Dorong Akselerasi Kualitas Olahan Minyak Goreng

Foto: ilustrasi

Belakangan ini, belum usai masyarakat dibuat resah oleh mahalnya minyak goreng dipasaran kini malah Kementerian Perdagangan mengumumkan rencana melarang penjualan minyak goreng curah mulai 1 Januari 2022 mendatang. Sontak, realitas itupun mencuri perhatian khalayak publik. Adapun, regulasi terkait larangan penggunaan minyak goreng curah diatur dalam ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Menteri (Permendag) Perdagangan Nomor 36 Tahun 2020 tentang Minyak Goreng Sawit Wajib Kemasan.

Dalam beleid tersebut, Kemendag mewajibkan penjualan minyak goreng dalam kemasan. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, jumlah konsumsi minyak goreng curah di Indonesia mencapai 5 juta liter/tahun. Jumlah konsumsi saat ini masih tertutupi dari produksi harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dalam negeri yang mencapai 9,5 juta/tahun. Kebutuhan minyak goreng curah untuk kebutuhan rumah tangga dan industri tercatat mendekati angka 67 persen, (Kontan, 29/11/2021).

Itu artinya, pengguna minyak goreng curah dinegeri ini masihlah tinggi. Namun sayangnya, harga minyak goreng curah di dalam negeri bergantung pada harga Crude Palm Oil (CPO) dunia. Maka ketika harga CPO dunia terkerek naik, harga di dalam negeri ikut terpengaruh. Hingga saat ini, negara yang masih menjual minyak goreng curah di dunia hanya Indonesia dan Bangladesh. Maka dari situlah, penjualan minyak goreng di negeri ini perlu ditata kembali demi membuat harga minyak goreng stabil. Salah satunya, dengan mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengantisipasi tidak mengizinkannya minyak goreng curah diedarkan mulai dari 1 Januari 2022 nanti.

Upaya pemerintah itupun, tentu tidak bisa berjalan sendiri dibutuhkan komitmen bersama dalam mendorong akselerasi kualitas olahan minyak goreng. Salah satunya dari produsen yang bersedia mengurangi keuntungan dalam rangka memberikan minyak goreng terjangkau bagi masyarakat di tengah kenaikan harga minyak sawit mentah sebagai bahan baku minyak goreng. Diharapkan langkah tersebut segera diikuti produsen minyak goreng lainnya untuk menambah ketersediaan minyak goreng kemasan sederhana di masyarakat saat ini.

Dyah Titi Muhardini
Dosen FPP Universitas Muhammadiyah Malang

Tags: