Etika Polemik Kalung Anticorona

Oleh :
Gumoyo Mumpuni Ningsih
Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang

Akhir-akhir ini publik nusantara tengah di bikin tercengang, heran sekaligus bingung soal adanya kalung anticorona, yang notabenenya adalah produk Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan). Adanya, informasi soal kalung anticorona ini telah membuat situasi kontraproduktif. Bagaimana tidak? Di saat berbagai pihak bahu membahu harus berkolaborasi membangkitkan semangat dan bekerja keras menangani Covid-19.
Malah justru yang terjadi perhatian publik seolah dipaksa bergeser ke polemik kalung yang datang tiba-tiba dan masih misterius soal keampuhannya. Pencaya dan tidak percaya, antara kabar baik dan buruk. Lantaran obat anti corona berbentuk kalung tersebut dipromosikan langsung oleh Mentan. Sehingga ada yang mempersepsikannya sebagai jimat. Alhasil, informasi kalung antivirus corona yang dikampanyekan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, kini menjadi viral alias trending, bahkan polemik di tengah- tengah masyarakat.

Urgensi uji klinis kalung anticorona
Produk yang notabenenya berbasis tanaman atsiri atau kayu putih (eucalyptus) yang dikemas dalam bentuk kalung itu bakal diproduksi dalam jumlah banyak. Lebih tepatnya, Kementerian Pertanian berencana memproduksi massal kalung antivirus corona berbahan eucalyptus pada bulan Agustus mendatang. Berbagai respons muncul. Sebagian besar menyampaikan kritik dan mempertanyakan klaim antivirus corona yang dilakukan Kementan.
Mengklaim suatu produk sebagai antivirus corona di saat wabah Covid-19 dinilai harus melalui uji klinis terlebih dahulu. Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo meyebut bahwa produk ini telah melalui uji lab peneliti pertanian terhadap virus influenza, beta, dan gamma corona. Selain itu, kelebihan dari kalung tersebut dikatakan dapat mematikan Corona dengan kontak. Kontak 15 menit bisa membunuh 42 persen Corona, dan semakin lama maka lebih banyak yang tereliminasi.
Melalui berbagai studi dikatakan, obat ini hanya cukup 5-15 menit diinhalasi akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya dengan konsentrasi 1 persen saja sudah cukup membunuh virus 80-100%. Bahan aktif utamanya, terdapat pada cineol-1,8 yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme M pro. M pro adalah main protease (3CLPro) dari virus corona yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus corona.
Penelitian menunjukkan Eucalyptol ini berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut dapat terjadi karena 1,8 cineol dari eucalyptus disebut eucalyptol dapat berinteraksi dengan transient receptor potential ion chanel yang terletak di saluran pernapasan. Selajutnya, anti virus’ ini sebelumnya diklaim telah memperoleh hak paten. Antara lain Formula Aromatik Antivirus Berbasis Minyak Eucalyptus, Ramuan Inhaler Antivirus Berbasis Eucalyptus dan Proses Pembuatannya, serta Ramuan Serbuk Nanoenkapsulat Antivirus Berbasis Eucalyptus. Segala klaim yang dilontarkan oleh Menteri SYL lekas menuai tanda tanya dari berbagai pihak.
Belum tersedianya obat spesifik dan vaksin, menjadikan COVID-19 sulit dikendalikan dan momok menakutkan. Wajar adanya, jika sampai saat ini banyak negara yang berinvestasi besar-besaran pada riset COVID-19 termasuk riset obat dan vaksin. Meski riset besar sedang dilakukan, kesimpulan vaksin dan obat spesifik yang dapat digunakan untuk melawan virus corona hingga kini masih sangat minim di pasaran. Terakhir, remdesivir yang sebelumnya sempat dipakai untuk penanganan Ebola kemungkinan menunjukkan hasil baik. Kita perlu menunggu rilis laporan hasil risetnya secara utuh.

Nilai positif dari kalung anticorona
Sejatinya, sebuah riset perlu dilakukan dengan keakuratan data, hipotesis ilmiah, hingga akhirnya hasil riset baru bisa di informasikan ke khalayak publik. Namun, tidak seperti kasus informasi tentang hasil riset dari kalung anticorona ini. Hasilnya, belum final justru yang terjadi malah terjadi kebocoran informasi, sehingga yang terjadi saat ini banyak cemoohan dan bully di tengah publik.
Artinya, saat riset yang memiliki potensi besar dan realistis itu belum mencapai kesimpulan akhir, setidaknya jangan disebar ke media massa yang berprospek dibaca jutaan orang. Jadinya, iya seperti riset kalung Eucalyptus atau tanaman kayu putih dari lembaga riset Kementerian Pertanian yang mengklaim bisa menjadi “antivirus” untuk melawan virus corona. Memang ada hasil penelitian yang menunjukkan potensi dari senyawa yang terkandung dalam tanaman tersebut.
Namun, perlu dicermati secara lebih teliti bahwa riset tersebut masih dalam tahap penelitian berbasis analisis komputer (in silico). Artinya masih jauh dari penggunaan produk jadi yang layak dan terbukti bermanfaat untuk digunakan untuk manusia. Masalahnya, lembaga ini sudah memproduksi dan melakukan publikasi melalui media massa, seolah-olah Eucalyptus ini benar-benar dapat menjadi antivirus untuk penanganan covid-19. Nilai positif yang bisa kita ambil dari adanya kalung anticorona.
Pertama, setidaknya, belajar dari penyebarluasan informasi riset sementara dari kalung anticorona inilah kita bisa mengabil hikmahnya bahwa kalau hasil riset masih belum final jangan di publikasikan.
Kedua, intinya, yang penting buat kalung anticorona adalah kalau itu membuat secara psikologis dan mentality itu percaya dan yakin ya, imunnya naik menghadapi situasi covid-19. Artinya, lagi, di tengah covid-19 bukan sekadar badan sehat saja, tapi mental harus sehat. Imunitas sangat penting di tengah pandemi COVID-19.
Ketiga, sebenarnya bukan soal kalung antivirus ini ilmiah atau bukan, tapi dirasa heran kenapa bangsa Indonesia tidak bebas dari belenggu rasa minder terhadap asing. Bisa jadi inovasi yang dilakukan Kementan dengan membuat kalung antivirus adalah sebuah ikhtiar kebaikan.
Belajar dari ikhtiar yang dilakukan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, setidaknya kita beri apresiasi bersama. Apalagi, hingga saat ini, banyak negara yang berlomba-lomba menemukan antivirus corona, begitupun di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) terus mencoba mencari cara dan menemukan obat untuk mencegah serta menangani virus corona (Covid-19) yang masih mewabah di Indonesia. Jadi, adanya kalung anticorona ini, kita ambil nilai positifnya saja. Di tengah situasi pandemi saat ini yang kita butuhkan adalah saling memahami, bukan saling memojokkan apalagi membully. Kita semua harus bersatu saling support demi kebaikan bangsa dan negeri ini.

———— *** ————–

Rate this article!
Tags: