Dorong Petani Tak Bergantung Pupuk Kimia

Adriyanto

Adriyanto
Pupuk menjadi barang yang sangat penting bagi petani. Tak heran jika kebutuhan pupuk yang sangat tinggi itu terkadang membuat pupuk menjadi langka. Kalau pun ada, harganya sulit dijangkau petani karena cukup mahal.

Kondisi ini ternyata mendapat perhatian dari Penjabat (Pj) Bupati Bojonegoro, Adriyanto. Dalam momen Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan e-RDKK Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2024, di Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro, Kamis (23/11) lalu ini, Adriyanto meminta petani untk tidak tergantung pada pupuk kimia.

Dalam acara yang digelar Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) ini, Adriyanto mengatakan, pupuk menjadi barang mahal karena kebutuhan yang tinggi dan tidak diproduksi sendiri. Menurut data, kebutuhan pupuk nasional mencapai 12 juta ton pertahun.

Sementara yang dapat diproduksi sendiri mencapai 3 juta ton dan pupuk yang diimpor sebanyak kurang lebih 6 juta ton. Sehingga kebutuhan 3 juta ton ini masih belum terpenuhi. “Untuk itu pemerintah mempunyai tugas untuk pupuk karena digunakan oleh petani, harganya tidak boleh mahal dan harus terjangkau. Maka pemerintah mensubsidikan pupuk bagi petani,” ujarnya.

Menurut Adriyanto, hal yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana bisa mengembangkan pupuk untuk pertanian yang sifatnya tidak bergantung pada pupuk kimia. Sehingga perlu mencari terobosan yang lain seperti pupuk organik untuk menjadikan alternatif.

Untuk itu, Pj Bupati mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk koordinasi dan bekerjasama dalam jaringan dan pengadaan pupuk subsidi tersebut. Terutama peran dari gabungan kelompok tani (gapoktan).

“Pupuk ini tolong dieman-eman, kalau ada ide kita carikan teknologinya. Tentu kita bersama memanfaatkan pupuk yang tersedia ini dengan baik. Kalau bisa berbagi dengan gapoktan yang lain dan menggunakannya bersama-sama,” tuturnya. [bas.iib]

Tags: