Fatamorgana Prestasi Olahraga di Pentas PON

Oleh :
Wahyu Kuncoro SN
Wartawan Harian Bhirawa

Ajang pentas olahraga tingkat nasional yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) segera dimulai. Pesta olahraga empat tahunan yang ke – XX ini secara resmi akan berlangsung di Papua tanggal 2 – 14 Oktober 2021. Seperti biasanya, beberapa cabang olahraga sudah dipertandingkan di luar jadwal resmi tersebut.

Menilik sejarahnya, pada penyelenggaraan PON pertama kali di Solo tahun 1948, pemerintah memutuskan menggelar PON dengan semangat membangun persatuan di dalam masyarakat Indonesia sendiri, sekaligus sebagai bagian dari deklarasi kedaulatan Indonesia di mata internasional. Perjuangan di balik terselenggaranya PON I sesungguhnya juga sangat berliku.

Awalnya, pemerintah berusaha memasukkan Indonesia sebagai salah satu peserta di Olimpiade London 1948. Permintaan ini ditolak oleh Komite Olimpiade karena Indonesia belum terdaftar sebagai anggota PBB. Namun Indonesia tetap diundang sebagai peninjau. Meskipun demikian, delegasi Merah-Putih batal berangkat karena dipaksa pemerintah Kolonial untuk menggunakan paspor Belanda. Sebagai jawaban atas blokade Belanda ini, pemerintah pun berinisiatif membuat pesta olahraga sendiri di dalam negeri pada 9-12 September yang kemudian dikenal sebagai Pekan Olahraga Nasional I.

Dalam setiap penyelenggaraannya, PON dipahami sebagai ajang pembuktian atlet-atlet daerah agar bisa dilirik untuk masuk ke pemusatan latihan nasional (Pelatnas). Di wilayah lain, penyelenggaraan PON bagi tuan rumah juga kerap dijadikan prestise sekaligus media promosi berbagai potensi daerah, terutama dari segi pariwisata.

Seiring berjalannya waktu, penyelenggaraan PON yang seharusnya menjadi etalase hasil pembinaan atlet daerah berubah menjadi ajang kompetisi antar daerah untuk mendapatkan atlet berkualitas tanpa harus repot-repot melakukan pembinaan. Daerah daerah kaya yang secara ekonomi relatif dengan mudah untuk ‘membajak’ bibit bibit atlet berkualitas dari daerah lain dengan iming-iming bonus ratusan juta rupiah dan bahkan mungkin miliaran.

Mengharumkan nama daerah tentu saja merupakan misi mulia, namun jika dilakukan dengan berbagai cara, tentu saja membuat pembinaan dan pengembangan olahraga menjadi tidak sehat. Ketidaksabaran membina atlet-atlet inilah yang acap membuat pemerintah daerah memilih jalur instan dengan membeli atlet nasional untuk mendulang pundi-pundi emas. Imbasnya, pembinaan atlet olahraga tidak lagi menjadi tujuan. Tetapi meraih prestise dan kebanggaan menjadi lebih dikedepankan. Sehingga implikasinya, beberapa daerah pun berlomba untuk berprestasi dengan cara meraih medali sebanyak-banyak. Menggapai medali tanpa perlu direpotkan oleh pembinaan atlet muda.

Bukan itu saja, demi prestise yang ingin diraih penyelenggara (baca : tuan rumah) acap berbagai ‘strategi’ dilakukan demi membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan medali. Penentuan jenis cabor yang dipertandingkan acap menjadi cara untuk mendulang medali dan atau menjegal daerah lain mendapatkan medali. Lantaran itu, kalau kemudian yang lebih mengedepan dalam penyelenggaraan PON adalah sekadar mendulang medali sebanyak-banyaknya, tanpa memedulikan bagaimana proses pembibitan dan pembinaan atlet di daerah, maka prestasi yang diraih tak lebih hanya sekadar fatamorgana. Yakni seolah olah daerah berhasil dan meraih prestasi mengembangkan dan membina olahraga, namun sesungguhnya adalah keropos.

Selanjutnya Bagaimana?

PON secara tradisi selain bertujuan untuk mempererat hubungan persaudaraan dan memupuk persatuan di antara sesama bangsa Indonesia, mempertinggi daya tahan nasional sesungguhnya juga merupakan titik kulminasi dari semua kegiatan olahraga di Tanah Air. Sejak PON VIII tahun 1973 di Jakarta, paradigma PON diubah dengan fokus orientasi pada peningkatan prestasi olahraga. Sejak itu, istilah yang dikenal adalah sebutan PON Prestasi.

Sungguh tidak ada yang salah dengan prestasi dalam PON. Prestasi merupakan faktor penting yang memberikan tantangan dalam olahraga. Justru prestasi itulah salah satu tolok ukur keberhasilan, tanpa prestasi olahraga kehilangan daya tariknya. PON sebagai wadah pembinaan prestasi dirasakan masih tepat, terutama dalam kondisi prestasi olahraga nasional yang amat memprihatinkan. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa prestasi atau kemenangan bukanlah segala-galanya.

Prestasi yang diraih melalui perjuangan yang tidak jujur dan licik akan merusak citra dan nilai-nilai luhur olahraga. Apabila ini dibiarkan dan ditoleransi, akan memberikan pendidikan bangsa yang tidak baik. Olahraga akan kehilangan rohnya sebagai alat pendidikan dan pembentukan karakter bangsa yang terbaik.

Demikian pula halnya dalam PON, apakah penyelenggaraan PON hanya diorientasikan pada prestasi atau kemenangan dengan mengumpulkan medali sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan segala cara? Apakah ambisi primordial yang mana daerah peserta dalam PON berlomba- lomba untuk merebut prestasi dengan segala cara yang tidak terpuji. Apakah kita menoleransi cara-cara yang tidak fair, hanya ingin memperoleh medali dan mencari peringkat juara umum demi kebanggaan daerah?

Pengamatan selama ini, masih sering terjadi cara-cara yang kurang terpuji, seperti pembajakan pemain dengan membeli pemain dari daerah lain tanpa memerhatikan etika dan peraturan yang berlaku. Praktik jual beli atlet sudah sering terjadi dan menjadi tren ketika menjelang event akbar, seperti PON, demi gengsi dan prestise daerah yang kental dengan nuansa politis.

Memang praktik jual beli atau perpindahan atlet tidak dilarang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (Pasal 59), selama dalam rangka pembinaan dan pengembangan olahragawan dan dilakukan dengan etika serta peraturan yang berlaku, termasuk peraturan yang disepakati dalam cabang olahraga tertentu.

Memaknai Fair Play
.
Secara umum, upaya untuk meraih kemenangan hanya mengandalkan beli pemain dari daerah lain tanpa dibarengi dengan proses pembinaan yang baik sejatinya kurang etis dan akan merugikan prestasi itu secara keseluruhan. Bisa jadi, olahragawan yang pindah daerah tertentu tidak dapat latihan dengan baik karena mungkin tidak tersedianya pelatih, prasarana dan sarana latihan, atau bisa jadi olahragawan tersebut kurang diterima dengan baik oleh para atlet daerah setempat karena dianggap pesaing baru, (Toho Cholik: 2008).

Demikian pula cara-cara yang tidak terpuji lain apabila dilakukan, seperti doping, atau tindakan yang tidak sportif, antara lain main sabun, main licik, sesungguhnya bertentangan dengan perjuangan untuk memperoleh kemenangan atau prestasi dengan cara fair play. Oleh karena itu, PON yang hanya diorientasikan pada prestasi semata harus dikoreksi dan diluruskan dengan paradigma baru yang meletakkan semangat olahraga sejati, yaitu fair play sama pentingnya dengan prestasi itu sendiri.

Perlu diingat, semboyan tercepat (citius), tertinggi (altius), dan terkuat (fortius) yang digelorakan Gerakan Olimpiade modern yang ditegaskan Pierre de Coubertin hendaknya tidak diartikan secara harfiah dalam arti fisik, tetapi bermakna filosofis yang menekankan nilai-nilai agar seseorang melalui olahraga akan terbina karakter dan moralnya sehingga lebih mulia, luhur, dan terpuji.

Tampaknya, fair play ini masih belum tersosialisasi apalagi terimplementasi dengan baik dalam dunia olahraga Indonesia, termasuk dalam PON. Hal ini mungkin disebabkan antara lain tidak jelas dan sulitnya mengukur dan menentukan indikator bagi atlet atau tim yang bermain fair dalam olahraga yang antara satu dan lain memiliki karakteristik yang berbeda juga kemungkinan memiliki cara dan prosedur yang bervariasi.

Pertanyaan yang muncul, apakah PON hanya terfokus pada ukuran pencapaian prestasi dan/ atau perkembangan ekonomi? Bagaimana halnya dengan manfaat dan dampak PON terhadap perkembangan nilai-nilai hakiki olahraga, yaitu kejujuran atau fair play? Masalah fair play ini merupakan inti dan roh dari olahraga, khususnya dalam pekan olahraga seperti PON.

Oleh karena itu, patut untuk dipertimbangkan agar paradigma PON tidak hanya diorientasikan pada prestasi, tetapi ditambahkan unsur fair play. Dengan demikian, penyelenggaraan PON mencerminkan semangat olahragawan sejati serta akan lebih bermakna sebagai alat pendidikan bangsa dan wadah pembinaan karakter bangsa.

Wallahu’alam Bhis-shawwab

——— *** ———-

Tags: