DPRD Kota Probolinggo Usulkan Pasien Eks Covid Masuk BST

Pasien Covid-19 saat dipulangkan setelah sembuh diusulkan masuk BST.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kota Probolinggo, Bhirawa
Adanya Bantuan Sosial Tunai (BST) yang tidak tepat sasaran di Kota Probolinggo, benar-benar menjadi perhatian DPRD Kota Probolinggo. Karenanya, DPRD juga mengusulkan pasien eks positif Covid-19 untuk mendapatkan BST. Selain itu tes PCR butuh Rp1,7 juta, Pansus minta akomodasi warga tidak mampu.

“Kami dari FPDIP ingin menambahkan by name by addres, karena warga ini sangat membutuhkan. Kluster Makassar yang terkena Covid sebanyak 3 orang, yaitu suami, istri, dan satu anak. Tetapi, mereka tidak merasakan bantuan yang didapat, hanya bantuan sembako senilai Rp150 ribu,” ujar Anggota FPDIP Imam Hanafi menanggapi Paripurna DPRD Penyampaian Laporan Pansus Covid-19, Selasa (16/6).

Imam mengaku sepakat dengan Pansus Covid-19 jika adanya salah sasaran KPM BST dari Kementerian Sosial segera dicarikan penggantinya. “Harapan saya agar keluarga ini bisa mendapat bantuan BST. Bisa dapat bantuan yang Rp 600 ribu,” ujarnya.

Terpisah, Wakil Wali Kota Probolinggo Moch. Soufis Subri membenarkan keluarga ini mendapat bantuan sembako senilai Rp150 ribu dari Pemkot Probolinggo.

“Terkait permintaan memasukkan data 1 KK yang pernah terpapar korona, ini kami tidak hanya mengupayakan untuk 1 keluarga ini. Semua yang berhak juga akan kami upayakan. Karena yang terdampak dan sembuh tidak hanya 3 orang dalam satu keluarga ini,” jelasnya.

Ia mengaku akan menurunkan tim dan melakukan evaluasi sesuai ketentuan. “Semua jelas ingin mendapatkan bantuan itu, tapi aturannya kan sudah jelas, tidak bisa kami mengubah,” ujar Subri.

Dalam laporannya, Pansus Covid-19 DPRD Kota Probolinggo menemukan data KPM BST di Kota Probolinggo, masih perlu diverifikasi. Sebab, masih ada warga yang berhak menerima, tapi tidak mendapatkannya. Ada juga yang berstatus PNS dan kategori mampu, malah masuk daftar KPM.

Karenanya, pansus merekomendasikan KPM-BST segera diverifikasi secara intensif agar tepat sasaran. Jika terdapat salah sasaran, segera dicarikan penggantinya. Dengan catatan tidak melanggar aturan.

RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo memang telah menyediakan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Namun, untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan kesehatan ini harus merogoh kantong agak dalam. Tarifnya, Rp1.716.000 per orang.

Mahalnya tarif pemeriksaan ini menjadi salah satu catatan Pansus Covid-19. Dalam rekomendasi yang dibacakan Ketua Panitia Khusus (Pansus) Covid-19 DPRD Kota Probolinggo Mukhlas Kurniawan meminta kepada Pemkot Probolinggo mengakomodasi warga kurang mampu untuk melakukan tes PCR.

“Panitia Khusus Penanganan Covid-19 merekomendasikan kepada pemerintah daerah dalam hal ini RSUD dr. Mohamad Saleh untuk menganggarkan biaya Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) bagi masyarakat Kota Probolinggo yang kurang mampu dengan tetap memperhatikan ketentuan dan persyaratan tertentu,” tuturnya.

Apalagi, berkaitan dengan penerapan tatanan kehidupan baru atau new normal yang diterapkan Pemerintah Pusat. Banyak masyarakat Kota Probolinggo yang bekerja sebagai tukang bangunan, sopir truk, sopir bus, yang akan kembali bekerja di luar kota dan mereka membutuhkan pemeriksaan RT PCR. Sedangkan, biayanya mencapai Rp 1.716.000 yang berlaku hanya 6 hari.

Diketahui, PCR merupakan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus. Saat ini PCR juga digunakan untuk mendiagnosis penyakit Covid-19. Yakni, dengan mendeteksi material genetik virus korona. Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Probolinggo sekaligus Plt Direktur RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo Abraar HS Kuddah mengatakan, RT-PCR merupakan kerja sama dengan pihak ketiga. Fasilitas ini disediakan untuk pemeriksaan swab secara mandiri.

“Biayanya memang mahal karena RT-PCR tidak disubsidi oleh pemerintah. Yang disubsidi adalah Tes Cepat Molekuler (TCM) dan ini ditujukan bagi PDP (Pasien Dalam Pengawasan), pasien positif korona, maupun warga yang ada kontak dengan pasien positif,” jelasnya. Bahkan, cartridge untuk TCM terbatas. Hanya ada 60 cartridge yang masing-masing hanya bisa digunakan untuk satu orang, tambahnya. [wap]

Tags: