Dua Tahun Wisata Snorkeling di Gili Ketapang, Probolinggo

Fasilitas snorkeling di Gili Ketapang terus dibangun. Hingga sampai saat ini, Pemkab Probolinggo masih belum membebani target PAD ke obyek wisata tersebut. [wiwit agus pribadi]

Fasilitas Terus Dibangun, Pemerintah Daerah Masih Belum Membebani Target PAD
Kab Probolinggo, Bhirawa
Sudah dua tahun wisata snorkeling di Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo beroperasi. Fasilitas penunjang destinasi wisata juga telah dibangun. Namun sejauh ini wisata bahari ini belum dibebani pendapatan asli daerah (PAD).
Berbagai alasan kenapa wisata snorkeling di Pulau Gili Ketapang belum dibebani PAD. Salah satunya saat ini masih melakukan proses penyusunan peraturan desa (perdes). “Beberapa hari lalu kami datang ke Desa Gili Ketapang, untuk koordinasi dan dorong segera bentuk perdes,” kata Kasi Destinasi Wisata, Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Budaya (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo Musa.
Dari sanalah, kata Musa, nantinya retribusi yang masuk PAD Kabupaten Probolinggo, sebesar Rp5 ribu. Kemudian, retribusi untuk pemerintah desa (pemdes) atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sekitar Rp5 ribu. Sehingga, nantinya setiap pengunjung akan dikenakan retribusi Rp10 ribu. “Kalau retribusi untuk kabupaten sendiri sesuai peraturan daerah (perda) sebesar Rp5 ribu. Kemudian ada retribusi untuk desa atau BUMDes juga,” terangnya.
Dalam penarikan retribusi akan ditangani langsung oleh BUMDes. Pihaknya akan membuat perjanjian kerja sama dengan BUMDes, sehingga setiap pengunjung snorkeling wajib dikenakan retribusi. “Kami targetkan tahun ini sudah mulai terapkan penarikan retribusi terhadap pengunjung meski tidak ditargetkan PAD. Tahun depan baru kami targetkan PAD dari wisata snorkeling,” tegasnya.
Realisasi PAD sektor pariwisata tahun ini baru tercapai sekitar Rp832 juta. Dari 10 destinasi wisata lokal yang dikelola oleh Pemkab Probolinggo, hanya wisata senorkeling Pulau Gili Ketapang yang sumbang nol persen PAD.
Kondisi terbalik terjadi di destinasi wisata P-30 Sumber. Tahun ini Pemkab Problinggo tidak menargetkan PAD dari destinasi wisata P-30. Ternyata, realisasinya dapat menghasilkan PAD meskipun nilainnya tidak terlalu besar.
Tahun 2020 semestinya wisata snorkeling Gili Ketapang ditargetkan bisa menyumbang PAD sekitar Rp5 juta. Sayangnya, hingga hingga saat ini realisasi sumbangan PAD masih nol persen. Sedangkan wisata P-30 sejak awal belum ditargetkan, sudah sumbang PAD sekitar Rp2,3 juta.
Lebih lanjut Musa mengatakan, batas-batas pulau seluas sekitar 68 hektare ini, di sisi utara merupakan pelabuhan dan pantai berkarang. Sedangkan di sisi timur dan selatan berupa perkampungan nelayan. Di sisi barat ada hamparan pasir putih yang begitu indah dan menjorok ke laut.
Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu Gili Ketapang merupakan satu kesatuan dengan daratan Probolinggo. Tepatnya dengan Desa Ketapang (kini Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo) dan hanya dipisahkan dengan sungai. Karena gempa sebagai akibat meletusnya Gunung Semeru, daratan itu terpisah sejauh 5 mil menuju tengah laut.
Akhirnya, daratan yang terpisah itu diberi nama Gili Ketapang yang diambil dari bahasa Madura. Gili berarti mengalir dan Ketapang merupakan nama desa kala masih bersatu dulu. Sehingga, Gili Ketapang berarti Ketapang yang mengalir. Bahkan, menurut kepercayaan masyarakat, sampai saat ini jarak Pulau Gili Ketapang secara perlahan semakin menjauh ke tengah laut.
Sejauh ini, mayoritas penduduk Gili Ketapang menggantungkan hidupnya di laut sebagai nelayan. Setiap pagi para nelayan saling bahu-membahu menarik perahu nelayan yang datang melaut. Sebagian dari ikan-ikan segar itu dikeringkan, sehingga semakin meningkatkan kesan sebagai perkampungan nelayan.
Tak heran bila banyak warga yang menjadi nelayan. Sebab, pulau ini dikelilingi lautan yang masih bersih dan menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai jenis ikan. Air lautnya yang biru jernih berpadu dengan putihnya pasir pantai membuat pantai ini makin cantik. Ombak pantainya juga cukup tenang, sehingga cukup aman untuk bermain air ataupun berenang di sana, ungkapnya.
Ketika bermain berkunjung ke pulau ini, jangan heran bila menjumpai sejumlah kambing yang bebas berkeliaran. Menurut warga sekitar, jumlah kambing di pulau ini mencapai 1.396 ekor. Ribuan ekor kambing ini dilepas dilepas begitu saja. Namun, tetap aman dari incaran maling. Artinya, pulau ini cukup aman dari tangan-tangan jahil.
Sebagai kawasan objek wisata, Pulau Gili Ketapang direncanakan menjadi paket wisata. Selain Pantai Bentar di Kecamatan Gending, para wisatawan bisa berkunjung ke Pulau Gili Ketapang dengan menggunakan kapal yang bersandar di Pantai Bentar. Pulau Gili Ketapang terus menjadi jujugan wisatawan nusantara (wisnu) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Karenanya, pelayanan terus ditingkatkan untuk memberikan kenyamanan kepada para turis.
Salah satu yang kini sedang disosialisasikan berupa penyediaan kapal cepat menuju Pulau Gili, baik dari Pelabuhan Tanjung Tebaga Kota Probolinggo maupun dari Pantai Bentar. “Kami sedang membahas proses itu. Sebab, jangan sampai nanti jika kapal cepat terealisasi untuk tamu ekslusif akan membuat gesekan dengan kapal tradisional milik masyarakat setempat,” paparnya.
Rawan gesekan memang menjadi persoalan. Sebab, kapal tradisional menjadi tumpuan warga Desa Gili Ketapang, khususnya pemilik perahu yang saat ini melayani jasa transportasi wisatawan. “Keselamatan wisatawan juga terus menjadi hal paling diproritaskan. Kami terus mengimbau, khususnya kepada penyedia jasa tranprortasi untuk menyediakan pelampung demi keselamatan penumpang,” tambahnya. [wiwit agus pribadi]

Tags: