Fogging Tak Mampu Hentikan Wabah DB di Nganjuk

6-foto B ris-fogingNganjuk, Bhirawa
Lingkungan yang kurang sehat berakibat penyebaran demam berdarah (DB) terus meluas. Terbukti, meski telah dilakukan fogging atau pengasapan di Dusun Plosorejo Desa Kepanjen Kecamatan Pace yang merupakan daerah endemi, para korban penyakit yang disebarkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti itu terus berjatuhan.
Bahkan Valentino (10) anak Warsidi perangkat Dusun Plosorejo Desa Kepanjen kritis dan harus dirawat di Intensive Care Unit (ICU) RS Nganjuk setelah mengalami muntah-muntah dan mimisan. Selain Valentino, kemarin ada dua anak lagi asal Plosorejo, yakni kakak beradik Romi (12) dan Salsabila (10) juga dirawat di Ruang Anggrek RSUD Nganjuk. Sementara beberapa anak yang mengalami gejala penyakit DB memilih rawat jalan.
Kholid Mawardi (40) yang juga warga Dusun Plosorejo anak perempuannya yang bernama Annida Amalia Yusnia (12) pulang sekolah mengeluh panas tinggi dan pusing-pusing serta mual. Meskipun tidak tampak bintik-bintik merah di kulitnya, Annida tetap dilarikan ke UGD RS Nganjuk. Karena dianggap belum serius, pihak rumah sakit meminta Kholid untuk merawat anaknya di rumah saja. “Trombositnya turun, tapi sedikit. Dari 150 ke 146.” Kata Kholid menirukan penjelasan tim medis RS Nganjuk saat itu.
Kholid Mawardi juga mengaku bila sebelumnya petugas Dinkes Pemkab Nganjuk telah melakukan fogging. Namun fogging dilakukan tidak sampai masuk rumah, hanya lewat di jalan sambil menumpang mobil pikc up. “Nyemprotnya dari atas mobil sambil jalan,” ujarnya.
Sementara untuk mencegah wabah DB semakin meluas, Kholid Mawardi dan warga lainnya kemarin pakai cara manual, yakni dengan menguras bak mandi dan ember tempat penimbunan air, serta sumur di rumahnya.
Sementara pihak RS Nganjuk mengakui ada pasien DB yang masih dirawat di di ruang ICU. Humas RS Nganjuk Eko Santoso, mengatakan, selain Valentino yang memang dinyatakan positif demam berdarah, di ICU kemarin juga ada satu pasien anak-anak yang juga terserang deman berdarah, asal Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk.
Sedangkan di ruang Anggrek, enam pasien anak-anak diduga juga terserang DB. Dua di antaranya adalah warga Dusun Plosorejo. Namun karena masih gejala awal, maka tim medis belum membuat kesimpulan bahwa pasien-pasien tersebut sudah positif terjangkit DB. “Observasi deman berdarah memang butuh berhari-hari,” ujarnya.
Keberadaan sejumlah DB di RS Nganjuk, disebut Eko Santoso belum sampai pada taraf kejadian luar biasa (KLB). Sedangkan sakit DB yang menimpa belasan anak di Dusun Plosorejo, menurut Eko Santoso bisa jadi karena ada sumber bibit penyakit demam di kampung setempat, seperti timbunan air atau sanitasi yang kurang sehat.”Harus diperiksa langsung secara teliti untuk memastikan wabah DB yang menyerang suatu daerah,” tukas Eko. [ris]

Keterangan Foto : Petugas Dinkes Pemkab Nganjuk melakukan fogging di daerah endemi DB Dusun Plosorejo Desa Kepanjen Kecamatan Pace.(ristika/bhirawa)

Tags: