktivitas Sri Untari Bisowarno dalam mengemban amanah sebagai Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, ternyata tidak mengganggu waktunya untuk menyelesaikan pendidikanya di program doktor pada Fakuktas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) Malang.
Pemberdayaan Perempuan dalam Perspektif Modal Sosial mengantarkan Untari menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya akhir pekan kemaran. Studi tentang pemberdayaan perempuan melalui kegiatan perkoperasian di Koperasi Setia Budi Wanita (SBW) Kota Malang, berkisah tentang kemajuan SBW di tangan Ketua Koperasi SBW dan Wakil Ketua Dekopinwil Jatim ini, mampu menjawab pertanyaan masyarakat terkait pola yang diterapkan, sekaligus menjawab pertanyaan dewan penguji disertasi Program Doktor Ilmu Administrasi.
“Saya sengaja, mengambil studi kasus di SBW, karena di dalam koperasi itu penuh dengan pemberdayaan dan diberikan kembali kepada seluruh anggotanya dimana 98 persen itu perempuan,”ujarnya.
Ia lantas menguraikan, anggota SBW dilayani dan diberdayakan melalui simpan pinjam, belanja, dan kegiatan lainnya, agar anggota sejahtera. Dan ini murni uangnya anggota, yang dikelola oleh anggota sendiri.
Melalui pemberdayaan perempuan ini, dalam perjalanannya Kopwan SBW, mampu menopang kehidupan keluarga anggotanya. Tentunya hal ini sangat berdampak bagi anggota yang bersuamikan penghasilan tidak menentu maupun jobless.
SBW anggotanya hampir 10 ribu orang Melalui pemberdayaan, kami masih bermimpi agar perempuan bisa mandiri, mengambil keputusan terhadap dirinya sendiri, mampu menopang ekonomi keluarganya, dan penyangga/reseptor keluarga apabila suami tidak memiliki pekerjaan.
Pihaknya lantas menjelaskan, di Kopwan SBW tidak mengurusi, pinjam meminjam dan perekonomian, tapi juga ada pemenuhan kebutuihan rohani seperti pengajian, wisata religi, bahkan kegiatan menari, kesehatan dan kegiatan sosial untuk anggotanya.
“Yang kita urusi, tidak hanya persoalan ekonomi, namun kami juga berkegiatan di sosial dan budaya. Selain kesehatan, anggota yang meninggal dan meninggalkan tanggungan pun bisa lunas, karena ada dana perlindungan anggota yang dihimpun dari seluruh anggota. Ini lho praktek koperasi yang menarik. Koperasi yang lain, belum melakukan ini,” paparnya.
Ia berharap, dengan diangkatnya persolan Koperasi dalam naskah akademik, mampu menjadi referensi bagi para pengambil keputusan maupun bagi para praktisi, tentang konsep berkoperasi yang ideal, yakni menggunakan sistem tanggung renteng.
“Di dalam sistem tanggung renteng ini, mengandung nilai-nilai, norma, jejaring, kepercayaan dan timbal balik. Faktor inilah yang menyebabkan koperasi SBW benar-benar kuat-kuat, yang mempengaruhi pengambilan keputusan,” tandasnya. [mut]

Rate this article!
Tags: