Evaluasi 2014, Tim Patroli Air Panggil 21 Industri

limbahPemprov Jatim, Bhirawa
Masih banyak industry yang membuang limbah sembarangan di sepanjang  Daerah Aliran Sungai(DAS) Kali Brantas. Sebagai evaluasi kinerja tahun 2014, Tim Patroli Air Terpadu Jawa Timur memanggil 21 perusahaan yang kerap membuang limbah cair di Kali Surabaya yang merupakan bagian dari DAS Brantas.
Koordinator Tim Patroli Air Terpadu Jatim, Imam Rochani mengatakan, berdasarkan  data,  industri yang diundang tim patroli karena terindikasi membuang limbah berbahaya di Kali Surabaya sebanyak 30 industri. Sayangnya dalam acara evaluasi  Rabu(17/12) yang hadir hanya 21 industri saja.
“Adanya evaluasi itu, disampai daftar beberapa industri yang telah terjaring inspeksi yang dilakukan tim patroli selama setahun. Hal itu disertai dengan pembinaan agar ada perbaikan ke depannya,” kata Imam Rochani yang menginginkan adanya komitmen industri dalam kepedulian terhadap lingkungan hidup ini, Rabu (17/12).
Imam mengharapkan, adanya evaluasi itu maka industri bisa segera menindaklanjuti saran tim yang disampaikan melalui paparan. “Sebenarnya banyak industri yang beroperasi di Jatim belum punya IPLC (izin pembuangan limbah cair), hasilnya mereka tetap membuang limbah. Bahkan ada juga yang punya izin tapi pengolahan limbahnya jelek,” tandasnya.
Dari hasil evaluasi tersebut, juga diketahui kalau tidak semua industri yang hadir memiliki kinerja lingkungan yang buruk. Ada beberapa industri yang kini telah melakukan perbaikan cukup signifikan dengan membangun IPAL (instalasi pengolahan air limbah) sesuai standar.
Sedangkan Koordinator Garda Lingkungan Jatim, Didik Harimuko mengatakan, fokus pengawasan tim setahun terakhir yakni limbah B3 (bahan berbahaya beracun). Sebab diketahui, kalau ada beberapa industri yang membuang limbah B3 padat menggunakan truk yang tidak manifest dan standar pengelolaanya.
“Bahkan ada yang digunakan menguruk lahan sekolah seperti pabrik MW di wilayah Gresik,” jelasnya.
Selain itu, peran BLH Kab/Kota juga ditekanan agar lebih proaktif melakukan pembinaan dan pengawasan. Ia memisalkan BLH Gresik yang kurang kooperatif membantu kinerja tim patroli. “Evaluasi ini jadi bahan perbaikan kinerja tim dan industri agar tingkat pencemaran di Kali Surabaya bisa lebih ditekan,” ujarnya.
Sementara, Kasubid Wasdal Pencemaran Air BLH Jatim, Ainul Huri mengatakan, industri yang sulit melakukan perbaikan rata-rata dari sektor UKM (usaha kecil menengah) seperti pabrik tahu dan rumah potong ayam.
“UKM sebenarnya juga binaan dari Disperindag. Kalau memang UKM digalakkan tapi kinerja lingkungannya buruk ya tetap saja tidak baik. Untuk itu kedepannya ada perhatian lebih terhadap UKM untuk bisa mengelola dan mengolah limbahnya,” katanya. [rac]

Tags: