DP3AK Jatim Inisiasi Pemulihan Psiko Sosial Anak

Setelah Ditinggal Orang Tua karena Covid-19
Pemprov Jatim, Bhirawa
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim berkolaborasi dengan lembaga masyarakat, Forum Anak dan stakeholder lainnya, untuk menginisiasi upaya pemulihan psiko sosial bagi anak-anak dengan orang tua meninggal dunia karena Covid-19.

“Pendataan anak-anak dengan orang tua meninggal karena Covid-19 by name by address masih dalam proses. Nantinya akan dilakukan intervensi dan pemberian bantuan spesifik anak seperti berisikan masker, hand sanitizer, makanan dan minuman bergizi, peralatan mandi, vitamin, dan lain-lain,” ujar Kepala DP3AK Provinsi Jatim, Dr Andriyanto SH MKes, saat dikonfirmasi, Senin (2/8).

Anak-anak tersebut, lanjutnya, juga akan didampingi pendamping psikolog untuk dilakukan assessment dan penguatan psikis selama pandemi berlangsung. Anak-anak tersebut juga akan dilakukan intervensi peningkatan kapasitas anak dengan edukasi dan pelatihan kewirausahaan oleh pelatih profesional, yang barangkali dibutuhkan anak-anak remaja, melalui daring atau offline di UPTD Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.

Andriyanto mengatakan, nanti akan bekerja sama dengan Dinas Dukcapil untuk memastikan anak-anak tersebut memperoleh hak-hak sipilnya. misalnya akte kematian orang tua; akte kelahiran; KK yang ada namanya; kartu identitas anak (KIA); perekaman KTP bagi yang mau berusia 17 tahun dan lain sebagainya.

“Kami mendorong instansi terkait dan bekerja sama dengan perguruan tinggi agar mempercepat cakupan vaksinasi bagi anak-anak tersebut yang berusia 12 – 17 tahun. Pemberian vaksin Covid-19 untuk anak-anak tidak hanya melindungi anak dari infeksi virus corona, melainkan juga penting untuk mencegah anak-anak menularkannya kepada orang dewasa yang rentan,” jelasnya.

Pemprov Jatim, katanya, tidak bisa bekerja sendiri. Untuk itu DP3AK mengajak UNICEF, Wahana Visi Indonesia, dan Lembaga Masyarakat lainnya; Kadin Jatim, media, dan perguruan tinggi untuk bekerja sama memulihkan psiko sosial anak-Anak tersebut. “Pengajuan anggaran terkait dengan program ini akan kami sampaikan ke Kementerian PPPA RI, Pemprov Jawa Timur dan beberapa donatur/instansi yang peduli terhadap anak yang sifatnya tidak mengikat,” terangnya.

Andriyanto menjelaskan, anak-anak harus dan wajib dilindungi bersama, terutama amanah dari Undang-Undang nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, pasal 26 (ayat 2) yang berbunyi; dalam hal orang tua tidak ada, atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya, kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat beralih kepada Keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sementara itu, terkait update positif Covid-19 di Jatim, Andriyanto menjelaskan, data per 1 Agustus 2021 berdasarkan laporan Komite Penanganan Covid-19 Nasional dalam Covid19.go.id tercatat, jumlah kasus terkonfirmasi positif di Jatim sebanyak 308.429 kasus, dengan 27.480 kasus pada anak-anak (di bawah usia 18 tahun), namun kasus harian di Jawa Timur akhir-akhir ini cenderung menurun.

Dari 308.429 kasus positif di Jatim tersebut, terdapat 20.331 jiwa yang meninggal dunia, dan dari 20.331jiwa yang meninggal tersebut 114 jiwa anak-anak, 50 anak usia 0-5 tahun dan64 anak usia 6-18 tahun. Dengan jumlah kematian di Jatim 20.331 jiwa tersebut, estimasi jumlah anak yang ditinggal meninggal orang tuanya di Jatim sebanyak 5.082, asumsi seperempat jumlah penduduk Jatim adalah Anak usia 0 -18 tahun.[iib]

Tags: