Dorong Pengajar di Kawasan ASEAN Kuasai Ilmu Keamanan Siber

Di tengah gencar dan masifnya penggunaan ternologi informasi dengan berbagai konsekwensi positif dan negatif diseluruh belahan dunia, terkhusus di kawasan ASEAN rupanya tengah menyita perhatian banyak pihak, tanpa terkecuali dalam sektor pendidikan bagi pendidik atau pengajar. Idealnya, seiring kemajuan teknologi informasi sosok pengajar mesti bisa mempraktikkan kebersihan siber dengan baik.

Terlebih, memasuki kuartal I 2024, pemerintah dan seluruh anak bangsa masih punya pekerjaan rumah (PR) besar untuk terus meningkatkan literasi keamanan digital. Hal ini turut menjadi tanggungjawab besar seluruh penyelenggara sistem elektronik (PSE) untuk terus meningkatkan sistem keamanan mereka seiring berkembangnya kasus dan skema penyerangan yang ada di Indonesia.Dilansir dari National Cyber Security Index (NCSI) pada 2023, Indonesia berada pada peringkat ke-49 keamanan siber dari 176 negara. Di kawasan ASEAN, Indonesia masuk peringkat lima besar setelah Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina.

Berangkat dari realitas tersebut, maka sudah semestinya pengajar di kawasan ASEAN bisa mempraktikkan kebersihan siber agar minimal bisa menunjukkan kepercayaan diri lebih besar dalam memberikan instruksi kepada siswa tentang cara mengidentifikasi sumber dan email yang mencurigakan. Selaras dengan hasil Penelitian terbaru antara Kaspersky dan Associate Professor Jiow Hee Jhee dari Singapore Institute of Technology, yang dilakukan terhadap 157 pengajar di India, Singapura, dan Filipina. Di antara pengajar hampir 70% lebih memilih menggunakan data seluler sebagai tindakan pencegahan dibandingkan jaringan publik. Sedangkan untuk link dan lampiran yang tidak dikenal, 70% responden merasa curiga dan tetap waspada terhadap link yang tidak dikenal. Dilanjut, penggunaan kata sandi yang aman dan kuat, 85% responden mengakui ada kemungkinan bisa menebak jika perangkat digital yang mereka gunakan akan diserang dimasa depan,(Kompas,15/5/2024).

Itu artinya, seiring dengan upaya untuk menciptakan komunitas global yang kebal siber, peran pengajar tidak dapat disepelekan. Mengingat bahaya ancaman siber masih menjadi hal mendesak, sangatlah penting bagi para pengajar untuk memiliki pengetahuan memadai tentang praktik kebersihan siber dan memahami manfaat dari kewaspadaan di dunia maya.

Ani Sri Rahayu
Pengajar Civic Hukum Univ. Muhammadiyah Malang.

Tags: