Efek Gas Rumah Kaca Meningkat di Jatim

 Indra Wiragana

Indra Wiragana

(Industri masih jadi Penyebab Utama)
Pemprov Jatim, Bhirawa
Efek Gas Rumah Kaca (GRK) di Jatim diprediksikan semakin meningkat. Sektor energy dan industri menjadi pihak yang menyumbangkan faktor efek rumah kaca terbesar.
Dari hasil presentase Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim  emisi GRK 2011 naik sebesar 86,03 persen dari tahun 2010 dan kenaikan tahun 2012 sebesar 1.065,38 persen dari tahun 2011.
Emisi GRK terbesar dihasilkan dari sektor energi sebesar 99,78 persen, sektor proses industri dan penggunaan produk (IPPU), sektor AFOLU (agriculture, forest, and other land use), 0,06 persen, dan sektor limbah 0,02 persen.
GRK sektor energi terbesar dihasilkan dari kegiatan industri produksi energi, sedang terkecil dari limbah padat di TPA.
“Limbah padat kecil, diperkirakan penduduk Jatim banyak mengembangkan kegiatan 3 R (reduce, reuse, dan recycle), penerpaan bank sampah, hingga komposting,” kata Kepala BLH Jatim, Indra Wiragana SH, Selasa (22/4).
Sedangkan sektor IPPU berasal dari  empat jenis industri, yaitu industri semen, industri kapur, industri kimia, dan industri logam. Biasanya emisi GRK terbesar dari industri kapur. Sedangkan emisi GRK dari sektor AFLU terbagi menjadi tiga sektor lagi yaitu pertanian, peternakan, dan kehutanan.
Emisi GRK disektor pengelolaan limbah padat di TPA di 38 Kabupaten/Kota di Jatim menghasilkan emisi terkecil. Pada tahun 2011, peningkatan emisi GRK dari pengelolaan limbah pada di TPA 1,23 persen dari tahun 2010 dan tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 1,14 persen dari tahun 2011.
Peningkatan emisi GRK limbah padat ini sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk di Jatim. Pertumbuhan tahun 2011 sebesar 75 persen dan tahun 2012 sebesar 72 persen. Terbesar masih berasal dari Kota Surabaya yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Jatim tahun 2010-2012.
Sedangkan limbah cair domestik di Jatim berdasarkan jum,lah duduk pada tahun 2012 sebesar 28 juta orang, maka emisi yang dihasilkan pada tahun yang sama bisa mencapai 2585,67 Gg CH4.
Solusi pencegahan GRK lebih besar diantaranya melakukan pengelolaan sistem jaringan dan tata air, rehabilitasi hutan dab lahan, pemberantasan pembalakan liar, hingga pencegahan deforestasi dan pemberdayaan masyarakat. Apalagi, kawasan konservasi mangrove sangat baik dalam membantu penurunan emisi GRK ini.  [rac]

Tags: