Faktor Cuaca dan Dampak Pandemi, Produktivitas Mangga Alpukat Turun di Pasuruan

Salah satu petani mangga di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Pasuruan, Bhirawa
Para petani mangga gadung klone 21 (arumanis) atau yang dikenal dengan sebutan mangga alpukat di wilayah Kabupaten Pasuruan mulai panen raya. Namun, produktivitas mangga yang dihasilkan pada musim ini menurun hingga 40 persen dibandingkan musim mangga tahun lalu. Faktornya adalah cuaca dan dampak pandemi Covid-19.

“Tahun ini produktivitas mangga asli Kabupaten Pasuruan turun hingga di angka 40 persen dibandingkan tahun kemarin. Penyebabnya adalah cuaca karena sudah musim penghujan dan secara otomatis membawa lalat buah yang bisa merusak kualitas buah mangga,” ujar Sugiono, petani mangga di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Minggu (18/10).

Menurut Sugiono, menurunnya produktivitas mangga di musim ini begitu terasa. Tahun lalu, dari 3 hektar kebun miliknya, mangga yang dihasilkan bisa mencapai 2 ton. Kini maksimal hanya bisa 1,2 ton per hari. “Apabila sudah seperti ini, biaya perawatan mangga bisa melonjak tajam. Tapi kalau kemarau, mangga akan berkembang sangat bagus,” papar Sugiono.

Tak hanya cuaca, pandemi Covid-19 yang berkepanjangan juga sangat berpengaruh terhadap biaya perawatan maupun bantuan dari pemerintah. Biaya perawatan pohon mangga mengalami peningkatan cukup ekstra. Sedangkan bantuan yang biasanya digulirkan oleh pemerintah, dialihkan untuk kebutuhan penanganan penyebaran virus corona.[hil]

Tags: