DPRD Jombang Nilai BBWS Lambat Respon Tanggul Kritis Jatiduwur Kesamben

Ketua DPRD Jombang, Mas’ud Zuremi saat diwawancarai, Kamis (18/02). [arif yulianto/bhirawa].

Jombang, Bhirawa
Kalangan legislatif di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang menyoroti permasalahan tanggul kritis di Dusun Jatipandak, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang. Dewan menilai, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas yang merupakan pihak yang berwenang terkait Sungai Brantas, lambat dalam merespon permasalahan tanggul kritis tersebut.

Pasalnya, tanggul kritis akibat abrasi Sungai Brantas di Jatiduwur, Kesamben, Jombang ini sudah terjadi sekian tahun, dan hingga saat ini belum ada penanganan. Dewan bahkan menyebutkan, jika tanggul tersebut benar-benar jebol, 7 desa di sekitar lokasi tersebut bisa terdampak banjr dari Sungai Brantas.

Ketua DPRD Kabupaten Jombang, Mas’ud Zuremi mengatakan, Sungai Brantas yang melintas di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang merupakan kewenangan BBWS Brantas.

“Artinya apa, sejak periode (keanggotaan) saya tahun 2014-2019, bahkan sebelumnya yang 2009-2014, saya sebagai Ketua Komisi C (saat itu), sebagai ketua fraksi juga di DPRD Kabupaten Jombang koordinasi dengan pemerintah daerah, kita ke BBWS, bahkan kami pernah menyampaikan juga kepada pusat,” papar Mas’ud Zuremi, Kamis (18/02).

Permintaan kepada pemerintah pusat yang dimaksud oleh Mas’ud Zuremi ini yakni, terkait prioritas penanganan permasalahan yang dikhawatirkan di Jombang tentang tanggul-tanggul yang menipis yang tergerus air pada setiap musim hujan.

“Semua waktu itu hanya menjanjikan, oke akan dikaji dan akan ada prioritas. Sampai lima tahun kemudian, tidak ada perbaikan sama sekali,” tandas Mas’ud Zuremi.

Tak hanya tentang tanggul kritis di Sungai Brantas yang ada di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang yang menjadi kewenangan BBWS Brantas. Mas’ud Zuremi menjelaskan, mayoritas sungai penyebab banjir yang terjadi di Kabupaten Jombang seperti banjir di Kecamatan Bandar Kedungmulyo, banjir di Kecamatan Bareng, dan banjir di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang juga merupakan sungai-sungai yang menjadi kewenangan BBWS Brantas.

“Semua yang terjadi banjir di Jombang itu, sungai-sungai yang menyebabkan banjir dengan tanggul jebol dan seterusnya itu, semua adalah wilayah BBWS,” tandas Mas’ud Zuremi lagi.

Lanjut Ketua DPRD Jombang, begitu juga dengan Kali Gunting dari arah Wonosalam, yang melintas di daerah Bareng, Mojoagung, hingga Kecamatan Sumobito, juga merupakan kewenangan BBWS Brantas.

“Begitu juga dengan yang sekarang ini. Apa yang terjadi, termasuk Rolak 70 yang sangat potensial untuk pengaturan sungai-sungai, aliran irigasi di Kabupaten Jombang, walaupun itu peninggalan Belanda, ndak ada penanganan sama sekali,” ungkap Mas’ud Zuremi.

Terkait permasalahan tanggul kritis ini, Ketua DPRD Jombang juga akan memerintahkan Komisi C DPRD Kabupaten Jombang untuk melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke lokasi.

Seperti diberitakan di media ini sebelumnya, tanggul Sungai Brantas di Dusun Jatipandak, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang kritis akibat abrasi sekian tahun, Rabu (17/02). Bahkan, air dari Sungai Brantas ini sudah merembes ke pemukiman warga yang ada di bawah titik tanggul yang kritis.

Warga setempat, Ahmad Khusairi (51), Rabu (17/02) menuturkan, dirinya berharap agar tanggul yang kritis tersebut segera diperbaiki.

“Warga khawatir terjadi jebol, semua kena dampaknya akhirnya,” tutur Ahmad Khusairi.

Warga lainnya yang juga salah satu ketua RT di dusun tersebut, Mahfud (60), mengungkapkan, tanggul Sungai Brantas yang kritis itu sudah mulai bocor.

“Bocor hari Senin (15/02) kemarin mas, meluber ke rumah warga, rumah saya itu banjir mas,” ungkapnya.

Sejak tanggul itu bocor dan air Sungai Brantas merembes ke pemukiman warga, sebagai seorang ketua RT, Mahfud bahkan sudah mengimbau warganya untuk menyelamatkan dokumen-dokumen penting. Hal ini untuk mengantisipasi jika tanggul itu benar-benar jebol.

“Sudah saya perintahkan semuanya ini. Yang sekarang lebih parah dari tahun sebelumnya. Setiap banjir, tanggulnya ambrol satu meter. Yang ini lebih satu meter mas,” pungkasnya.(rif)

Tags: