Ecoton Imbau Industri Perketat Olah Limbah

13-ecoton

Menjelang Musim Kemarau
Pemprov, Bhirawa
Memasuki musim kemarau akan terjadi pengurangan debit air sungai, pada musim penghujan debit air bisa mencapai 80 m3/det – 160 m3/detik. Tapi, pada musim kemarau debit air Kali Surabaya akan turun hingga dibawah 20 m3/detik, maka akan menurunkan kemampuan air sungai untuk menetralisir air limbah.
Menilik hal itu  Ecological Observation and Westland Conservation (Ecoton) menghimbau kepada industri untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dalam membuang limbahnya ke Kali Surabaya dan mengoptimalkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Dari pantauan kami masih ada beberapa perusahaan yang telah memiliki IPAL namun kadang tidak mengoperasionalkan sehingga air yang belum terolah terbuang ke Kali Surabaya. Apabila ketidak taatan ini dilakukan maka akan dipastikan akan terjadi dampak ekosistem seperi ikan mati massal di Kali Surabaya,” Ketua Ecoton, Prigi Arisandi, Senin (12/5).
Pencemaran Kali Surabaya selama ini berasal dari 90 lebih industri yang memberikan kontribusi 86% pencemaran di Kali Surabaya (14% berasal dari industri domestik) dari 86% limbah industry 98% berasal dari pabrik Kertas.
“Pada musim hujan sering kali industri menggelontorkan air limbah yang tidak diolah berbarengan dengan air hujan namun saat kemarau datang kesempatan itu langka,” kata Ketua Prigi Arisandi.
Menurutnya, terkait dengan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup yang diamatkan dalam UU PPLH 32/2009 maka Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah-Ecoton, sejak Januari 2014 menerima pengaduan masyarakat terkait pencemaran dan kerusakan sungai.
“Sarana Pengaduan ini kami beri nama Biro pengaduan pencemaran dan kerusakan sungai Ecoton berkerjasama dengan The Asia Foundation yang merupakan program pengendalian pencemaran dan reformasi penegakan hukum lingkungan di Indonesia,” ujarnya.
Sampai saat ini, lanjut Prigi, Ecoton telah menerima 20 pengaduan dari masyarakat. Pengaduan dari masyarakat ini selanjutnya akan dilakukan verifikasi dan kemudian pengambilan sampel air limbah dan analisis dampak ekologis yang disebabkan oleh sumber pencemaran.
Dari 20 kasus ini umumnya terjadi di Kali Surabaya. Pelanggaran-pelanggaran yang menyebabkan kerusakan sungai ini disebabkan lemahnya pengawasan dan upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan sungai oleh instansi pemerintah dalam hal ini juga sebagai pengelola Kali Surabaya.
Selain itu, masyarakat menjadi bagian kontributor kerusakan sungai karena didorong oleh tidak adanya ketegasan sikap pemerintah dalam penegakan hukum bagi pelaku pencemaran lingkungan maupun pelanggaran pemanfaatan bantaran sungai. “Realitasnya, pengendalian pencemaran sungai belum menjadi prioritas pemerintah,” katanya. [rac]

Tags: