Ekonomi Terdampak Virus

Trauma novel-corona virus, telah menggerogoti perekonomian global. Ditandai pelemahan bursa saham, dan menurunnya harga minyak. Tak terkecuali pasar modal Indonesia (dan rupiah) ditutup melemah. Produk konsumen, makanan dan minuman, pakaian, perhotelan dan pariwisata, akan mengalami penurunan tajam. Pulau dewata, Bali, memasuki “jeda” ke-wisata-an. Pemerintah China telah melarang agen perjalanan wisata menyelenggarakan tur ke luar negeri.
Penghentian ke-wisata-an China (ke seluruh negara di dunia) diumumkan sejak 27 Januari 2020, sebagai antisipasi merebaknya virus novel-corona. Turis China, menjadi kelompok terbesar kedua wisatawan ke Indonesia, di bawah Malaysia. Selama tiga tahun terakhir (2017 – 2019), rata-rata lebih dari 2 juta wisatawan asal China mengunjungi Indonesia. Tujuan utama ke Bali. Pemerintah China juga telah menutup seluruh kawasan wisata, tidak boleh dikunjungi wisatawan dari luar China.
Bisa jadi suasana ke-wisata-an akan mencekam, manakala suspect virus novel-corona ditemukan di propinsi lain. China sepi. Karena masa “inkubasi” virus corona diperkirakan sampai 10 hari mendatang (7 Pebruari). Tetapi seluruh negara telah menerbitkan travel warning ke China. Bahkan beberapa negara (Jepang, Amerika Serikat, dan Jerman) telah melakukan evakuasi warga negaranya di propinsi Hubei (terutama kota Wuhan).
Walau otoritas Kesehatan China memperkirakan virus corona akan mereda dengan datangnya musim panas. Juga diberitakan beberapa pasien suspect telah dinyatakan sembuh, dan keluar dari rumah sakit. Namun pernyataan pemerintah China belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran masyarakat sedunia. Hal itu mengingat pengalaman ke-wabah-an SARS yang mirip virus corona saat ini.
Virus corona asal China, sudah dua kali mewabah sampai melampaui lintas batas negara. Menular dari manusia ke manusia. Sebelumnya (tahun 2003) terdapat SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). Menghebohkan, karena pemerintah China terlambat melaporkan ke-wabah-an pada WHO. Juga terkesan menutup-nutupi kasus SARS, dilaporkan lebih sedikit dibanding realita. Bahkan di satu rumah sakit ditemukan kasus yang jumlahnya melebihi total suspect nasional. Sampai tenaga kesehatan banyak tertular.
Dalam hal virus novel-corona, Badan Kesehatan Dunia, WHO (World Health Organization), mengaku bersalah, karena tidak cepat tanggap. Dari markas WHO di Jenewa, dinyatakan, bahwa risiko yang disebabkan virus corona sangat tinggi. Risiko tinggi se-China, juga risiko pada tingkat regional, dan tinggi di tingkat global. Pernyataan resmi WHO, sebagai “perbaikan” analisis sehari sebelumnya, hanya darurat di China.
Realitanya, virus lebih cepat menular sampai lintas batas negara, dan lintas benua. Dengan penduduk sebanyak 1,4 milyar jiwa, China menjadi pasar terbesar seluruh komoditas. Banyak perusahaan dari seluruh dunia memasok sarana transportasi (otomotif) tekstil dan produk tekstil ke China. Juga komoditas bahan pangan, sandang, dan ke-wisata-an. Sehingga konsumsi rumahtangga di China memperngaruhi perekonomian global.
Indeks bursa saham di seluruh dunia turut was-awas terhadap mewabahnya virus novel-corona. Seluruh bursa saham kawasan Asia di transaksikan melemah. Indeks Kospi (Korea, terdekat China) melorot 3,09%. Serta indeks Straits Times (Singapura) anjlok 1,81%, dan Nikkei (Jepang) turun 0,55%. Bursa saham China dan Hongkong, malah masih libur Imlek selama sepekan (hingga akhir Januari). Kemungkinan libur diperpanjang karena waspada virus corona.
Di luar kawasan Asia, terjadi pula pelemahan pada Wall Street (Amerika Serikat). Meliputi indeks Dow Jones indeks S&P 500 (berisi 500 perusahaan terbesar di dunia). Juga indeks Nasdaq (khusus perusahaan elektronika). Begitu pula di Bursa Efek Jakarta, “lampu kuning.” Diharapkan suasana di bursa saham segera berangsur pulih, setelah berbagai negara meng-antisipasi penyebaran virus.
——— 000 ———

Rate this article!
Ekonomi Terdampak Virus,5 / 5 ( 1votes )
Tags: