Edukasi Tata Kelola Limbah Medis

Persoalan dan pengelolaan sampah di negeri ini serasa tidak mudah terselesaikan. Belum selesai urusan pengelolaan sampah umum terutama plastik, di masa pagebluk ini, justru persoalan sampah berupa limbah medis mejadi pekerjaan rumah yang terbilang pelik untuk diselesaikan. Logis adanya, jika pemerintah dan semua pihak perlu menaruh perhatian khusus terhadap persoalan limbah medis ini.

Berbagai solusi pengelolaan dan payung regulasi terkait limbah medis inipun rupanya terus diupayakan oleh pemerintah. Pasalnya, limbah medis ini jika terbiarkan akan perpotensi membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir, maka bisa dipastikan jumlah limbah medis akan terus mengalami peningkatan.

Merujuk dari rekapitulasi limbah medis selama pandemi Covid-19 di Indonesia tercatat mencapai 7.502,79 ton. Angka itu dihitung Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) sejak awal pandemi hingga data terakhir per 9 Februari 2021. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan program vaksinasi yang dilakukan pemerintah. Sebab, dari rencana 329, 5 juta dosis vaksin Covid-19 yang dipesan pemerintah, potensi timbulan limbah medis vaksin terprediksi mencapai 7.578.800 kilogram atau 7,578 ton, (Republika.co.id, 16/2/2021).

Pertambahan limbah medis tersebut, sejatinya tidak harus mengalami peningkatan, manakala setiap pribadi memiliki kesadaran dan kewajiban untuk menjaga lingkungan, sesuai yang teramatkan dalam UU Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu, persoalan limbah medis sejatinya bukanlah semata-mata harus terselesaikan secara terpusat. Mengingat, semua provinsi mempunyai alat pengolah limbah medis di daerahnya. Tepatnya, melalui konsep pengelolaan limbah medis berbasis wilayah sesuai amanat Permenkes No. 18/2020 tentang Pengelolaan Limbah Medis Fasyankes Berbasis Wilayah.

Berangkat dari kenyataan dan regulasi yang ada, maka untuk mengurai persoalan limbah medis ini, sekiranya perlu dihadirkan berbagai edukasi, sosialisasi dan tata kelola serta bahaya limbah medis kepada masyarakat. Selebihnya, semoga masalah limbah medis ini dapat dipahami bersama dan tidak menjadi persoalan baru ke depannya.

Gumoyo Mumpuni Ningsih
Pengajar Universitas Muhammadiyah Malang

Rate this article!
Tags: