Dugaan Terdamparnya Paus di Madura

Oleh :
M Chairul Arifin
Dokter Hewan Lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Unair.

Misteri puluhan paus yang terdampar di pulau Madura tepatnya di Modung Bangkalan seperti yang diberitakan di harian Kompas 20 Februari 2021 menarik perhatian publik sehingga berbagai pihak terus menyelidiki penyebab terdamparnya puluhan paus pilot ( glabicephala ) tersebut.

Kejadian terdamparnya paus ini menambah kasus terdamparnya yang serupa terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Paus pilot yang nama latinnya globicephala macrorhynchus, adalah cetacean yang dua spesiesnya masih hidup yakni paus pilot sirip pendek dan paus pilot sirip panjang yang sulit dibedakan dilaut.

Paus pilot dan jenis lainnya termasuk hewan tertua di bumi yang hidupnya berkelompok. Perjalanan migrasinya di laut biasanya di pimpin oleh seekor paus jantan yang paling besar tubuhnya. Biasa ditemukan didaerah beriklim hangat dan perairan negara-negara tropis di berbagai belahan dunia dan biasanya di temukan jauh dari pantai.

Paus pilot adalah mamalia laut di Indonesia. Mamalia lainnya bisa terdiri dari jenis paus lumba-lumba dan dugong yang merupakan hewan konservasi dan dilindungi di Indonesia. Salah satu masalah besar yang dihadapi mamalia laut terutama paus pilot tersebut adalah terdamparnya di pantai yang ditemukan dalam kondisi mati maupun hidup dengan kejadian tunggal maupun massal. Kasus terdamparnya paus pilot di Madura merupakan kasus kesekian kali terdamparnya di pantai. Pada tahun 2015 terjadi menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan pendamparan 46 ekor, tahun 2016 sebanyak 106 ekor dan tahun 2017 ditemukan 120 ekor yang terdampar (Penanganan Mamalia Terdampar, 2018). Sehingga mamalia laut tersebut merupakan target prioritas konservasi nasional.

Kasus terdamparnya puluhan paus di Madura saat ini telah menimbulkan perhatian dari berbagai pihak, sehingga gubernur Khofifah meminta tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya untuk meneliti penyebab terdamparnya dan kematian mamalia itu. Saat ini seperti diberitakan oleh Kompas Tim telah mengambil sampel sebagai bahan penelitian dan diagnosa. Melalui sampel tersebut dapat diduga penyebab kematian paus pilot tersebut.

Dugaan Terdampar

Dugaan sementara kematian dan terdamparnya paus tersebut diduga karena habitat paus pilot ditengah lautan dalam, terganggu. Gangguan tersebut bisa diakibatkan antara lain oleh keruhnya lautan karena beberapa sebab. Sebab itu bisa bermacam-macam ysitu pencemaran laut yang mulai mencemari habitatnya. Pembuangan sampah plastik berupa popok bayi dan benda plastik lainnya menjadi bukti pencemaran tersebut dari otopsi port mortem lambung paus tersebut yang ditemukan di perairan lautan Atlantik. Kenapa sampai terjadi paus memakan limbah plastik dan popok bayi tersebut, karena paus tersebut mengalami kelaparan. Kelaparan sebagai akibat mangsa makanannya yaitu ubur-ubur habis di eksploatasi oleh manusia.

Kekeruhan menyebabkan paus kehilangan orientasi (disorientasi) padahal sejatinya paus tersebut menjadi pilot yang handal dari kawanannya. Disorientasi ini menyebabkan paus terdampar kearah pantai. Dugaan kedua adalah bisingnya air laut akibat mengeboran minyak lepas pantai. Pengeboran ini menyebabkan bising yang menganggu sonar dari paus dan kawanannya mengikuti komando dari paus yang menjadi pilot kearah daratan.

Dugaan lainnya paus terserang penyakit. Keberadaan penyakit ini dapat menyerang organ saraf seperti yang ditemukan pada seekor paus Bryde di Cairns ditahun 2009 akibat parasit yang menyerang organ sarafnya. Beberapa jenis alga diperairan juga dapat membahayakan jika alga tersebut adalah jenis yang mengandung biotoksin , paus menjadi terpapar dan dapat memakannya sehingga mengalami sakit. Meningkatnya konsentrasi alga diperairan salah satunya disebabkan terjadi pasokan air dingin dan upwelling yang makin sering menyebabkan paus mengejar mangsanya yaitu ikan-ikan pemakan alga hingga ke perairan dangkal dan pada akhirnya paus terdampar (Evans et al, 2015).

Selain itu penyebab terdamparnya bisa diakibatkan oleh perubahan cuaca yang ekstrim. Terjadinya badai berkekuatan tinggi mampu menyebabkan disorientasi atau kelelahan sehingga mereka terdampar. Tetapi menurut penulis faktor utama paus terdampar tersebut adalah akibat pencemaran laut. Selama ini laut dianggap sebagai tempat pembuangan sampah terbesar yang menyebabkan sejumlah perairan menjadi tercemar dan keruh karenai limbah medis, popok bayi dan sejumlah polutan lainnya. Popok bayi sekali pakai tersebut sebagai mana dikatakan oleh berbagai lembaga lingkungan hidup telah ditemukan dalam perut seekor pesut Mahakam yang ditemukan mati terdampar. Polutan lainnya seperti organoclorin yang merupakan polutan persistent terakumulasi melalui proses rantai makanan di alam. Bukti-bukti dari polutan tersebut ditemukan dalam jaringan tubuh mamalia laut yang terdampar. Menurunnya fungsi reproduksi dan fungsi imun pada mamalia laut tersebut menyebabkan mudah terserang virus atau bakteri.

Tergantung hasil penelitian sample yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Univesitas Airlangga tentang pemeriksaan jaringan yang dapat saja mengarah pada terjadinya tumor (neo plasma) pada tubuh paus tersebut. Oleh karena itu penunjukan Fakultas Kedokteran Hewan untuk meneliti penyebab terdamparnya paus di selat Madura patut di apresiasi karena tim dokter hewan tersebut sangat berkompoten untuk melakukan diagnosa.

Dimasa-masa mendatang keterlibatan dokter hewan sebagai tim dalam penangan mamalia laut yang terdampar mutlak harus dilakukan. Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jendral Konservasi dan Keannekaragaman Hayati Laut telah menerbitkan suatu penanganan mamalia laut terdampar. Dalam pedoman tersebut disebutkan tentang bagaimana penanganan kalua terjadi paus terdampar dalam keadaan hidup dan mati. Dijelaskan pula proses pengambilan sample, dokumentasi dan pemahaman kejadian mamalia laut terdampar. Buku pedoman ini seharunya menjadi semacam SOP bagi masyarakat dalam menangani paus terdampar. Sehingga masyarakat tidak lalu menganggap sebagai bahan konsumsi pangan, karena pada dasarnya hewan mamalia laut tersebut bisa mengandung bahaya bagi tubuh manusia yang mengkonsumsinya. Konsumsi biasa dilakukan berramai-ramai seperti kejadian di pantai NTT baru-baru ini.

Buku pedoman tersebut harus disosialisasikan kepada daerah-daerah yang rawan terjadinya miigrasi atau terdamparnya paus , sehingga apabila terjadi terdamparnya hewan mamalia laut tersebut tidak lalu menjadi panik, menjadi tontonan masyarakat sementara pihak Pemerintah Daerah dan instansi yang terkait tidak bisa berbuat apa-apa

Dalam buku pedoman disebutkan bagaimana menangani paus terdamar yang masih hidup dan hendak dilepaskan kembali kelautan dan bagaimana menghadapi paus yang sudah mati. Tata cara melepas paus hidup agar tidak kembali lagi kedaratan tentunya harus memilih kawanan paus yang terbesar sehingga paus-paus yang lainnya dapat mengikuti pilotnya, kalau tidak mereka akan kembali ke pantai dan menjadi kesulitan untuk menanganinya. Demikian pula menghadapi paus yang sudah mati diberikan tata cara penguburannya sehingga tidak berbahaya sebagai sumberi penularan penyakit.

Dengan semakin intensifnya pemakaian plastic dan popok bayi serta polutan lainnya serta berkembangnya eksploatasi lautan dengan perikanan yang tidak ramah lingkungan akan semakin memperbesar peluang kejadian pencemaran laut dalam. Pencemaran laut ini akan menyebabkan hewan mamalia laut terdampar di kepulauan Indonesia yag memiliki garis panjang didunia dan sebagai tempat migrasi mamalia laut.

——— *** ——–

Rate this article!
Tags: