Dunia Pendidikan pada Masa Pandemi

Oleh :
Billy Akbar Arsyaputra
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM

Pada masa pandemi seluruh sektor kehidupan tidak berjalan baik Sektor – sektor tersebut antara lain sektor ekonomi, sosial, politk, budaya dan utamanya pendidikan. Sektor pendidikan sangat terdampak sekali dengan pandemi ini, dikarenakan sekolah merupakan salah satu tempat yang berpotensi untuk berkerumun.

Kerumunan adalah salah satu hal yang harus dihindari pada masa pandemi ini. Karena kerumunan akan sangat rentan sekali terjadi penularan virus , oleh karena itu kerumunan sebisa mungkin ditiadakan atau mungkin minimal diminimalisir, dan salah satu kebijakan yang diambil pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan adalah melakukan proses kegiatan belajar mengajar secara daring. Kebijakan ini mau tidak mau harus diambil oleh pemerintah untuk mencegah penularan virus.

Kebijakan ini sebetulnya bukanlah kebijakan yang dapat menyenangkan semua pihak, tetapi hanya kebijkan inilah pilihan terbaik untuk sementara waktu menekan penularan virus corona di lingkungan dunia pendidikan.

Pemerintah tentu sudah banyak melakukan pertimbangan untuk mengambil kebijakan ini. Langkah ini tentu saja mendapat respon yang beragam. Ada beberapa yang setuju, namun tidak sedikit juga yang menolak program ini. Pihak yang setuju beranggapan bahwa pembelajaran dengan sistem daring dapat meminimalisir terjadinya kerumunan. Ketidakadaan kerumunan tersebut tentu akan sangat berdampak terhadap penurunan penularan virus corona.

Pihak yang menolak pembelajaran secara daring memiliki alasan bahwasanya mustahil proses pembalajaran dapat berlangsung dengan baik tanpa adanya interaksi secara langsung antara siswa dengan guru. Walaupun terjadi komunikasi secara virtual namun hal itu tidaklah cukup. Proses belajar terkadang juga memerlukan kontak fisik antara guru dengan siswa. Dan hanya bisa dilakukan jika proses belajar mengajar dilaksanakan secara offline. Selain itu pembelajaran secara daring juga terganggu dengan masalah jaringan internet di seluruh wilayah Indonesia.

Hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwasanya masih ada beberapa wilayah yang belum tercapai sinyal internet. Padahal sinyal internet memegang peran penting dalam berlangsungnya proses belajar mengajar secara daring. Pemerintah harus mengatasi permasalahan ini dengan segera, karena jika permasalahan ini tidak terselesaikan mustahil pembelajaran secara daring dapat berjalan efektif

Pemebenahan jaringan internet ini tentu bukanlah hal yang mudah mengingat wilayah Indonesia sangatlah luas, sehingga hal ini memerlukan usaha yang lebih dari pemrintah untuk mengatasi permasalahan ini. Apalagi sebagian besar jaringan internet dikoneksikan melalui jaringan kabel bawah laut, tentu saja hal ini akan memakan banyak waktu dan juga biaya. Namun pemerintah mau tidak mau harus menyelesaikan permasalahan ini demi tercapainya pembelajaran secara daring yang efektif dan efisien

Selain persoalan jaringan internet, ada hal lain yang dapat juga berpengaruh terhadap berlangsungnya proses kegiatan belajar mengajar secara daring. Persoalan tersebut adalah ketersediaan kuota internet bagi seorang siswa. Siswa berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda – beda tingkat ekonominya. Bagi siswa yang berasal dari latar belakang ekonomi menengah ke atas, mungkin persoalan ketersedian kuota internet tidak terlalu menjadi masalah. Akan tetapi bagi bagi siswa yang mempunyai latar belakang ekonomi menengah ke bawah tentu hal ini menjadi permasalahan yang cukup serius.

Pemerintah dapat memberikan bantuan atau subsidi kuota internet bagi sisiwa – siswa yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Pemberian subsidi kuota internet ini harus lah tepat sasaran. Subsisdi harus diberikan kepada siswa – siswa yang memang sangat membutuhkan demi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar secara daring yang efektif.

Pembelajaran secara daring sebenarnya kurang diminati oleh siswa, dikarenakan penjalasan yang disampaikan oleh guru kurang terdengar jelas oleh siswa. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini, salah satunya jaringan internet. Jaringan internet di setiap tempat tinggal siswa berbeda. Siswa yang tinggal di daerah perkotaan mungkin tidak akan menemui kendala ini, namun hal ini dirasakan dengan siswa – siswa yang tinggal jauh dari kota.

Para siswa sebenarnya sangat menginginkan proses belajar mengajar secara tatap muka, karena mereka dapat berinteraksi secara langsung dengan guru dan teman – temanya. Interaksi inilah yang membangun pendekatan antara guru dan siswa. Pendekatan personal ini menjadi penting untuk siswa dalam rangka memahami materi yang diberikan oleh guru. Seorang siswa yang memiliki kedekatan personal dengan guru akan lebih memahami materi yang disampaikan dan jika ada materi yang kurang dipahami siswa tersebut tidak akan sungkan untuk bertanya kepada guru.

Kedekatan personal ini hanya akan dapat dibangun jika pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar dilakukan secara offline. Sedangkan hal itu sulit terjadi bagi siswa – siswa yang berada di zona merah, dikarenakan sampai saat ini masih berlangsung Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Tentu pembatasan ini tidaklahmenguntungkan semua pihak, namun sekolah harus mematuhi program ini agar tidak terjadi lonjakan kasus positif corona di daerah zona merah.

Semakin hari penambahan pasien postif corona semakin tinggi, karena masih ada saja masyarakat yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Untuk mencegah pelonjakan kasus positif corona, pemerintah memiliki Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Program ini harus didukung oleh masyarakat terutama insan pendidikan. Kepatuhan para insan pendidikan terhadap program ini akan memberikan dampak yang cukup besar bagi penurunan kasus pasien positif corona.

Daerah yang masuk kategori kuning dan hijau dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka secara terbatas. Pembelajaran secara tatap muka dapat menjadi obat bagi para siswa yang sudah mulai jenuh belajar secara virtual. Pembelajaran tatap muka lebih diminati siswa dikarenakan mereka dapat melakukan interaksi sosial dengan guru maupun dengan siswa – siswa lainnya.

Demi menjaga agar nilai – nilai sosial tetap terus terjaga maka untuk sekolah – sekolah yang daerahnya termasuk kategori zona kuning dan hijau, diharapkan dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka secara terbatas. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka ini tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, cuci tangan dengan sabun dan tidak lupa memakai masker.

Hal lain yang juga harus diperhatikan adalah pengaturan tempat duduk siswa di dalam kelas. Pengaturan tempat duduk harus memperhatikan ketentuan protokol kesehatan yaitu jarak satu sampai dua meter. Pemberian jarak ini dalam rangka upaya untuk meminimalisir terjadinya kerumunan siswa di dalam kelas. Kerumunan memang sebisa mungkin untuk dihindari demi menekan pelonjakan pasien positif Covid-19 utamanya di lingkungan sekolah

Penecegahan kerumunan dapat juga dilakukan dengan cara mengatur jadwal masuk para siswa. Para siswa harus masuk secara bergantian selama satu minggu. Pengaturan jadwal masuk dinilai cukup efektif guna menekan penularan virus Covid-19 di lingkungan sekolah. Pencegahan melalui cara ini berdampak pada berkurangnya pelajaran yang diterima oleh para siswa. Para siswa juga harus dipulangkan lebih awal dari jadwal semula. Pengurangan jam ini membuat para siswa kurang maksimal dalam belajar. Ilmu yang mereka peroleh pun seadanya, tetapi mereka mau tidak mau harus menyesuaikan dengan keadaan pandemi ini. Penanganan kesehatan lah yang harus diutamakan agar pandemi ini segera berlalu dari tanah air Indonesia, kegiatan belajar mengajar akan kembali normal seperti sedia kala. Langkah yang diambil ini juga merupakan guna mengurangi beban kerja para tenaga kesehatan yang sudah berjuang tanpa lelah.

Para siswa mengungkapkan bahwa terkadang mereka harus mengerjakan tugas yang berat. Tugas – tugas dari para guru terlampau banyak menurut mereka. Mereka merasa terbebani dengan hal tersebut. Walaupun menurut mereka cukup berat, mereka tetap mengerjakan tugas – tugas itu secara sunguh – sungguh.

Siswa juga mengeluhkan bahwa mereka sangat tidak nyaman dengan pembelajaran secara daring. Mereka merasa pembelajaran secara daring membosankan, karena mereka tidak bisa berinteraksi secara langsung baik dengan guru maupun dengan siswa lainnya. Padahal interaksi secara langsung ini cukup mempengaruhi tersampaikannya materi pembelajaran kepada siswa. Materi yang disampaikan langsung secara tatap muka akan lebih mudah dipahami siswa.

Pembelajaran secara daring juga dinilai kurang oleh siswa. Guru belum dapat membuat siswa bersemangat untuk belajar secara daring. Para siswa menilai guru hanya menjelaskan materi secara baku, tanpa ada inovasi yang menarik bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran secara daring.

Pemberian penghargaan bagi siswa yang rajin mengikuti kelas daring juga perlu. Hal ini akan menambah semangat siswa untuk mengikuti kelas secara daring. Pemberian penghargaan dapat berupa pujian dan nilai. Pemberian penghargaan ini akan menambah motivasi siswa dalam belajar online atau daring.

Siswa sangat berharap pembelajaran secara tatap muka ini dapat berlansung secara terus-menerus. Mereka sudah mulai disiplin untuk melaksanakan protokol kesehatan, dikarenakan mereka juga punya kepentingan untuk keberlangsungan program pembelajaran secara tatp muka. Mereka tidak ingin kembali lagi belajar secara online atau daring lagi. Mereka sudah jenuh dengan pemebelajaran secara daring. Semoga para pemangku kebijakan berkenan untuk tetap melanjutkan program pembelajaran secara tatap muka, karena program ini sangatlah diminati siswa.

Terlepas dari keinginan para siswa agar program pembelajaran tatap muka tetap dilanjutkan. Ada hal yang lebih penting, yaitu penanganan penyebaran virus Covid-19 ini. Seperti yang sudah diketahui jumlah pasien positif dari hari kehari semakin tinggi. Perlu ada upaya lebih dari pemerintah guna menekan jumlah pasien yang positif.

Sejauh ini upaya pemerintah sudah satu langkah lebih maju. Pemerintah sudah mendatangkan vaksin dalam jumlah yang banyak. Vaksin awal ditujukan untuk garda terdepan yang terlibat langsung dalam penanganan Covid-19 yaitu tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan memerlukan vaksin lebih awal karena merekalah ujung tombak dalam penanganan Covid-19 ini.

Setelah serangkaian kegiatan vaksinasi tersebut terselasaikan, masyarakat umum termasuk di dalamnya insan pendidikan berharap semua kegiatan kembali pulih seperti sedia kala. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dari sejumlah pihak agar vaksinasi tersebut berjalan lancar dan bisa terselesaikan di tahun 2022 ini. Sehingga kehidupan masyarakat kembali normal.

Sektor Pendidikan pada tahun 2022 diharapkan juga bisa kembali berjalan normal kembali dan siswa – siswa dapat berinteraksi sosial kembali dengan semua teman-teman dan para guru., sehingga para siswa dapat maksimal dalam menerima materi pembelajaran.

——— *** ———-

Rate this article!
Tags: